Bocah yang Belajar Menuturkan Identitas (Soal Relasi Pengembangan Ilmu, Politik dan Identitas)

libertyDia telah pergi ke luar angkasa. Mengembara, menjauh dari bumi yang dikasihinya. Dia telah sampai pada tepi, berada dalam ruang hampa di lingkung cemerlang bintang. Makin jauh. Bumi sebagai rumah yang melahirkan ke(ny)amanan itu telah ditinggalkannya.

Berilah aku satu kata puisi

daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji

yang menyebabkan aku kini terlempar dari bumi yang kukasih

 Ada bumi, puisi, rumus ilmu, tapi juga ada ke-terlempar-an. Apa yang membuatnya terlempar? Seribu rumus ilmu, jawabanya. Sementara bumi adalah satu kata puisi, bumi manjadi parabel ekspresi estetik untuk melukiskan kemanusiaan dan keterpesonaanya pada keindahan: kini aku terlempar dari bumi yang kukasih.

Siapakah dia? Lelaki atau perempuan? Kita hanya bisa merabanya, Subagio Sastrowardoyo tidak lantang menyebut seorang terasing itu laki-laki atau perempuan dalam sajak Manusia Pertama di Angkasa Luar. Tapi kita pun bisa tahu dari: Hanya rindu kepada istri, bahwa manusia pertama di angkasa luar itu laki-laki.

Mengapa dia laki-laki? Mengapa seorang yang dikelabuhi  seribu rumus ilmu itu adalah laki-laki?  Benarkah ilmu sebagai tata rasional identik dengan perkataan orang-orang di pojok kantin: Laki-laki itu rasional, Perempuan terlalu emosional? Sebab hanya laki-laki yang rasional maka rumus ilmu hanya bisa mengelabuhi seorang lelaki. Perempuan jangankan terkelabuhi, sejak awal mahluk yang dilukiskan banyak tradisi kosmogoni sebagai “pelengkap” itu tak rasional.  Mungkinkah sajak itu kembali menegaskan mitos-mitos misoginis perihal perempuan sebagai mahluk emosional, atau dalam bahasa sinis Aristoteles hewan yang gagal mencapai kepenuhan animale rationale.

 Adakah dalam seni kita temukan lagi bahasa-bahasa hegemonik? Benarkah rasionalitas yang didaku melandasi tata nalar sains adalah milik laki-laki? Tapi, bukankah sains yang objektif tidak memberi ruang pada pertanyaan hal-ihwal “ siapakah aku?”. Alih-alih pertanyaan tentang identitas: lelaki atau perempuan?

 Sains menghalau personalitas, sebab jika ia diterima, ilmuwan akan terjebak pada soal yang tak mantap, selalu guyah, dan menuntut redefinisi. Ilmuwan amat sebal dengan tuturan-tuturan antropomorfik. Bukan siapa aku, tapi apa yang bisa ku jelaskan tentang yang “di luar” diriku.  Bukankah identitas juga tak melulu yang “di dalam” diriku? Soal kelelakian dan keperempuanan memang dirujuk lewat kaidah nature: vagina, phallus, tapi dalam laku hidup bukankah kerap kali dia melampaui segala yang nature, identitas dibentuk-definiskan sebagai soal konstruksi budaya dan politik: nurture. Olehnya kita mengenal perempuan sebagai: keindahan, emosional, perasaan, ketidaklogisan, sementara lelaki sebagai: rasional, jelas, dan tegas.

Benarkah  paling mula dari sains adalah rasionalitas, sebab itu ilmuwan adalah daya-daya maskulinitas rasional?

***

Sains pada mulanya adalah ketakjuban. Dia melintas melampaui batas-batas identitas. Adakah ketakjuban mengenal jenis kelamin? Atau segala rupa purbasangka kebudayaan tentang dualitas laki-laki dan perempuan, yang terlanjur dikuasai mata patriarkhi. Bukan seorang lelaki dalam  Manusia Pertama di Angkasa Luar tapi,  Catatan Masa Kecil 3 Sapardi Djoko Damono yang lebih menekankan soal ketakjuban. Soal kehendak bocah, anak kecil yang terus memunculkan tandatanya; ketakjuban, keterpesonaan. Bocah itu tidak paham jenis kelamin.

Dia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela

Menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya: apa gerangan yang di luar semesta

Dan apa gerangan yang di luar luar-semesta, dan terus saja menunggu

Sebab serasa ada  yang akan lewat memberitahukan hal itu padanya

Dan ia terus bertanya-tanya

Kita terbentur dan pesoalan belum selesai. Dalam Catatan Masa Kecil 3 memang tidak ada identitas, dan begitulah keinginan sains untuk selalu menjauh dari hal-ikhwal berbau antroposentris. Tapi tidakkah bisa kita endus, Catatan Masa Kecil 3 sebagai seni yang ditulis laki-laki, seni yang lahir dari mayoritas, dari satu tempat nyaman. Olehnya, gampang saja dia berkata: pada mulanya sains adalah ketakjuban. Lalu bagaimana nasib sesuatu yang didefiniskan oleh kebudayaan sebagai di luar kelelakian, di luar mayoritas. Adakah dia diberi tempat untuk ketakjubannya, keterpesonaanya?

 Lagi-lagi benar, soal identitas hanya membuat kita berputar-putar dan tak kunjung mendapatkan pengetahuan: bagaimana awal mula sains?

 Chantal Mouffe dan Ernesto Laclau pernah menyerukan: Kehidupan adalah tata hegemonik, selalu ada mayoritas yang memegang kendali definitif. Laclau dan Mouffe juga menegaskan bahwa sesuatu yang didefinisikan,  minoritas itu (harus) selalu menggugat, melawan dengan berbagai strategi. Olehnya kehidupan adalah ketegangan acak yang kerapkali tak rasional, tarik ulur antar rupa-rupa kekuasaan. Jauh dari tindak rasional diskursif seperti tata yang dibayangkan Habermas sebagai Demokrasi Deliberatif.

Jika sains bagian dari kehidupan, tentu dia harus mengakui keberadaan ketegangan acak tak rasional, tarik ulur antar rupa-rupa kekuasaan. Antara yang “berhak” mendefinsikan dan yang terdefinisikan. Membaca sejarah sains adalah membaca bagaimana identitas  dikukuhkan, juga membaca tiap-tiap yang disisihkan demi satu posisi identitatif mantap.

Jika sains pada mulanya adalah keterpesonaan, maka seseorang boleh bertanya: bisakah keterpesonaan lahir dan mendapat maujudnya dari satu kesenyapan sosial, politik, dan kebudayaan? Keterpesonaan macam apa yang meletup–letup tanpa terjalin-ikat  dengan satu kehendak mendefinsikan identitas di tenggah hirukpikuk hegemoni ruang sosial-politik.

Kehendak mendefinisikan diri, merebut hagemoni definitif, menandai satu keterbukaan dalam memahami diri. Identitas bukan satu bentuk kukuh, dia amat naratif, dia lahir dari dialog sebagai maujud mediasi subjek-objek, manusia dan dunianya, sebagaimana dijelaskan Paul Ricour dalam konsepnya mengenai identitas naratif.

Sains bisa kita pahami sebagai jalan tidak satu-satunya untuk proses penceritaan identitas terbuka. Hubungan manusia dan dunia membahasakan dirinya lewat sains sebagai proses hermeneutik untuk memahami posisi diri berada dalam tegang Concordance dan discordence. Tegang yang terus-menerus terkena perubahan dan untuk kembali memunculkan celah reinterpretasi.

Identitas dipahami sebagai penerimaan terus-menerus bahwa kita bagian dari proses interpretasi dan reinterpretasi. Kita terlibat dalam evolusi konstan di mana masa lalu sedang diintegrasikan ke masa kini, dan masa kini menyempurnakan persepsi atas masa lalu dan menyusun definisinya sendiri.

Ricoeur menegaskan, bahwa sementara berlangsung kehidupan, kehidupan itu sendiri dapat dipahami sebagai terungkapnya narasi. Kehidupan adalah cerita terbuka yang terus kembali diriwayatkan dalam terang refleksi dan pengalaman: “Belajar untuk menceritakan diri sendiri juga belajar bagaimana menceritakan diri dengan berbagai cara”, kata Ricoeur. Konsep Ricoeurian ini tepat dipahami sebagai apa yang pernah menjadi judul esainya, Life: A Story in Search of a Narrator,  ia membuka esai tersebut dengan kata-kata berikut: “Bahwa hidup harus dilakukan seperti narasi, berawal dari tahu dan berkata ; kita berbicara tentang kisah hidup untuk mengkarakterisasi interval (jeda) antara kelahiran dan kematian”. Namun, Ricoeur menambahkan catatan peringatan: “hal tersebut menunjuk bahwa kita hidup dalam sejarah yang seharusnya tidak otomatis; tetapi harus dialami (keterlibatan) penuh dengan keraguan kritis” .

***

Sains (ilmu alam)sebagai domain yang seolah paling sahih berbicara kebenaran secara tepat, ternyata tidak mungkin berkembang tanpa pembukaan cakrawala individualitas ilmuwan ke arah kolektivitasnnya sebagai komunitas ilmiah. Tiada teori sains yang merupakan hasil individual perampatan-empiris atas data terinderai. Sains mantap menjadi sains ketika telah mengalamai tambal-sulam teoretik antar ilmuwan dalam komunitas ilmiah-sosial, inilah yang disebut Dominique Vink sebagai Social Structure of Science.

Dalam pengembaraan bocah itu tak juga menjadi ilmuwan, atau barangkali dia tidak ingin mejadi ilmuwan. Tidak ada bekal yang cukup untuk itu. Satu-satunya yang dia inginkan adalah memahami suara purba soal sangkan-paran: “ siapa dirinya?” “dari dan akan kemana dirinya?”

 Akhirnya dia tahu, betapa istimewa pertanyaan itu. Seolah dirinya adalah pusat dunia. Tapi dia juga tahu, dunia tempatnya tinggal bukanlah pusat. Dunia-nya adalah periferi dari sebuah pusat peradaban amat jauh, titik terluar yang mensuplai segala keperluan untuk meneguhkan satu dominasi. Dunia-nya didefiniskan bukan mendefenisikan, dunia-nya adalah “kebun belakang” tempat rumah besar kolonialisme mengambil kekayaan sumber daya untuk menyusun fondasi-fondasi kekuasaanya. Rumah besar itu telah runtuh, kebun belakang pun sedang bergerak merangkai rupa-rupa semangat kemandirian pascakolonial.

Kolonialisme dalam bentuk klasiknya memang tak pernah menyentuh pori-pori kulit generasi 2000an. Tapi dari kata, bahasa, buku, dan narasi-narasi sejarah ada tunjuk ajar: penindasan, penistaan kemanusiaan bisa dihayati lewat bahasa.

 Dan satu hal: kolonialisme sebagai maujud politik hegemoni tidak berhenti setelah kata merdeka bebas diteriakkan di tiap-tiap gang. Di bawah bendera yang berkibar, di antara riuh teriakkan merdeka, hasrat mekolonikan sesama tumbuh diam-diam.

  Dalam dunia yang hanya “kebun belakang”, soal kebenaran bukan melulu apa yang “paling” tapi juga apa yang “tepat”. Apa yang paling A belum tentu tepat dalam ruang berjenjang antara C-D. Dia beralih: bukan apa itu kebenaran, keindahan, dan keadilan tapi bagaimana suara yang paling tepat/layak di antara ketiganya dalam kondisi temporal tertentukan. Bagaimana rupa-rupa suara keindahan, kebenaran dan keadilan berdaya. Sekaligus sesuai untuk membuka matanya dan orang-orang disekitarnya yang hendak ia dengar detak jantungnya.

Sesuatu yang dicari tidak berada di tempat yang jauh, tapi berada di depan matanya. Pusat, titik tumpu itu dirubah dari dunia awang-awang, dari maya ke sesuatu yang nyata, di depan mata.

***

 Bukan bagaimana awal mula sains, tapi bagaimana ilmu pengetahuan menutupi rupa-rupa hagemoni yang saling tarik-menarik. “Yang Politik” selalu menselusup dalam berbagai suara. Abad ke 20 adalah abad kekuasaan membahasakan dirinya lewat berbagai cara. Saat itulah identitas, sang “Aku” yang berbeda dari definisi pemegang hagemoni dengan semena-mena  didefinisikan sebagai penyakit, alteritas, ketidaknormalan, ketidakberadaban.

Awal abad 20 dibuka dengan adegan “pembersihan” segala rupa “Aku” di luar yang hegemonik: Riset eugenik Nazi Hitler,  penerjemahan sosialisme Stalin, Mao,Pol Pot, dan Demokrasi Pancasila Soeharto atau…… (diri kita sendiri ketika jijik terhadap segala rupa alteritas). Ilmu pengetahuan diam-diam membantu atau bahkan memperindah dan mempelancar adegan-adegan pembersihan, lewat sumbangan definitifnya atas siapa dan apa yang menjijikan, barbar,  tidakberkeadaban.

***

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Gouverneur_Bijleveld_met_Sultan_Hamengkoe_Boewono_VIII_tijdens_een_bezoek_aan_de_Kraton_van_de_Sultan_van_Jogjakarta_TMnr_60033546.jpgPada 1830-1840 para ilmuwan Belanda dan pegawai negara kolonial menghidupan komunitas ilmiah Genootschap der Konsten en Wetenschappen  sebagai bentuk komunitas para cendekiawan yang tertarik pada sejarah alam (biologi naturalis) dan disiplin ilmu lainnya. Komunitas tersebut memiliki penerbitan berkala. Mengadakan diskusi rutin, serta program penelitian berkelanjutan. Pada 1853 mereka mengadakan pekan raya populer untuk menunjukkan pencapaian kerja komunitas ilmiah di negara koloni.

Ilmu pengetahuan profesional dalam bentuknya sebagai komunitas ilmiah mengalami puncaknya pada 1900-an, terutama dengan perluasan kebun raya di Buitenzorg (Bogor). Seorang pakar boilogi Melchior Treub menciptakan satu kewenangan ilmu pengetahuan di kalangan pejabat kolonial.

Setelah menjadi direktur kebun raya Bogor pada 1880, Treub mambangun laboratorium peneliti tamu yang menerima kunjungan dari Eropa dan Amerika Utara. Kemudian Treub mengangkat profil kebun raya dengan jalan meyakinkan warga kolonial, terutama penjabat kolonial, bahwa Hindia Belanda bisa menjadi satu tempat bagi lembaga-lembaga ilmiah kelas dunia.

Aktivitas ilmiah yang digalakkan Belanda di negara kolonial secara umum adalah manifestasi dari politik etis. Di akhir abad ke 19 para birokrat Belanda diminta melakukan observasi kehidupan masyarakat pribumi. Selain itu mereka juga ditugaskan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat pribumi dengan tidak hanya memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga menyelaraskan kehidupan pribumi agar sesuai dengan kebijakan kolonial.

 Pendirian lembaga ilmiah maupun jurnal ilmiah dapat dilihat sebagai tanda bertumbuhnya minat para elite Eropa terhadap kehidupan kolonial. Guna mengatur koloni dengan rapih, pihak kolonial pada saat itu beranggapan bahwa mereka tidak hanya membutuhkan tentara dan armada laut kuat serta birokrat terlatih. Tetapi juga, pemahaman ilmiah terhadap kehidupan masyarakat pribumi.

Komunitas ilmuwan bentukan pemerintah Belanda di negara koloni erat kaitanya dengan tujuan-tujuan politik kekuasaan, sebab satu anggapan bahwa masyarakat koloni adalah masyarakat barbar yang belum tercerahkan. Secara sosiologis uraian di atas juga menunjukkan bahwa interaksi antara ilmuwan dan kekuasaan (pemerintah) adalah sebuah interaksi yang berpola penertiban aktivitas ilmiah di bawah satu kontrol pemerintah. Tujuannya agar ilmuwan tidak bekerja secara mandiri-individual, tetapi ilmuwan bekerja sebagai komunitas legal dan tentu mejadi pelayan kepentingan politik-ekonomi negara kolonial

Salah satu pola pengembangan kegiatan ilmiah yang dicatat oleh Dominique Vink pada akhir abad ke 19 adalah pengunaan institusi politik (negara) untuk mengendalikan aktivitas ilmiah, mengarahkannya untuk mendukung kegiatan industri. Ilmu menjadi satu cara meneguhkan kedudukan rezim demi mencapai satu tujuan nasionalisme. Nasionalisme dalam artian kesetiaan pada rezim politik digambarkan sebagai sikap yang harus dimiliki oleh setiap ilmuwan dan kemudian mendasari aktivitas ilmiahnya. Apa yang terjadi di akhir kolonialisme Hindia-Belanda bisa kita lihat sebagai upaya negara (rezim kolonial) mengorganisir dan membentuk komunitas ilmuwan guna tujuan politik.

Pada 1918 para elite ilmuwan pribumi (lulusan sekolah kedokteran STOVIA) Sowardi Soerjaningrat, Tjipto Mangunkusumo, Ratoe Langie -mewakili elite terpelajar yang didik dalam gaya pendidikan Barat-. Mereka melakukan protes. Para elite itu berharap negara kolonial Belanda akan membantu mereka memperluas pendidikan ilmiah di Indonesia dan sebab itu dapat menambah wewenang dan makna pengetahuan.

Namun, harapan ilmuwan pribumi tersebut ternyata tidak sesuai dengan tujuan kolonialisme Belanda. Pemerintah kolonial menyediakan pendidikan gaya barat bagi pribumi bukan untuk menciptakan golongan baru ilmuwan dalam masyarakat pribumi. Tetapi untuk, menjadikan mereka alat eksploitasi kekayaan alam Indonesia dan pesuruh-pesuruh Belanda.

Belanda juga merancang satu kebijakan agar masyarakat pribumi selamanya berada di luar kancah ilmu pengetahuan. Kebijakan ditempuh dengan peraturan pemerintah kolonial mengenai hukum adat, dan tradisi lokal yang ketat sehingga membatasi gerak kaum pribumi. Kebijakan itu berdampak menciptakan satu kelompok pribumi yang disebut sejarahwan Robert van Neil sebagai elite fungsional. Sebuah kelompok yang mengejar ijazah pendidikan Barat dan pekerjaan di lingkup pemerintah bahkan saat tekanan untuk menata ulang negara koloni dan sistem kenegaraan Barat (Belanda) memudar.

***

Pada Juli 2008, di kota Eremo Italia seorang muda 21 tahun menulis sebuah manifesto, sekeping impianya tentang tata dunia. Guirilla Open Acces Manifesto oleh Aaron Swatz dibuka dengan kalimat hampir serupa yang diserukan Francis Bacon di peralihan abad 15, tapi dengan semangat berbeda: Information is power. But like all power, there are those who want to keep it for themselves.

Jika Bacon berseru pengetahuan sebagai maujud kekuasaan, sebuah kehendak penyatuan. Aaron membayangkan sesuatu yang lain: pengetahuan adalah jalan melawan kekuasaan yang selalu meneguhkan dominasi. Pengetahuan –lewat aksesnya yang bebas- adalah upaya menghapus batas-batas relasi dominasi politis tuan-hamba.

Biar dunia cukup dengan pembagian kuasa politik-ekonomi -negara dunia pertama, ketiga- tapi pengetahuan harus melintas batas dominasi politik ekonomi. Bangsa-bangsa Afrika, Asia mempunyai hak yang sama atas informasi scientific. Dia tahu selama ini pengetahuan hanya dinikmati dengan bebas oleh mereka yang memiliki kekuasaan ekonomi-politik.

 Dia membayangkan sebuah dunia setara lewat satu akses terbuka pada ilmu pengetahuan : The world’s entire scientific and cultural heritage, published over centuries in books and journals, is increasingly being digitized and locked up by a handful of private corporatios. Seorang Amerika itu tahu, negaranya adalah penguasa dalam berbagai hal, termasuk ilmu pengetahuan.

 Pada bulan September 2010, Swartz mendirikan organisasi aktivis Demand Progress sebagai reaksi atas kebijakan Stop Online Piracy Act (SOPA) pemerintah Amerika Serikat. Sepanjang tahun 2011, Swartz bersama teman-temannya mengatur protes internet besar-besaran pada Januari 2012. Aktivitas Swatz berdampak positif pada pembatalan undang-undang penyensoran jagat maya.

 Swartz memang orang yang tidak sabaran. Dengan bakat luar biasa dan semangat yang berapi-api, dia punya kencenderungan untuk menghadapi segala sesuatu dengan frontal, bila perlu melawan pihak berwenang ataupun aturan yang berlaku. Dia memiliki cara pandang sendiri yang tak selalu sesuai dengan keadaan dunia sekitarnya.

Selama beberapa tahun, sifatnya itu membawa dampak positif, sampai akhirnya Swartz terperosok ke dalam lubang yang sangat dalam. Dalam rangka menyebarkan pandangannya soal akses publik terhadap informasi, dalam rentang waktu antara akhir 2010 hingga awal 2011, Swartz memanfaatkan kelemahan dalam sistem arsip jurnal akademis JSTOR milik Massachusetts Institute of Technology (MIT) untuk mengunduh sekitar 4,8 juta dokumen digital. Dia berniat membagikannya secara gratis di internet.

MIT menyadari apa yang terjadi dan memutus jaringan wireless yang digunakan Swartz untuk mengunduh (download) hampir seluruh isi perpustakaan digital tersebut. Dia tidak menyerah, Swartz nekat menyusup ke dalam ruang server MIT lalu menghubungkan laptop miliknya secara langsung ke jaringan kampus.

Menginjak umurnya ke 20 dia pergi berpisah dari rumah keluarganya,dunia mungkin melihatnya masih sebagai bocah. Aaron Swartz memilih tinggal di Apartemen. Sebagai (bocah) manusia dia punya rasa takut, dia hidup dalam kecemasan, dalam catatan pribadinya dia menulis: everthing colored by sadness.

Menginjak umur ke 24 kecemasan, rasa takut itu amat tak tertanggungkan, ketika pemerintah Amerika dan pihak Jurnal Ilmiah yang dia bobol menuntut Swartz, akibat tindak pidana peretasan. Bulan Juli 2011 Dia menghadapi ancaman penjara puluhan tahun dan denda besar.

Di apartemen miliknya di New York, Amerika Serikat, Jumat (11/1/2013) akhirnya ia memutuskan satu jalan akhir untuk bahasa perlawananya: BUNUH DIRI, KEMATIAN. Dia mengakhiri nyawanya dengan cara gantung diri. Ada kekuasaan yang menekannya habis-habisan atas nama orisinalitas dan kewibawaan ilmiah.

Upacara pemakamannya pada 16 Januari 2013 ramai oleh mereka dari berbagai kalangan. Dari tua hingga muda, dari ilmuwan hingga anak punk. Bocah itu telah mati, dia adalah simbol kecil tentang perlawanan yang tak hendak usai.

Dia tidak bertanya apa itu kebenaran, keindahan dan keadilan, tapi dia tahu apa yang dibutuhkan mereka yang selama ini hanya menjadi hamba. Swartz membuka jalan bagi proses peluruhan hegemoni ilmu pengetahuan. Hanya dengan akses ilmu pengetahuan yang bebas, setiap subjek terhegemoni bisa menemukan jalan untuk menarasikan sendiri identitasnya tanpa rasa takut.

Kehidupan sebagai terungkapnya rupa-rupa narasi identitas terbuka, seperti ditegaskan Ricoeur tiba-tiba saja tersendat ketika ‘yang kuasa’ melebihi segala. Proses naratif bagi yang dibawah hagemoni terasa ngilu, dia harus merunduk bahkan merayap-rayap di antar hiruk-pikuk. Di antara kerumunan ada yang diam-diam mendustakan duka dan kesedihannya lewat gelak tawa.

***

Di sebuah warung kopi dalam rentang tahun 1907-1911 para ilmuwan Jerman sering berkumpul mendiksusikan soal filsafat dan sains. Kelompok ilmuwan yang diorganisir oleh Moritz Schlick itu kemudian hari dikenal sebagai kelompok Lingkaran Wina (Wiener Kreis). Sebuah kelompok diksusi kecil, berangotakan mayoritas laki-laki Rudolf Carnap, Herbert Feigl, Kurt Godel, dan Otto Neurath. Kelompok ilmuwan inilah yang dikemudian hari berperan besar dalam menetukan orientasi filsafat yang sesuai dengan perkembangan sains.

Dalam rentang historis kelompok kecil Lingkaran Wina lahir sebagai respon atas totalitarianisme dan segala rupa kekejaman selama dan pasca perang dunia ke I dan II. Dalam manifesto-nya pada 1926 ditetapkan tujuan aktivitas ilmiah: memperjuangkan gerakan kultural menuju penataan sosial dan ekonomi baru, penyatuan umat manusia, reformasi sekolah, dan pendidikan.

Ativitas Lingkaran Wina bukan tanpa halangan, pada 1934 ketika Eropa dalam kecamuk perang dan kekuasaan Hitler semakin menguat,seluruh anggota Lingkaran Wina karut-marut. Fasisme Nazi menguasai Austria dan para ilmuwan berlarian ke berbagai negara untuk menyelamatkan diri. Di berbagai universitas di Jerman 1600 akedemisi kehilangan jabatan semata karena alasan rasial.

Dalam kondisi kacau itulah ada seorang anggota Lingkaran Wina: Rose Rand, seorang perempuan satu-satunya. Pada 1938 Rose Rand terpaksa melarikan diri dari Austria setelah Hitler menguasai kota tersebut. Dia menyelamatkan diri ke Inggris, identitasnya sebagai keturunan Yahudi tentu sangat dibenci fasisme Nazi.

Dalam posisi seperti Rose Rand sains bukan melulu soal ketakjuban murni yang asali. Sejak di Lingkaran Wina pun dia tahu posisinya tidak mudah, sebagai minoritas –perempuan- di tengah dominasi para ilmuwan laki-laki. Segala tanya yang lahir dari ketakjuban dan keterpesonaan bagi seorang minoritas harus diutarakan antara getar keterpesonaan dan gentar akibat tekanan kuasa mayoritas.

“I know her strangeness” tulis Otto Neurath dalam suratnya pada Esther Simpson, sekertaris Society for the Protection of Science and Learning, tertanggal 6 Desember 1941. Seorang terasing yang dimaksud dalam surat itu adalah Rose Rand.

Barangkali Neurath hendak bersimpati atau berusaha memahami posisi Rand sebagai seorang perempuan Yahudi. Menjadi perempuan saja tidak mudah dalam kebudayaan yang didominasi mata patriarkhi, apalagi menjadi  seorang Yahudi disaat politik fasis-rasial Nazi mencapai puncaknya. Dalam surat itu Neurath juga menulis “I know how difficult it is to help her without providing for her a minimum in privacy.” Neurath mengakhiri surat tersebut dengan satu kalimat bernada peneguhan “What a sad world.”

Dalam masa pelariannya di Inggris Rand berusaha mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlianya sebagai  seorang ilmuwan. Di masa sulit itulah barangkali dia akhirnya tahu statusnya sebagai ilmuwan tak amat berharga sebab kedegilan ambisi kekuasaan politik telah merampas semuanya.

Posisinya sebagai minoritas tidak menguntungkan, di tenggah usaha mencari pekerjaan, Rand ditawari bekerja sebagai buruh di pabrik logam. Saat ditawari bekerja monoton sebagai buruh pabrik Rand dengan tegas mengatakan: “Saya ingin terlihat seperti seorang wanita, tidak seperti pekerja pabrik” “I want to look like a lady, not like a factory worker”

Dia hanya ingin dinilai sebagai perempuan. Sebuah identitas asali, identitas yang ternyata tidak melulu merujuk pada kode biologis. Dalam ruang sosial-politik kerapkali identitas adalah soal bagaimana hegemoni mayoritas meneguhkan delusi-delusi konseptualnya atas siapa itu perempuan dan siapa laki-laki. Pada akhirnya Rand tidak ingin dilihat sebagai ilmuwan, atau rupa-rupa identitas lain, dia dengan teguh hanya ingin dilihat sebagai seorang wanita!.

***

Ketakjuban, keterpesonaan seorang minoritas atas dunia yang kemudian melahirkan segala rupa pengetahuan kerapkali harus bungkam di tenggah kuasa politik mayoritas. Jalan meneguhkan identitas itu amat berliku dan kerapkali tidak se-terbuka dan natarif seperti dalam konsepsi Ricoeur.

Ilmu pengetahuan selamanya bisa menjadi hal teramat mewah bagi mereka yang ditekan kostruksi mayoritas. Seorang minoritas sebelum mengalirkan dan menerjemahkan daya ketakjubannya menuju jalan dan bahasa keilmuwan,  harus bersusah payah menyelesaikan problem identitasnya.

Problem yang tidak selamanya melulu urusan individual dengan pertanyaan mewah: siapa sebenarnya dirinya? Tapi juga urusan bagaimana melawan hagemoni mayoritas dalam rupa-rupa pertarungan makna di ruang-ruang sosial keseharian. Sebuah ruang tempat segala rupa purbasangka, kasak-kusuk, umpatan disemai di atas lemahnya kemauan tukar nalar dan saling memahami.

Dalam pertarungan makna yang kerapkali diselubungi ketidakadilan. Mayoritas selalu lebih berkuasa menentukan satu bentuk identitas A sebagai bentuk kepenuhan, kemudian diikuti legitimasi moralistik: baik, benar, normal, tidak normal, menyimpang, kutukan, berkah dan lain-lain.

Di tengah hiruk-pikuk pertarungan makna, bagaimana nasib seorang bocah yang tidak tahu apa-apa? Yang terpesona pada gugus bintang di kelam langit malam. Seorang bocah hanya terpesona pada cahaya bintang, tanpa harus tahu di balik kelam langit malam tersembunyi sejuta misteri, mitos, yang dihidupkan seorang baginda raja tua. Sang raja siap menerkam siapa saja yang mengugat misteri dan mitos itu. Bagaimana nasib bocah itu?

 Referensi:

  1. Goss, Andrew, Belenggu Ilmuwan dan Pengetahuan, Jakarta: Komunitas Bambu, 2011.
  2. Vink, Dominique, The Sociology of Scientific Work: The Fundamental Relationship between Science and Society, UK: Edward Elgar Publishing Limited, 2010.
  3. Samuel, Hanneman, Genealogi Kekuasaan Ilmu Sosial di Indonesia, Jakarta, Kepik Ungu, 2010.
  4. Rentetzi, Maria, ‘I Want To Look Like a Lady, Not Like a Factory Worker, Rose Rand a Women Philosopher of the Vienne Circle’, Mauricio Suarez dan Mauro Durato (eds), EPSA Epistemology and Methodology of Science, vol 1, London: Springer dan European Philosophy of Science Assosiation, 2010.
  5. Sastrowardoyo Subagio, Dan Kematian Makin Akrab, Jakarta: Grasindo, 1995
  6. O’Dwyer, Kathleen, Paul Ricoeur: The Intersection Between Solitude and Connection, dalam Jurnal Lyceum Philosophy, Musim Gugur, vol.XI no.1, Manchaster: Saint Anselm College Philosophy Department, 1988.
  7. Macfarquhar, Larissa, Requiem for a Dream, Newyorker, American Chronicles,  MARCH 11, 2013 ISSUE diakses dari http://www.newyorker.com/magazine/2013/03/11/requiem-for-a-dream
  8. Film The Internet’s Own Boy: The Story of Aaron Swartzwritten,  by Brian Knappenberger, 2014 .
Advertisements

One thought on “Bocah yang Belajar Menuturkan Identitas (Soal Relasi Pengembangan Ilmu, Politik dan Identitas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s