Isi kepalamu tersangkut kabel listrik negara.

Isi kepalamu tersangkut kabel listrik negara.

Ruwet.
Perasaanmu tertinggal di kamar, bersama abu rokok dari asbak yang selalu tumpah; terhambur di sekitar tempat tidur.
Padahal kita belum sempat melakukan apa-apa.

Aku pernah ingin menggelar semua perasaanku padamu di trotoar
Menumpahkan apa yang tersisa, tersembunyikan dan membiarkan diinjak orang-orang yang lalulalang.

Misalkan aku bisa memahami raut muka pengemis, anak kecil yang mendorong kereta sampah, atau perempuan muda linglung yang ditinggal kekasihnya saat hamil; mereka menumpahkan hidupnya di jalanan.

Dan kita lalulalang bersama isi pikiran kita sendiri, menghalau macet dengan mencari jalan-jalan tikus di antara jalan protokol. Masuk ke gang-gang kecil, membelit isi kepala serumit jaringan kabel listrik dan kabel telfon yang malangsungsang tak karuan; menyambungkan aliran listrik dari satu rumah ke rumah yang lain, tanpa pernah bisa memahami kesedihan setiap keluarga dari satu rumah ke rumah yang lain:

Ada istri yang setiap hari dipaksa melakukan hubungan seks oleh suaminya, ada anak kecil yang menyimpan rapat-rapat monster dalam tubuhnya karena sejak lama kehilangan ayahnya dan kasih ibu mesti tak sempurna jejak-jejak laki-laki yang ia bayangkan sebagai ayahnya. Anak kecil itu melihat ibunya adalah sejenis mahluk yang tidak layak dicintai apalagi jika cinta, impian, keintiman baginya selalu dekat dengan sesuatu yang telah hilang: Ayahnya.

Aku ingin tersambung dengan isi kepalamu yang serumit kabel listrik negara.
Aku ingin melupakan setiap kesedihan yang disembunyikan di dalam setiap rumah yang aku lewati.
Aku ingin menata pikiranku agar kau siap jika suatu saat ia mesti tumpah di pinggir trotoar.
Aku ingin lahir kembali bukan dari rahim ibu dan dekap mesra ayahku.
Aku ingin lahir dari sambungan kabel listrik antar rumah warga kota.
Jalinan kabel yang menjulur, tersambung, tersangkut, ruwet, kadang putus ditimpa dahan pohon tumbang saat badai datang.

Aku ingin mengetuk pintu kamarmu lewat aliran listrik dari rumah di komplek perumahanmu.
Datang setelah melalu berbagai sambungan dan masuk dalam rumah-rumah orang yang tak kukenal.
Agar aku tunai melihat kesedihan yang disembunyikan rapat-darapat dalam setiap rumah di kota ini. Baru setelah itu aku akan sampai di dalam kamarmu.

Menemukan:

Perasaanmu yang tertinggal di kamar, bersama abu rokok dari asbak yang selalu tumpah; terhambur di sekitar tempat tidur.

Padahal kita belum sempat melakukan apa-apa. Dan tubuhmu telah tiada.

Advertisements

jumat agung, rabu abu, kamis putih. tidak ada jadwal untuk insiden-insiden yang berpotensi mencelakaimu

2017 dibuka dengan 5 menit transaksi
2 menit janji, (bertemu tanpa basa basi)
40 menit tuntas birahi.
Lalu kau pergi. danAkutersesat (12 bulan)
sampai sekarang sudah Desember
: hasratMu memang tak kenal waktu
dan kau tak menemukan tubuh yang disayat stigmata nenek moyangmu
Januari akan dimulai: berarti kau boleh mengulangi
sudah beruntung bisa merasakan tahun ini, Continue reading

Emosi, Kolonisasi, dan Sirkulasi Warna Kulit Lintas Benua

66025_4553570429962_987491947_n.jpg

Menjadi putih seolah impian setiap orang yang kini dengan mudah dapat tercapai sebab menjamurnya produk perawatan kecantikan. Fenomena tersebut bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Keinginan menjadi putih mempunyai jejak historis yang panjang, dari masa prakolonial, kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga hari ini. Buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (Marjin Kiri, Juli 2017) karya L. Ayu Saraswati menyajikan pelacakan historis-genealogis atas beredarnya imaji tentang warna kulit putih, yang serempak diikuti keinginan untuk mengubah warna kulit.

1*0EYsxOnPzezbsJd9D3IUdA.jpegBertolak dari pengandaian bahwa; narasi sejarah diuntai melalui rasa. Narasi sejarah kolonialisme dan perbudakan bisa memicu amarah kita; kisah-kisah kebebasan dan kemerdekaan dapat membangkitkan keberanian dan harapan kita.  Bertolak dari asumsi tersebut, Ayu (hlm.24) kemudian mengajukan pertanyaan: bagaimanakah afek ikut membentuk sejarah? Pertanyaan itu menjadi dasar analisisnya melacak proses sirkulasi warna kulit, ras, dan kecantikan. Continue reading