Di Pantai, Ini Adegan Keberapa?

Awal mula adalah pantai, lalu sekian adegan drama yang tersusun rapi akan segera dimulai. “ Kau memainkan peran dengan sangat baik” Si A berkata dengan halus, walaupun aku tahu itu juga terpaksa, suaranya terlalu liar untuk ditata. Aku dan dia maka suara tak perlu begitu keras. Aku tahu itu kalimat pujian yang cukup pahit sebenarnya, tapi sejak awal hari memang harus ada beberapa butir kapsul yang harus ditelan mentah-mentah. Kapsul tak melahirkan rasa pahit, serbuk kepahitan yang halus sudah terbungkus rapi. Rasa pahit hanya ada di dalam. Dan itu juga tak akan meledak di lidahmu, jika kau tak mengigitnya. Telan saja, mentah-mentah.

“Jangan menyebarkan duka pada mereka, cukup aku yang tahu dan kau yang harus menyelaminya: cukup kita berdua” si B berkata

Ini kali pertama ada pantai yang begitu indah. Sebuah lanskap: cakrawala, senja, pohon-pohon, dan beberapa orang yang berkumpul, menegaskan niat. Hari-hari ini cukup baik dan ceria untuk menjadi sebuah pidato pembuka, kalimat pengantar atau kalimat pelepasan. “ suatu hari kita pernah tertawa, menghayati ombak terakhir yang menyentuh kaki, merasakan bau asin dan amis air laut, menyusun harapan-harapan pada sebuah pantai: Kukup. Sebelum kepenuhan eksistensi yang berarti juga kepurnaan kemanusiaan kematian suatu saat akan datang.

Ada yang sedang membaca sajak yang aku suka. Aku tak tahu ini adegan keberapa, tapi ceria dan canda tawa harus tetap dijaga. “ Yang tak menarik dari mati”, tolol ! siapa yang hendak mempikirkan kematian?

Langit adalah kegelapan tinta gurita yang disemprotkan penuh tenaga. Cahaya yang kita lihat dari gugus bintang malam itu adalah masa lalu. Tepatnya, sisa cahaya masa lalu selebihnya adalah kekosongan. Kosmos ditala dengan begitu halus dan rapi, untai-untai dawai energi dan kerumitan sistem tak pernah kita rasakan, kita nyaman berada bersama di dalamnya. Dan itulah kutukan, seperti cahaya bintang malam itu yang mengusik gelap langit. Cahaya dari jutaan alaf yang lalu, barangkali seperti itu juga canda tawa kini, dia hanya sisa kebahagiaan di masa lalu. Dan malam ini suatu saat juga akan menjadi amunisi untuk membuat kita berbahagia di waktu yang akan datang: dan itulah kutukan.

“ Yang tak menarik dari mati, adalah malam ini” Ahh tapi suatu saat akan ada yang mengunakan malam ini untuk membuka sebuah pidato kematian. Mungkin kau, yang sedang membaca tulisan ini dan terpusing-pusing menangkap inti. Tak ada inti pada deret kalimat yang kusandingkan. Aku hanya tak ingin hanya ada satu huruf, tegak berdiri sendiri, dan kau kebingungan apa maksudnya. /Yang tak menarik dari mati/ adalah kebisuan sungai/ ketika aku menemuinya/ . Tak ada yang bisu, dan kita tidak berhadapan dengan sungai.

Yang tak menarik dari mati adalah senyum bahagia kalian yang menunda.

Anak-anak kecil sebayaku berkata “ aku sulit menulis”. “ Tak apa, kita sekarang di pantai, yang penting kau tak sulit untuk bahagia”.Tiga hari dua malam drama dipentaskan, di latar balik bukit gunung kidul, di depan deburan ombak dan cakrawala, pantai. Tempat kita seharusnya mencerap tunjuk ajar prilaku dari kebiruan air laut dan keluasan cakrawala: disana tersimpan rapi keterbatasan. Cakrawala yang kita lihat adalah tanda keluasan juga keterbatasan. Mata menyisir dan kau berkata “ itulah ujung cakrawala, batas lautan” tapi bergeraklah maju dan kau akan tahu cakrawala tak pernah kau temukan akhirnya, dia akan terus menjauh, dan lihatlah matamu sangat terbatas.

Menyatulah dengan pantai. Cogito, ini kali pertama aku mempunyai tempat. Tak abadi memang. Cogito, menyatulah dengan pantai. Mungkin ini bukan pantai, hanya kolam kecil, tempat wajah-wajah yang lugu mendidik kemanusiaan. “ aku lelah” si A kembali berkata sambil merapikan kain baju.

Akhirnya, dalam upacara makan siang yang tak terlalu sakral. Kertas minyak, biji-biji jagung yang diserut, berkuah, beberapa potong tempe. Di bawah pohon jati, tanganku dan tanganmu berebut nasi. Aku kekenyangan dan kau bersendawa, dan ini adegan drama ke berapa?

Kaliurang 08-03-15

11.28

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s