Sejenis Cerita Cinta

IMG_1100

“ Saya tidak pernah mengenal cinta”

Siapa yang paling bersalah di antara kau dan kekasihmu?.

Kau telah melakukan segalanya. Memberikan seluruh yang kau punya, materi maupun pikiran. Hari itu kau terbangun dari tidur siang dan kalender menunjuk angka 25 Februari.  Di luar kamar hujan lebat, kau menggeluarkan dompet dari tas kecil berwarna biru tua yang tergletak di samping tempat tidurmu. Tiga lembar pecahan lima puluh ribu: dua lembar dua puluh ribu dan satu lembar sepuluh ribu. Ini hari ulang tahun kekasihmu.

Tidak peduli hujan, kau segera keluar kamar dan menyalakan motor. Pintu kost pun lupa tak kau kunci.  Tidak ada jas hujan, akhirnya kau memakai payung kecil. Tidak berguna sebenarnya, dua sisi lengan dan celana jeans bagian bawah akan tetap basah. Kau hendak membelikan kekasihmu buku harian.

 “ agar dia mulai belajar menulis sepertiku” Katamu.

Menerjang hujan, payung kecilmu beberapa kali hendak lepas karena angin yang terlalu kencang. Payung kau pegang erat-erat. Kau sudah seperti orang kerasukan 5000 jin penuggu Gunung Merapi. Sejak melihat 25 Februari, dari sudut dinding kamar sampai air hujan yang menderas lebat,seolah tidak ada, yang terlihat dan terdengar di telingamu hanya:

 “ Kita akan barengan, berdua selamanya, sayang”

Aku tahu, kau sebenarnya tidak pernah tahu. Jangan-jangan kata indah dari kekasihmu hanyalah bagian dari taktik untuk mulai menindasmu dengan nikmat. Jangan-jangan dia hanya bercanda, ah tak taulah. Siapa yang paling tahu hati manusia?

“ Jika ibumu tiba-tiba tergolek lemah di pinggir jalan ujung gang tempat kostmu, pasti tak kau hiraukan. ” kataku

“ Untung kau tidak sedang di Serbia atau Sarajevo.  Aku tak bisa membayangkan jika di perempatan jalan kau lihat ada ibu-ibu di todong AK.47 dan dia hanya memejamkan mata, sambil terus merapal nama-nama Tuhan”

Materi bisa kau cari lagi, tapi untuk menata dan mengembalikan isi pikiran, taukah kau itu bukan soal mudah. “Siapa yang bisa mengembalikan isi pikiranku?.” Siapa yang bisa membuat kau tidak stress?

Sudah dua tahun, berarti empat semester, terjagamu tiap malam hanya untuk kekasihmu. Mengerjakan makalah, artikel, dan tugas kuliah lainya. Membaca buku untuk kemudian menceritakan seluruh isi buku pada kekasihmu. Kristi Poerwandari, Mengungkap Selubung Kekerasan, Sartre, Being and Nothingness, Bettina E.& Schoder,  Anthropology of Violence and Conflict. Begadang bermalam-malam. Saat itu kekasihmu tergolek di tempat tidur, sambil sesekali berkata;

“ Maaf, aku merepotkanmu, lemah sekali aku ini ya”

“ Sudahlah jangan ngomong aneh-aneh lah”

“ Maaf, mau es krim?”

“ Sudahlah tidur saja, besok kamu kuliah pagi kan?

 Aku tahu dengan penuh kepastian, kau bisa melakukan itu semua karena  sedang menderita suatu perasaan aneh. Macam orang gila, atau memang kau gila. Cinta, kasih, atau semacamnya. Yang jelas perasaan itu sampai bisa membuatmu lupa siapa dirimu,pekerjaanmu. Hanya di KTP kau tetap sebagai dirimu, tapi persetan! KTP tahu apa tentang cinta.

Kau Rela tiba-tiba menjadi orang yang suka ngoceh tentang isi buku. Apa arti semua buku yang kau baca jika ternyata kau klepek-klepek di bawah kata C.I.N.T.A. Tapi, cinta bukan sekadar kata kan? Buktinya KTP tidak mencatat kau mencintai siapa sebenarnya.

Jiwa dan pikiranmu tersambung, pararel:  jika satu bagian konslet, kau bisa seperti mobil mainan yang baterainya tinggal 5%. Berputar-putar tak jelas. Jika anak kecil pemiliknya mulai kehilangan kesabaran, dia akan mendorong mobil mainan itu sekuat tenaga, sampai roda-roda dan mesin di dalamnya kwalahan. Itulah kau.

“  Dua tahun. Jangan kau pikir itu waktu yang singkat?

“ Bukanya kau bahagia?”

“ Tunggu ceritaku belum selesai”

Beruntung, jika semuanya berjalan mulus dan berakhir indah. Tapi, bagaimana jika kau ternyata hanya dimanfaatkan. Kau hanya semacam daya penuh tenaga untuk mengisi salah satu bagian dari kehidupan kekasihmu yang malas dan lemah.

 Kau harus sekuat tenaga bangkit dan berusaha membeci kekasihmu. Kau harus membencinya!.

“Tapi aku masih mencintainya.”

“ Maklum, belum ada orang sebelum dia yang ingin memilikimu”

“ Kau haya belum pernah merasakan hangatnya pelukan orang yang tidak ada hubungan darah denganmu”

“ Saya tidak pernah mengenal cinta” kataku

“ Mulai hari ini kau telah mengenalnya, dan aku akan tunjukkan yang lebih dalam dari cinta; benci”

***

Langit mendung dan sebuah pensil kayu. Hawa harum dedaunan dari pohon-pohon damar yang menjulang tinggi. Saya terduduk dan masih memegangi sebatang pensil kayu. Ujung pensil itu lancip, berwarna hitam pekat. Pensil itu seolah diraut setiap saat, setelah para pengunjung kedai ini selesai menuliskan pesanan pada secarik kertas coklat yang agak tebal ini. Kenapa saya tak berpikir mau memesan apa pun sore ini?

 Meja kedai ini begitu nyaman untuk menyandarkan dagu. Meja bulat dengan warna coklat yang ragu-ragu. Tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu pendek. Seolah semua serba setengah-setengah dan ragu-ragu. Ah dugaan macam apa lagi ini.

Setelah menyandar dagu pada bibir meja, sepertinya ada yang bergerak di dahi saya. Ah pasti ini si jerawat minta jatah perhatian. Jerawat, sejenis penyakit menahun yang entah kenapa keberadaannya sangat saya nikmati. Apalagi diwaktu senggang  dan tak jelas seperti ini.

Tidak ada yang lebih nikmat selain pencet-pencet jerawat. Aduh-aduh, saya mulai merasakan perih pada dahi. Tapi, lagi-lagi saya sangat menikmati sakit yang lembut ini. Inilah penyakit yang seolah saya bisa memesan rasa sakitnya kapanpun, dengan dosis rasa sakit menurut kesukaan saya. Untuk urusan jerawat, maaf Tuhan kali ini kau harus benar-benar absen.

Kenapa saya berada di kedai ini? Saya juga tidak tahu pasti. Saya lihat beberapa orang berkrumun melingkar mengikuti bentuk meja. Lihatlah saya hanya sendiri. Pensil kayu yang ujungnya meruncing itu masih saya pegang, dan saya masih belum tahu hendak memesan apa. Berharap ada pelayan yang mendadak mendekati meja, kemudian saya terkaget dan segera memesan sesuatu. Para pelayan itu seperti patung. Setelah menyerahkan kertas menu dan pensil dia berdiri di ujung  kedai. Di samping sebuah lukisan seorang lelaki yang terduduk sambil minum kopi.

Saya keluarkan ponsel untuk sedikit menghalau kebosanan. Tidak ada kabar apa pun. SMS hanya berisi pesan dari satu nomor kontak yang sudah saya hapus dari daftar kontak ponsel. Ah, sialan tapi saya masih begitu menghafal nomor ini 433. Menyebalkan memang. Entah kenapa saya tiba-tiba merasa ingin marah, pensil saya pegang erat-erat, sekuat tenaga menahan marah agar tidak meluap di tempat umum ini.

Ponsel akhirnya tergletak di samping vas bungga. Menyilangkan kaki, mengangkat dagu dari bibir meja, dan saya mulai menulis “ Kopi hitam paling pahit di dunia, dan bakso tanpa kuah”. Sepertinya pelayan yang berdiri di samping lukisan itu mengawasi saya dari tadi. Dia langsung berjalan menuju meja, begitu saja saat saya meletakkan pensil di samping ponsel.

 Pelayan itu berwajah oval, dengan kulit putih setengah coklat khas orang-orang khatulistiwa. Ada tahi lalat kecil di bagian atas bibirnya. Dia begitu cekatan menuju meja saya, sambil permisi dia mengambil kertas pesanan . “ pesanan akan segera kami antar” dia  berkata begitu lembut . Rasanya ingin sekali mengunyah tahi lalat kecil yang mengemaskan itu.

Langit makin mendung. Awan semakin kelihatan biru tua, bahkan di beberapa sisi langit menghitam. Kedai ini begitu asik sepertinya untuk orang yang sedang bahagia. Terletak di tengah sebuah rumah bergaya cina, dengan rumput-rumput yang terawat dan pohon damar tua seukuran dua kali pelukan saya.

Di sini langit bisa terlihat sangat  jelas, maklum tidak ada peneduh, satu-satunya yang bisa menghalau sinar matahari adalah dua pohon damar yang berdaun rimbun itu. Kembang sepatu dibiarkan tumbuh melingkari bagian bawah pohon damar, sangat terawat tempat ini. Begitu sempurna bagi mereka yang sedang berbahagia.Saya awalnya tidak pernah membayangkan akan ada kedai semacam ini di kota yang ramai dan penuh sesak.

***

“ Saya tidak pernah mengenal cinta”

“ Aku harus bagaimana?”

“ Saya tak tahu”

“ Makanya, kamu harus dengar cerita ini, please!”

“ Kenapa harus saya?”

“ Ah, bodoh jangan banyak tanya, cukup diam dan dengarkan ceritaku”

“ Oke..oke, tapi saya lapar”

“ Dasar, kau tak lihat aku hampir bunuh diri”

.Saya mulai merasakan gerah yang tak tertahankan. Laki-laki itu tak pernah jeda menghisap rokoknya. Dia kurang peka sepertinya. Kamar ini sempit, saluran udara hanya dari fentilasi kecil di samping pintu kamar. Saya tak enak menegurnya untuk berhenti merokok.  Hidupnya sudah sangat kacau. Tak usahlah saya menambah kekacauan, sekecil apapun. Berulang kali saya pindah posisi, mencari sudut paling nyaman untuk terus mendengarkan ceritanya.

“ Kau tahu, sekarang aku membencinya melebihi apapun”

Saya hanya terdiam. Takut memotong, karena setiap dia terdiam dan menarik nafas, ternyata ceritanya akan lebih mengular. Entah mengapa, saya mulai menikmati ceritanya. Saya mulai menyukai gaya bicaranya. Tapi dia kelihatan benar-benar sedang kacau, sedih, dan tak tertahankan.

“ Aku setiap malam memandangi fotonya, membuka foto kami di pinggir danau”

“ Dia juga pernah foto telanjang”

“ Apa” saya terkaget

“ Foto telanjang, untuk perempuanya, aku mencurinya dari folder di emailnya”

“ Setiap malam aku memandangi foto itu”

“Kadang juga aku merancap sambil terengah-engah, lalu tertidur dengan fotonya yang basah”

“ Esok aku mengeringkanya bersama pakaian dalamku”

“ Sumpah, aku sangat membencinya”

“ Heh..saya bingung dengan ceritamu” sergah saya

***

Saya semakin sulit membedakan cinta dan benci. Kadang keduanya seperti perasan jeruk nipis yang dicampur air panas: keruh, sulit dibedakan hanya terasa kecut. Barangkali cinta adalah sejenis kehendak untuk saling menaklukkan. Seperti kawanku, setelah dia dipermainkan, dia menaklukkan kekasihnya lewat foto  yang dilihatnya setiap malam. Lalu dengan kemarahan bercampur rindu yang purba dia merancap. Setelah selesai, berkeringat lalu merasa menang.

Tapi dari ceritanya saya tahu dia begitu kacau. Kekasihnya saya bayangkan sebagai orang paling jahat di seluruh dunia. Dia tidak melahirkan pertumpahan darah macam Nazi, tapi dia membuat hidup teman saya kacau. Ah tak tahulah sejak awal saya tidak pernah mengenal cinta. Saya hanya tahu bayang-bayangnya dari teman yang sedang kacau itu.

Dengan terkantuk-kantuk, saya membuka ponsel dan memutar lagu Rezso Seress, Gloomy Sunday[1].
Sunday is gloomy

the hours are slumberless
dearest the shadows
I live with are numberless 

Tik.Tok.Tik.Tok, saya terkaget dan langsung berlari keluar kamar kost. Mang A, penjual siomay lewat. Saya memesan satu porsi siomay pedas tanpa buah pare yang pahit itu. Saya berdiri di samping Mang A yang cekatan memindah sayur kubis ke mangkuk. Dari dalam kamar, masih terdengar lagu Gloomy Sunday, suaranya masih kalah nyaring dengan potongan bambu belah tengah yang saya pukul keras-keras. Tik.Tok.Tik. Tok. Mang A tersenyum melihat tingkah saya. “ Kok ya ada-ada aja kamu ini, awas rusak saya suruh ganti lho”

Yogyakarta Maret 2015

[1] Di tahun 1935, Lazzlo Javor menulis sebuah lagu yang berjudul Gloomy Sunday. Lagu tersebut kemudian dijadikan irama musik oleh Rezsoe Seres, Seorang pianist dari Hongaria.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s