TAHUN

dinding pucat

Tahun-tahun akan segera berlalu. Tak ada gugur daun, juga dahan-dahan kering. Sorak anak muda penuh harap, tahun segera tiba kembali: dengan nafas baru. Tapi disini tak ada tanda, tentang tahun-tahun yang segera akan berakhir. Semua berjalan biasa saja. Tertib alam telah mengaturnya. Kecuali kita, seolah berada dalam alam lain. Suasana yang lain, tidak dengan tanda-tanda akhir tahun. Dunia kita sendiri.

Tahun-tahun akan segera berlalu. Tapi alamku tak mencatat tanda-tanda itu. Tidak ada yang akan berlalu. Hanya dari kalender yang tertempel di dinding aku tahu: tahun akan berlalu. Berlalu, berarti beranjak, meninggalkan, memulai menuju sesuatu yang mungkin baru.

Mencatat berarti meyakinkan diri. Tahun akan segera berlalu.
Tapi selalu ada yang lolos dari catatan. Selalu ada yang tak tercatat, liar: berjalan sendiri. Cermat mata, jeli pikir tak kuasa merangkum segalanya. Kalender di tembok itu, hanya saksi waktu. Dia pun juga tak kuasa mencatat segalanya, di kertasnya yang putih, hanya angka-angka yang berjajar rapih yang tercatat. Tapi rasa dan suasana selalu lolos dari kalender. Sia-sia saja aku melihat kalender itu.

Untuk setiap yang gagal dicatat. Kita hanya bisa bersepakat menyimpannya sendiri, dalam ingatan. Tapi menyimpan adalah juga mencatat. Dan sejak awal mencatat berarti juga menyisihkan, membekukan. Ingatan yang meyimpan, lekas aus ketika hari-hari semakin cepat. Lupa: musuh terbesar kita, menghantui di setiap sudut.
Tahun segera berlalu. Dan engkau ketakutan, kan?

Kertas putih, lantai putih, : berharap jika semua putih maka setiap jejak bisa gamblang terlihat. Setiap jejak mudah diinggat. Setiap tahun sebelum berlalu, terabadikan dahulu. Warna putih yang kau pilih: tanda menyerah juga tanda bahagia. Lantai putih dan jejak kaki yang basah: ku harap ini lebih mudah. Mencatat tidak dengan huruf-huruf dan tangan yang menekan bolpoint, tapi dengan jejak kaki yang tanpa sengaja.
Tahun segera berlalu. Bau pantai mengodamu untuk berlayarkah?

Semilir angin, amis dan asin air dari lautan luas. Lembut pasir, menyimpan potongan tajam bekas rumah kerang, hati-hati itu bisa melukaimu. Mengores pada permukaan kulitmu, sebelum akhirnya darah merah muda menetes. Luka. Keindahan pantai, semilir angin, pohon kelapa menjulang, debur ombak yang jatuh di kakimu: semua itu menyimpan luka. Tahun yang segera berakhir: menyembunyikan luka dari keindahan pantai yang jauh. Luka waktu tak tercatat dalam deret angka: dari satu hingga dua puluh empat.

“ aku tahu, kau hendak lari, dari tahun-tahun itu” katamu
“Tak ada jawaban untuk itu” kataku. Aku dan kau, siapa yang hendak menyerah lebih dahulu?. Pada tahun-tahun yang dikabarkan akan berlalu oleh kalender di dinding kamarmu. Aku akan terus menghantuimu. Tidak dalam waktu, di luar waktu: aku menyelipkan kenangan dalam tahun-tahunmu. Membenamkannya dalam dirimu, menyatu lewat bau tubuhmu. Terserah kau: mengingatku adalah mengingat tahun-tahun hampa. Tahun-tahun tanpa gugur daun, kering ranting, rintik hujan. “Aku tak hendak lari darimu” catat itu.

Seperti ombak terakhir yang mendebur menyentuh ujung kakimu. Dingin terasa sekilas saja. Tapi lekat bau asin garam air laut, akan tertinggal di kakimu: kau bawa kemana saja. Itulah aku: lekat bau asin garam air laut.

“ tidurlah, untuk tahun-tahun yang tak terulang lagi” bisikku
Mimpi adalah tanda terakhir, dari malam sebelum fajar meronta, mengusik mata lelapmu. Dan tahun-tahun akan segera berlalu, seperti juga malam. Aku akan segera memasungmu, menandaimu dalam sebait puisi yang berat. Tidak ada kata-kata dalam larik bait. Tapi, dalam larik-larik itulah, di tahun-tahun yang akan datang: akan ku kenang dirimu mendekati sempurna. Melalui puisi tanpa kata, akan kuselamatkan dirimu dari kejam gerak jarum jam yang selalu memancing lupa. Kuselamatkan dirimu hanya untukku, walau di tahun-tahun yang akan datang , aku lekas tahu kau tidak ada. Di hadapanku hanya larik puisi tanpa kata: dan kau tidak ada.

Di tahun-tahun yang akan datang waktu hanyalah gurau, begitu juga dirimu.
Tak ada canda dalam kamar yang sempit. Rak kayu, buku berjajar debu menempel di setiap sudut. Udara yang itu-itu saja: penggap. Sirkulasi tak terlalu baik. Tapi karena itu kau tertinggal dan mengendap lebih lama di sini. Di setiap hari ketika malam menjelang, kantuk mulai menghampirimu, sementara aku masih terjaga di samping rak buku. Tahun-tahun yang akan datang tak akan ada itu semua. Hanya ada jendela terbuka, dan ngiang suara langkah kakimu yang tertinggal dalam telingaku.

Orang-orang berbincang mengenai kenangan, tapi kita sudah bergerak untuk melupakan
Melalui air mata, tuhan menjadikan wajah kita semakin sayu, lihatlah!. Tahun-tahun ini kita lama tak berdiri di hadapan cermin. Kita terlalu takut pada duka yang meninggalkan sisa pada lipat lekuk detail wajah. Di hadapan cermin, sia-sia menyambut, dan kau belum cukup siap dengan itu. Bagaimana dengan aku? Aku sendiri tak tahu.

“ beri aku ruang, dimana melihat diri sendiri adalah juga menemukan kembali jejakmu”
Jejak yang tak tercatat dalam tahun tahun-tahun yang terlalu cepat. Jejak yang tak tercatat lewat tetes embun pagi di ujung daun kemanggi. Jejak yang gagal.
Dalam jejak tahun-tahun yang telah dan hendak berlalu. Masih ada rokok dan kopi, dengan asap dan kepul bau yang tak berubah.

Ternyata hari bisa berkelindan dengan mimpi. Kenyataan bisa menjadi begitu kabur. Seperti kabut yang ragu-ragu menyibak pagi, tapi bergelut dengan cahaya matahari. Saat yang imaji dan nyata saling kelindan dalam satu suasana: tak terbedakan. Saat itu kita terlahir kembali. Kau dan aku, termanggu dalam cinta yang fiktif. Mengantungkan diri pada bagian lain dari kenyataan dimana imajinasi bisa lebih berkuasa.

Barangkali takdir kita adalah kutukan dewa. Tahun-tahun yang tak bisa kita lari dari hari-hari di dalamnya. Takdir membuat kau dan aku segera maklum saja: kereta tak akan bisa berjalan keluar dari rel nya.

Aku sambut tahun-tahun yang akan datang, dengan ataupun tanpa kau.
“ jangan lelah aku akan berada di sampingmu” katamu..
Tapi sejak awal aku tahu itu terucap ketika duka menyerbu kita. Lalu bagaimana jika di tahun-tahun yang akan datang bahagia menghampirimu. “Tetapkah kau akan berpura-pura dengan kata-katamu”

Imajinasi adalah bagian dari harapan yang gagu. Tahun-tahun yang akan datang yang kabur, tak terbaca. Pada semua itu ku kaitkan tali, dan sebaris puisi, dimana namamu menjadi pembuka bait pertama, yang kuharap sangat syahdu.

Hari-hari kembali, tahun-tahun kembali. Tapi tetap tanpa gugur daun dan kering ranting. Dan kau sudah terabadikan dalam sebait puisi yang berat. Pantai dan bau asin garam air laut akan mengodamu suatu saat untuk menemuiku. Tentu, pertemuan setelah selesai semua harap. Pertemuan yang barangkali akan sangat lucu.

Ketika mungkin, kau datang membawa bau tubuhmu yang gagal kucatat dalam bait sajak. Sebelum kabut tersingkap terang matahari. Sebelum semuanya menjadi jelas. Sebelum tahun-tahun itu, kita masih akan saling mencintai dalam bahasa yang gagu. Cinta yang sejak awal sama-sama kita ketahui akan gagal.

Tahun-tahun akan segera berlalu. Dan aku, bukan tonggak yang menancap mantap di pasir pantai. Debur ombak akan datang menghapus bahasa, menyeret kata, mengembalikannya ke tenggah lautan, hingga semuanya menjadi tak terlihat dan terbaca, kecuali perahu kecil dan senja dari matahari yang tengelam ragu-ragu di ujung cakrawala.

Aku lelah, kau lelah, tapi takdir belum juga menunjuk akhir. Walau tahun-tahun akan segera berlalu 

Jogja 13-12-14
Ketika kau menanyakan aku dimana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s