Pada Maut

IMG_1994

 

Pada maut
Aku akan sedikit tidak tergesa
Menyisihkan tiap luka
Memastikan: Esok kau tetap sama

Hanya pada maut
Aku akan sedikit tidak tergesa
Menyelia
Atau sedikit saja pamitan lewat senyuman
Atau sejenis rasa iba

Pada mereka yang kutinggal:
Lihatlah aku tidak lagi tergesa
Gerakku rapi lagi pasti

Wajahmu tidak datang dalam pesta terakhir itu
Aku juga tidak menunggumu
Dalam pesta dewa-dewa berganti manusia
Aku memesan kematian di atas satu nampan yang tidak lagi sakral
Tiada rasa takut

Di gigir sepi
Seorang bocah semakin menepi, pasti
” Lihatlah ada air mata di sela dua matamu”
:Diam dan rasakan

Lihatlah
” Lewat keheningan aku akan tetap menandaskan namamu di sudut kosong nisanku:……..”

-Sleman Mei 2015-

 

 

Advertisements

Cinta dan Kekuasan Diktator*

Nidhi Eoseewong[1]

Agustus tahun lalu, koran Prachatai menurunkan berita utama berjudul North Korean woman’s eyes opened after watching Titanic. Saya bergegas untuk membaca berita itu secara rinci. Saya penasaran, bagaimana sebuah film telah berhasil membawa pencerahan, membuka mata seseorang.

Kita tahu dari berita itu, bahwa bukan hanya satu film yang mencerahkan, dan membuka mata Park Yeonmi[2] : Park Yeonmi melarikan diri dari negaranya –Korea Utara- dan kini telah berada di Korea Selatan.  Park Yeonmi menuturkan bahwa ada sekelompok warga Korea Utara yang gemar menonton film asing, walaupun di Korea Utara menonton film asing adalah bentuk kejahatan. Satu film India atau film Rusia yang anda tonton bisa membuat anda masuk penjara tiga tahun. Sebuah film Amerika cukup untuk mengantarkan anda ke hadapan algojo; hukuman mati. Akan tetapi, tetap ada yang diam-diam membeli dan menonton film-film asing, walau mungkin dengan perasaan was-was.

Park Yeonmi tinggal di sebuah ruangan kecil, dari ruangan itulah perlawanan terbukanya pada rupa-rupa kekuasaan totaliter-diktator di Korea Utara tumbuh. Tidak hanya diam-diam  menonton film asing, ayah Park Yeonmi juga pernah dipenjara sebab menjual baja ke Cina. Kemungkinan besar keluarganya terlibat perdagangan gelap.

Setelah menonton film Titanic Park Yeonmi memberikan komentar “Saya merasa sangat terkejut setelah menonton Titanic. Saya melihat bahwa ada seorang pria yang rela mengorbankan hidupnya bagi seorang wanita, seakan untuk bangsa …. pada waktu itu saya merasa bahwa ada sesuatu yang serba salah dengan semua orang yang tertarik cinta, mereka tidak peduli warna kulit , budaya mereka, atau bahasa apa yang mereka gunakan. Siapa pun mereka, mereka berbeda dari saya. “

Bagi saya, dari komentar  Park Yeonmi, terlihat bagaimana dia memahami cinta sebagai sesuatu yang natural, yang amat asali dan alami. Cinta menembus segala batas yang diciptakan kehidupan sosial-kebudayaan. Tapi ketika dia berkata “ mereka berbeda dari saya” terlihat bagaimana Park Yeonmi teringgat fakta bahwa pasukan pemerintah Korea Utara sedang melatih orang-orang untuk mengabaikan cinta, sekaligus juga mencetak penduduk Korea Utara yang selalu menentang kodrat alamiahnya untuk mencintai.

***

Continue reading

Riwayat Siput dalam Kepala

  

Mulanya: sebuah siput 

Apa yang tercatat oleh seekor siput 

Dia berjalan lamban: hampir tiada jejek pada malam,siang, atau terang tanah

Hanya lendir, membentuk lajur,tipis dan tiap kali bisa kikis

Apa yang bisa bertahan lebih lama dalam kepala? 

Bagaimana sebuah riwayat harus diriwayatkan? Sementara seekor siput tetap berada dalam kepala; lamban dan hanya lendir

Mengapa harus ada kecemasan??

Yk-23-februari 16