Bertuhan Di Ujung Batas Sepi

(Ringkasan dan Tanggapan atas BAB 2 Filsafat Agama Einstein, karya Max Jammer)

Dia yang berilmu dan berseni
Maka dia pun beragama
Tapi dia yang tak berilmu maupun berseni
Maka baiklah jika dia beragama!
__Sigmund Freud___

Para ahli fisika berkumpul di sebuah ruangan yang berada dalam sebuah gedung besar. Pagi itu di luar salju turun ragu-ragu, awal musim dingin mulai datang, lamban. Kebanyakan orang memilih berlindung di balik selimut, cuaca awal musim selalu disambut dengan kemalasan. Tapi tidak dengan para ahli fisika itu, mereka berdebat, berdiskusi, sementara salju turun lamban tapi pasti di luar ruangan.

Peristiwa tersebut terjadi pada 1927 di salah satu kota di eropa. Kebetulan saya lupa nama kotanya. Akan tetapi saya benar-benar teringgat sebuah kalimat yang terlontar dalam diskusi para ahli fisika tersebut. Mereka para ahli fisika – Max Planck, Pauli, dan Heisenbergh – sedang membahasa tentang Einstein, teoritikus fisika terbesar abad ini. Diskusi mereka menitik pada pokok soal, Einstein yang terlalu sering berbicara tentang Tuhan dalam setiap esai dan ceremahnya. Kata Einstein, “aku ingin membaca pikiran tuhan”, “tuhan tidak bermain dadu” Lalu bagaimana para ilmuwan harus menyikapi kelakukan Einstein tersebut? Setelah perdebatan senggit akhirnya Pauli mengatakan –kata-kata inilah yang saya ingat-:

 “ Kalau batas antar bidang-bidang pemikiran dan pengalaman kita semakin menajam, pada akhirnya kita akan masuk pada sebuah kesepian yang menakutkan dan kita harus ijinkan air mata menetesContinue reading

Advertisements

Di Pantai, Ini Adegan Keberapa?

Awal mula adalah pantai, lalu sekian adegan drama yang tersusun rapi akan segera dimulai. “ Kau memainkan peran dengan sangat baik” Si A berkata dengan halus, walaupun aku tahu itu juga terpaksa, suaranya terlalu liar untuk ditata. Aku dan dia maka suara tak perlu begitu keras. Aku tahu itu kalimat pujian yang cukup pahit sebenarnya, tapi sejak awal hari memang harus ada beberapa butir kapsul yang harus ditelan mentah-mentah. Kapsul tak melahirkan rasa pahit, serbuk kepahitan yang halus sudah terbungkus rapi. Rasa pahit hanya ada di dalam. Dan itu juga tak akan meledak di lidahmu, jika kau tak mengigitnya. Telan saja, mentah-mentah.

“Jangan menyebarkan duka pada mereka, cukup aku yang tahu dan kau yang harus menyelaminya: cukup kita berdua” si B berkata

Ini kali pertama ada pantai yang begitu indah. Sebuah lanskap: cakrawala, senja, pohon-pohon, dan beberapa orang yang berkumpul, menegaskan niat. Hari-hari ini cukup baik dan ceria untuk menjadi sebuah pidato pembuka, kalimat pengantar atau kalimat pelepasan. “ suatu hari kita pernah tertawa, menghayati ombak terakhir yang menyentuh kaki, merasakan bau asin dan amis air laut, menyusun harapan-harapan pada sebuah pantai: Kukup. Sebelum kepenuhan eksistensi yang berarti juga kepurnaan kemanusiaan kematian suatu saat akan datang. Continue reading