Ibu: Harap tenang sedang ada yang terjatuh

                           …………………………………-seorang anak sedang berlari-

 

…………………………………………..mencari………………………ibu yang terjatuh

tapi drama sudah selesai.

………………………………….dan panggung sudah dibongkar.

 

—————————————–lampu dimatikan

 

 

———————————————gelap.

Kota ini tentram. Tidak ada bahaya yang mengancammu. Misalkan kamu terbangun di tengah malam, tidak akan ada suara apa-apa. Mimpi-mimpi masih jadi bagian paling menyebalkan yang bisa dilakukan mahluk yang berjalan tegap, berkaki dua, dan bisa meneteskan air mata. Terasing dari bising dan kepalamu rasanya mau pecah. Apa yang diingini bayi yang baru bisa merangkak? Wajahmu bisa masuk dalam secangkir kopi, dan ketika pelayan perempuan itu datang kepadamu :

” Mau memesan apa”
” Bagian yang tidak ada dalam mimpi, dan paling pahit dari kenyataan”

Tidak semua bisa diajak bicara tentang puisi-puisi atau cerita-cerita menarik, misalnya. Merapikan ikat pinggang, menegapkan badan dan berjalan pelan. Bau tembakau menempel dibajumu. tidak mencari orang untuk bicara tentang puisi atau mimpi, hanya siapa yang berani menyimpan bagian paling pahit dari kenyataan.

Orang-orang lalu lalang. lalu. lalu. Ibumu pernah ingin tidur disampingmu, meraba umurmu yang mulai beranjak. Kau jadi amat cerdas untuk mencari alasan untuk tidak tersenyum. Lalu lalang. lalu kau tidak pernah tahu ibumu siapa, kau dilahirkan dari mimpi yang tak pernah dicatat para perawi.

Oh..burden…burden.. burden

merindukan dunia yang penuh bahaya. menapaki jejak-jejak seorang yang pernah diseret ketika malam tiba dan tak menangis untuk kesedihan-kesedihannya. Tidak ada air mata untuk kesedihan. Kini saatnya merayakan nasib seorang bocah yang terlanjur naik di atas panggung dan terjatuh sebelum lakon selesai.

memesan segelas air dingin. gelas kaca mengembun, dulu waktu pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ketika kamu di Sekolah Dasar gurumu pernah mengajarkan tentang proses pengembunan. Gelas berisi air dingin yang mengeluarkan titik-titik air. Kau tau itu proses kimiawi akibat perbedaan suhu cairan dan suhu ruang. Kini apakah penjelasan macam itu bisa kau pahami, saat titik-titik gelas itu kau lihat kepalamu tidak tahu lagi tentang proses kimiawi.

” Gelas itu seperti manusia ya”

kembalilah dan berhenti mengejar bayang-bayang. seperti mahluk-mahluk dungu yang tidak bisa membaca isarat. Di jendela burung gereja segera terbang dan itu bukan isarat yang harus ditafsirkan.

kau muda dan bangun dalam kelelahan-kelelahan . masih sempat juga bicara tentang buku-buku filsafat, atau kumpulan-kumpulan cerita yang menghibur. apa kau tidak capek?

kenapa tidak menyapa isarat-isarat yang datang kepadamu? mengulung mimpi dalam selimut dan kakimu selalu kedinginan. Ini kota memang dirangkai dari gigil-gigil singkat . segera rapikan segalanya, dan beranjak,

 

Kesedihan Kontemporer

fullsizeoutput_d0

Setelah menghabiskan teh dengan sedikit terburu-buru perempuan itu tidak jadi masuk kantor. Sebagai pramusaji di sebuah cafe kecil di pinggir kota pekerjaan itu begitu ia nikmati. Sesekali masih bisa melihat beberapa lelaki yang mampir ke kedainya. Menghitung berapa prosentase yang membuatnya mungkin pantas berkenalan dengan seorang laki-laki yang memesan Cappucino
. Hidupnya tinggal soal hitung-menghitung kemungkinan-kemungkinan yang dalam bayangannya akan membuat segalanya lebih baik.

Yang ini mungkin…ah yang itu tidak mungkin…ahhh yang dipojok sana lebih menarik…ah tapi itu tidak mungkin. Isi kepalanya dari waktu ke waktu kusut, berbelit-belit.

Seorang menghampirinya tapi ia masih sibuk dengan seorang lagi di ujung sana yang tak menghampirinya, atau kecil sekali prosentase untuk menghampirinya. Dan dalam kisah ini perempuan itu bukan tokoh utama, jadi kita biarkan saja ia sibuk dengan taksiran, dan hitungan yang mungkin ia buat sendiri, atau memang hidupnya tinggal soal hitung-menghitung. Membayangkan angka-angka bisa begitu sempurna sementara ia hanya pramusaji di sebuah cafe pinggir kota, dan di sini ia bukan tokoh utama

Continue reading