TAHUN

dinding pucat

Tahun-tahun akan segera berlalu. Tak ada gugur daun, juga dahan-dahan kering. Sorak anak muda penuh harap, tahun segera tiba kembali: dengan nafas baru. Tapi disini tak ada tanda, tentang tahun-tahun yang segera akan berakhir. Semua berjalan biasa saja. Tertib alam telah mengaturnya. Kecuali kita, seolah berada dalam alam lain. Suasana yang lain, tidak dengan tanda-tanda akhir tahun. Dunia kita sendiri.

Tahun-tahun akan segera berlalu. Tapi alamku tak mencatat tanda-tanda itu. Tidak ada yang akan berlalu. Hanya dari kalender yang tertempel di dinding aku tahu: tahun akan berlalu. Berlalu, berarti beranjak, meninggalkan, memulai menuju sesuatu yang mungkin baru.

Mencatat berarti meyakinkan diri. Tahun akan segera berlalu.
Tapi selalu ada yang lolos dari catatan. Selalu ada yang tak tercatat, liar: berjalan sendiri. Cermat mata, jeli pikir tak kuasa merangkum segalanya. Kalender di tembok itu, hanya saksi waktu. Dia pun juga tak kuasa mencatat segalanya, di kertasnya yang putih, hanya angka-angka yang berjajar rapih yang tercatat. Tapi rasa dan suasana selalu lolos dari kalender. Sia-sia saja aku melihat kalender itu. Continue reading

Advertisements