Cinta dan Kekuasan Diktator*

Nidhi Eoseewong[1]

Agustus tahun lalu, koran Prachatai menurunkan berita utama berjudul North Korean woman’s eyes opened after watching Titanic. Saya bergegas untuk membaca berita itu secara rinci. Saya penasaran, bagaimana sebuah film telah berhasil membawa pencerahan, membuka mata seseorang.

Kita tahu dari berita itu, bahwa bukan hanya satu film yang mencerahkan, dan membuka mata Park Yeonmi[2] : Park Yeonmi melarikan diri dari negaranya –Korea Utara- dan kini telah berada di Korea Selatan.  Park Yeonmi menuturkan bahwa ada sekelompok warga Korea Utara yang gemar menonton film asing, walaupun di Korea Utara menonton film asing adalah bentuk kejahatan. Satu film India atau film Rusia yang anda tonton bisa membuat anda masuk penjara tiga tahun. Sebuah film Amerika cukup untuk mengantarkan anda ke hadapan algojo; hukuman mati. Akan tetapi, tetap ada yang diam-diam membeli dan menonton film-film asing, walau mungkin dengan perasaan was-was.

Park Yeonmi tinggal di sebuah ruangan kecil, dari ruangan itulah perlawanan terbukanya pada rupa-rupa kekuasaan totaliter-diktator di Korea Utara tumbuh. Tidak hanya diam-diam  menonton film asing, ayah Park Yeonmi juga pernah dipenjara sebab menjual baja ke Cina. Kemungkinan besar keluarganya terlibat perdagangan gelap.

Setelah menonton film Titanic Park Yeonmi memberikan komentar “Saya merasa sangat terkejut setelah menonton Titanic. Saya melihat bahwa ada seorang pria yang rela mengorbankan hidupnya bagi seorang wanita, seakan untuk bangsa …. pada waktu itu saya merasa bahwa ada sesuatu yang serba salah dengan semua orang yang tertarik cinta, mereka tidak peduli warna kulit , budaya mereka, atau bahasa apa yang mereka gunakan. Siapa pun mereka, mereka berbeda dari saya. “

Bagi saya, dari komentar  Park Yeonmi, terlihat bagaimana dia memahami cinta sebagai sesuatu yang natural, yang amat asali dan alami. Cinta menembus segala batas yang diciptakan kehidupan sosial-kebudayaan. Tapi ketika dia berkata “ mereka berbeda dari saya” terlihat bagaimana Park Yeonmi teringgat fakta bahwa pasukan pemerintah Korea Utara sedang melatih orang-orang untuk mengabaikan cinta, sekaligus juga mencetak penduduk Korea Utara yang selalu menentang kodrat alamiahnya untuk mencintai.

***

DSCN6482

Mawar di Meja Kost (2013)

Di Thailland sebagian dari penulis dan para sastrawan memahami cinta seperti halnya pemahaman Park Yeonmi.Cinta adalah satu bentuk daya rasa-merasa yang alamiah: cinta  seperti ke-alamiah-an: ketika kita tidak kuat menahan kantuk, lapar, atau ketika kita merasa takut. Cinta adalah daya merasa yang bisa tumbuh dimana saja: dia bisa tumbuh di hati seseorang tanpa harus ada alasan.

Memahami cinta seperti di atas, bagi saya adalah bentuk kesalahpahaman. Cinta itu lahir dari satu konteks kebudayaan. Tidak ada cinta yang muncul secara alami. Kesalahpahaman itu barangkali tidak teramat penting bagi seseorang, tapi persis dari salahpaham itu, lahir momen kegagalan kita memahami mengapa kekuasaan diktator-totaliter tumbuh dan harus menjadi musuh cinta.

Guna menjernihkan persoalan, kita harus memulai dengan membedakan antara cinta dan bentuk hubungan antarmanusia lainya. Bahwa kita cinta kepada orang tua sebab hidup kita mau tidak mau terhubung dengan mereka. Kita tidak hanya terikat dengan mereka secara langsung, tetapi secara tidak langsung ada hubungan yang diam-diam terjalin dengan orang lain, berawal dari hubungan kita dengan orang tua. Hubungan itu adalah bentuk keterikatan, yang tidak melulu individual-material, yang menunjukan satu hal: keterikatan dengan mereka menembus batas individualitas. Olehnya, kita masih mencintai orang tua kita, walaupun mereka telah meninggal. Cinta tidak gampang megerut, terurai dan hilang. Atau dengan kata lain ada sesuatu dari cinta yang membuat kita terikat dengan sesuatu yang telah hilang, sesuatu yang hanya memori.

Cinta adalah rasa memiliki yang dimiliki individu atas orang lain. Seorang mungkin tidak lagi memiliki satu hubungan, atau tidak memiliki waktu yang lama untuk bersama. Tapi salah satunya masih bisa menumbuhkan cinta. Sebab itu cinta berbeda dengan satu bentuk hubungan yang mengharuskan keterkaitan fisik (kebersamaan). Cinta selalu tumbuh dan dikendalikan oleh sesuatu yang berada di luar diri manusia, cinta diam-diam terkait dengan hukum, ekonomi, tradisi dan lain-lain. Kenyataan keterkaitan cinta dengan kondisi sosial-budaya itulah yang menyebabkan kita rancu jika hanya memahami cinta sebagai suatu yang alamiah (nature), dalam pengertian kebertentangannya dengan kebudayaan-sosial (nurture).

Oleh karena itu, cinta bukan semata hal alamiah. Cinta adalah budaya. Cinta adalah hubungan sosial yang kita bangun di tengah-tengah iklim dunia modern. Dunia modern adalah sebuah dunia yang telah memberi kesadaran tentang individualitas manusia. Tetapi pemahaman tentang cinta tersebut, tidak serta merta membuat kita bisa mengatakan bahwa orang-orang kuno tidak memiliki bentuk hubungan cinta seperti yang telah saya jelaskan. Orang-orang kuno memiliki perasaan dan kesadaran yang sama soal cinta, tetapi pemahaman tentang keterkaitanya dengan dunia sosial-kebudayaan bukan sesuatu yang penting. Mereka tidak memahami cinta sebagai dasar hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkungan sosial.

Tanpa bentuk kesadaran baru tentang makna cinta, kita tidak bisa memiliki cinta sebagaimana yang kita kenal sekarang. Tanpa itu kita juga tidak dapat memiliki kesadaran yang baik tentang kebebasan manusia. Hal itu terjadi sebab Liberalisme Barat menyandarkan dirinya atas konsepsi individualisme. Sebuah bentuk kesadaran tentang kebebasan manusia untuk memiliki hak yang sama, dan setiap orang bebas mengekspresikan hak individulitasnya, setiap orang ber-hak atas kekhususan yang membuatnya berbeda dengan orang lain.

Tepat pada titik pemahaman di atas, cinta adalah ancaman berbahaya bagi segala bentuk kediktatoran kekuasaan. Keberbahayaan cinta bagi rejim totaliter bisa kita lihat dari kasus Park Yeonmi dan perlawanannya atas bentuk kediktatoran di Korea Utara, atau bisa kita lihat dalam gambaran kondisi kekuasaan di Oceania yang dilukiskan George Orwell dalam karya 1984.

Cinta, daya kedirian, semangat kepahlawanan (laki-laki dan perempuan) dan perlawanan adalah kata kunci untuk memahami karya Orwell 1984. Seorang perempuan bertemu dengan laki-laki di sudut kecil sebuah gang yang tidak terjangkau kekuasaan negara. Kesadaran mereka berdua akan individulitas sebagai kemandirian maujud lewat perasaan jijik mereka terhadap kekuasaan diktatorial negara. Rasa jijik mereka terhadap negara timbul akibat bentuk totalitarian kekuasaan yang tidak memberi ruang bagi siapa saja untuk menjadi individu yang bebas “menamakan” dirinya sendiri. Ada represi.

Apa yang dilakukan dua pasangan itu dilihat negara sebagai bentuk “kejahatan”. Negara demi melangengkan tata totaliternya menekan mereka “ mereka harus menyesuaikan diri dengan tata totaliter negara” represi dan penekanan itu lebih penting daripada membunuh atau menghilangkan mereka. Hal tersebut terjadi sebab mereka berbahaya bukan karena keberadaannya sebagai manifestasi dua pasangan laki-laki dan perempuan, tetapi bahaya mereka justru maujud dalam bentuk kesadaran mereka tentang individualitas sebagai bentuk ekspresi kemandirian identitas yang hendak mengelak. Negara totaliter harus “membunuh” setiap kesadaran personal, daripada harus membunuh raga-raga individu. Sebab ketika timbul kesadaran diri, disitulah awal perlawanan.

Dan negara berhasil menunaikan tugasnya sebagai pembunuh kesadaran. Ketika dua orang itu terpisah dan bertemu kembali lalu keduanya merasa asing satu sama lain. Mereka tidak lagi bertemu sebagai Wiston dan Julia, mereka bertemu sebagai warga dari bentuk kekuasaan negara totaliler, tindakan, pikiran, emosi, dan kesadaran mereka telah sesuai dengan apa yang diinginkan negara. Walaupun mereka saling bertemu, membahas masa lalu dan pengalaman mereka, tapi masa lalu itu sudah tidak berarti kecuali hanya sebagai kepingan informasi. Masa lalu bagi mereka tidak menghasilkan satu makna yang baru dan lain, makna dari masa lalu mereka adalah ketundukan pada negara, sebuah makna yang dibuat negara sebagai sesuatu yang “tetap” dan telah tertanam.

Kediktatoran negara totaliter tidak bisa menerima jenis cinta yang menumbuhkan kesadaran tentang individualitas sebagai kemandirian. Titanic adalah reprensentasi sebuah novel sebagai karya roman biasa. Tetapi dalam Titanic juga ada sinyalemen kisah cinta yang melintasi batas kelas, keluarga, dan keturunan. Cerita berakhir dengan pengorbanan hidup seorang untuk orang yang dicintai. Dapatkah sebuah roman memberikan penekanan pada idividualitas cinta melebihi apa yang bisa dilakukan dalam Titanic?

Oleh sebab itu, Film Titanic mencolok bagi mereka yang hidup dalam masyarakat dengan kebebasan mutlak pada individulitas, tidak ada represi. Tapi film ini (seharusnya) mampu melahirkan rasa khawatir bagi orang-orang yang hidup dalam tata kekuasaan negara  diktator yang menekan individulitas sebagai bentuk kemandirian manusia. Sebagaimana dialami dan dicatat Park Yeonmi: mereka harus berkorban untuk bangsa, bukan untuk cinta melankolis antara seorang lelaki dengan wanita lajang.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah, kebijakan pemerintah Korea Utara untuk memblokir segala berita dari dunia luar. Hukuman bagi mereka yang diam-diam menonton film asing. Itu semua dilakukan untuk “melindungi” (membutakan mata) rakyat terhadap apa yang sedang bergerak dan terjadi di dunia luar. Menandakan apa semua itu bagi kita?

Hal di atas menunjukkan bagi kita, sebuah upaya negara untuk melemahkan kekuatan rakyatnya, tidak cukup kuat. Negara adalah penyedia “kebenaran” yang harus ditelan mentah-mentah rakyatnya. Olehnya, negara mencurigai setiap bentuk “kebenaran” alternatif, karena dapat menganggu stabilitas “kebenaran” yang sedang dikukuhkan negara.

Setiap bentuk kediktatoran selalu berusaha menutup segala akses informasi dan berita dari dunia luar. Tetapi hal tersebut sebenarnya tidak terlalu penting bagi kestabilan pembentukan dan pemeliharaan kekuasaan diktator, khususnya bagi segala laku totalitarian dari kekuasaan diktator.

***

Menurut sudut pandang Hannah Arendt, kediktatoran totaliter adalah fenomena dunia modern. Hal itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kuno. Saya akan memperluas sudut pandang Arendt, guna mendukung argumentasi bahwa bentuk kediktatoran totaliter yang terjadi sekarang sungguh berbeda dengan apa yang dulu terjadi dalam sejarah dunia modern. Dunia telah akrab dengan berbagai bentuk rejim yang lebih sering kita sebut sebagai tirani, kekuasaan yang ada untuk selamanya. Dan kediktatoran yang ada sekarang, entah bersifat totaliter atau tidak, sungguh berbeda dengan tirani.

Mari kita gunakan kerangka pikir kediktatoran totaliter untuk melihat fenomena kekuasaan secara mendalam.

Dalam tilikan Arendt kediktatoran totaliter ( atau era baru kediktatoran, dalam bahasa saya) memiliki dua instrumen penting: ideologi dan proses penciptaan rasa kagum.

Kekuasaan tiran juga mengunakan konstruksi rasa kagum (keterpesonaan). Tapi mereka berbeda dengan kediktatoran era baru. Tiran dapat membunuh setiap musuh-musuh mereka, atau mereka dapat mencurigai setiap aktivitas orang-orang yang diprasankai sebagai musuh. Tapi diktator mengunakan langkah-langkah menciptakan rasa takjub pada setiap orang, termasuk orang-orang yang berada di pihak mereka. Tujuan dari bentuk diktatorian di era baru ini bukan saja untuk menghilangkan musuh-musuh mereka, tetapi juga untuk mengamankan dominasi kekuasaanya secara menyeluruh. Mereka mengingginkan dominasi atas tubuh, pikiran, imajinasi, dan keinginan setiap warganya. Semua harus tunduk.

Di Korea Utara orang-orang menonton film-film asing hanya karena mereka ingin sesuatu yang baru, sebuah sukacita. Mereka tidak berpikir tentang mengulingkan kekuasaan negara. Tapi mereka harus dihukum berat, karena mereka berani mencari sebuah sukacita atau kekaguman yang baru, sebuah sukacita yang bisa jadi memprofokasi kesadaran baru bagi orang lain dalam skala lebih luas. (Park Yeonmi menceritakan upayanya untuk mengunakan sebuah stadion olahraga sebagai tempat menonton film bagi orang banyak)

Dengan cara yang halus itu –mengarahkan dan mengatur kekaguman- , kekuasaan diktator berhasil menciptakan sebuah gambaran bahwa mereka tidak bersalah, bahkan mereka yang berdiri di balik kekuasaan diktator jauh dari segala citra buruk sementara selalu ada rakyat yang ditekan hingga melarikan diri ke luar negeri, atau rakyat yang dijebak oleh pasal-pasal palsu dan diadili sebab kasus-kasus yang senyatanya tidak jelas.  Kediktatoran tidak mengambil tindakan penertiban langsung atau tindakan reaktif kasat mata, kekuasaan diktator mengkukuhkan dirinya lewat cara penertiban yang halus, gunanya untuk mencipta dan memobilisasi rasa takut dikalangan warganya. Ini semua dilakukan kekuasaan diktator untuk memimpin semua warga agar benar-benar melakukan sembah-sujud di bawah kekuasaannya.

Kediktatoran di Korea Utara tidak menjalankan efisensi dan operasi kekuasaanya sama dengan apa yang dilakukan kediktatoran totaliter Stalin atau Hitler. Tapi cara mereka semua memanfaatkan dan memobilisasi rasa takut sama saja.

Ketika kita mulai takut,pada saat itulah  kita telah kehilangan individualitas personal sebagai bentuk kemandirian kita. Dua strategi kekuasaan di atas sama –sama berbahaya. Tujuan kediktatoran di era baru ini adalah membuat kita semua merasa takut dan lari terbirit-birit di depan kekuasaan negara. Kita kehilangan keberanian untuk mengunakan kemandirian akal kita. Kita dibuat tidak berani melakukan apa-apa selain merasa mencintai, dan seruan saling mengkasihi,  kita memahami cinta sebagai satu hal yang amat emosional dan melankolis, tanpa akal !!

Satu waktu, saya pernah mendengar sebuah diktum asing : Tuhan tidak bisa merubah masa lalu kita. Tapi kita tahu Mao merubah sejarah cina dengan cara yang hampir sama dengan apa yang dilakukan Hitler dan Stalin saat merubah sejarah negaranya. Dan setelah itu kediktatoran gaya baru lainya berusaha mencoba melakukan hal yang sama.

***

Ideologi merupakan instrumen penting kediktatoran totaliter. Sebuah ideologi harus mampu mengendalikan masa depan, masa lalu, dan masa sekarang setiap manusia, sepenuhnya. Misal, ideologi tentang satu kelas dominan di masa lalu yang digunakan untuk menegaskan kuasanya memimpin masa depan. Ideologi kelas atau perjuangan kelas diam-diam menyimpan tujuan definitif tentang siapa yang akan menjadi kelas penguasa di  masa depan.

Dalam hal ini, bukan hanya kediktatoran totaliter yang membuat orang melakukan sembah-sujud di depan kekuasaan, sampai benar-benar tidak ada yang tersisa dari mereka. Kediktatoran totaliter mencipta rakyat yang bersedia sudi sujud di depan kekuasaanya, kemudian dari mereka-lah akan lahir orang-orang baru yang tidak kalah lebih menurut lagi dari generasi pendahulunya di masa lalu. Rakyat hanyalah bahan baku untuk mencipta sebuah masyarakat baru (regenerasi) yang sama taatnya. Dengan itu rakyat kehilangan atau dihilangkan nilai harkat martabatnya di depan kekuasaan negara diktator totaliter. Rakyat bisa disemprot gas sampai mati. Atau buang saja mereka yang sudah tidak berguna ke Siberia, agar kedinginan dan mati pula. Rakyat menjadi pupuk bagi tumbuhnya kekuasaan diktator totaliter. Semua “kebenaran” soal rakyat yang dibunuh negara bisa dikunci, disembunyikan  dan dilupakan. Selain itu, rakyat yang melawan negara bisa dikutuk atau di-cap saja sebagai pembrontak lewat siaran televisi.

 Saat ini, di Thailland kita sering membicarakan tentang infomasi alternatif, berita-berita yang berbeda dari arus utama. Tapi saya berpikir, ketidakmampuan negara memblokir berita dan informasi bukan satu-satunya penyebab kegoyahan kekuasaan negara diktator totaliter. Ideologi adalah soal yang lebih penting. Entah negara diktator totaliter maupun non-totaliter harus berhasil membuat ideologi mereka mendominasi hati dan pikiran warganya, sehingga setiap informasi dan berita tidak akan amat berbahaya. Hal ini sebab warga menerima informasi dengan terlebih dahulu sudah ada basis idelogi negara yang mantap dan hidup dalam dirinya. Misalnya berita tentang Jepang, Perancis, dan Jerman yang cukup kaya untuk membangun kereta kecepatan tinggi. Orang yang menerima berita ini mungkin akan merespon bahwa pekerja dan dirinya sebagai warga negara kurang diperlakukan keras oleh negara, negara harus dengan keras memeperlakukan para pekerja sebab hanya dengan itu uang bisa terkumpul dan kereta berkecepatan tinggi bisa dibangun untuk kemudian digunakan oleh para borjuis.

Jika kita berpikir untuk membandingkan semua ini dengan keadaan absen-nya ideologi, kita tidak dapat memberikan alasan yang tepat mengapa di negara kita kereta berkecapatan tinggi tidak bisa dibanggun, selain argumen bahwa kita belum siap untuk itu. Ketidaksiapan itu terkait dengan kondisi bahwa jalan-jalan di negara kita adalah jalan yang penuh krikil, bukan jalan aspal, tidak akan ada penumpang yang naik kereta, atau kereta itu malah kita gunakan untuk mengangkut kubis. Absenya ideologi juga membuat rakyat menyalahkan dirinya sendiri. Keberadaan negara terselamatkan dari kesalahan.

***

Kediktatorian di dunia modern belum mencapai tingkat totalitarianisme (atau kita bisa menyebutnya sebagai bentuk kediktatorian rendah?) Karena bentuknya yang belum sempurna sebagai maujud totalitarianisme maka kediktatoran itu harus menemukan sebuah ideologi untuk memperkuat rejim.  Hanya ideologi yang mereka temukan dan bangun tidak berperspektif meluas seperti sebuah doktrin rasialis atau marxisme, refrensi ideologis mereka hanya berpaut dengan nasionalisme.

Tapi nasionalisme adalah ideologi yang tidak selamanya menyediakan jalan mulus bagi kekuasaan diktator. Warga negara (kami) bisa mencintai negara dengan banyak cara. Cintaku pada bangsaku bisa berbeda dengan cara anda mencintai bangsa anda. Dengan kata lain nasionalisme masih menyediakan celah bagi kemunkinan tumbuhnya kesadaran pada diri setiap orang untuk mengembangkan kecerdasan dan menumbuhkan individualitas sebagai maujud persona kemandirian yang tidak takluk. Sebab, pada lain sisi, kenyataan menunjukkan bahwa kekuasaan diktator dapat memobilisasi kekuatan kelas untuk menciptakan satu definisi tunggal tentang bagaimana kita harus mencintai negara. Kecintaan pada komunalitas kelas bisa disusupi kehendak negera diktator untuk menunggalkan makna mencintai negara, sesuai dengan tafsir tunggal yang dikehendaki penguasa.

Lebih jauh lagi, kecintaan pada bangsa dapat menimbulkan dampak negatif, rendahnya kewajiban pada negara, untuk itu nasionalisme harus disandingkan dengan jenis ideologi lain. Hal tersebut karena nasionalisme tidak bertujuan menciptakan satu jenis masyarakat baru (misal: marxisme-kelas proletar)[3] atau mencipta lapisan baru manusia-manusia seperti umpamanya teori kelas. Oleh karena itu kediktatoran juga dapat bergantung pada nasionalisme untuk ikut campur tangan dalam kehidupan masyarakat –sekalipun mungkin dalam bentuk terbatas-.  Tugas besar yang diberikan pada rakyat misalnya dalam teori kelas adalah untuk membangun satu kelas proletariat yang universal. Hal itu seolah tugas yang amat manusiawi, tetapi di sana diam-diam terjadi reduksi pada individulitas setiap orang, walau amat kecil. Dengan berbagai bentuk ideologi yang dihidupkan dan disaling-sandingkan, setiap rupa kediktatoran dapat melangsungkan pembantain dan penindasan, lalu dalam selubung ideologi semua hal itu bisa terlihat amat rasional. Sebab, kediktatoran yang hanya beroperasi dalam satu bentuk formal ideologi nasionalis tidak bisa melakukan kesewenangan-wenangan dengan sempurna, hal itu justru akan terlihat amat bodoh dan tidak logis.

Kediktatoran yang terjadi di Korea Utara sama bentuknya dengan penjelasan saya di atas. Meskipun idelogi resmi rejim diktator itu adalah komunisme, tapi diam-diam nasionalisme sebagai rasa cinta pada kebangsaan juga ditumbuhkan di sana. Oleh karena itu pemerintah diktatornya amat takut dengan segala bentuk berita dan informasi baru, yang tidak sesuai dengan keinginan penguasa.

Pada akhirnya kediktatoran nasionalis (dan campuran ideologi lainya:komunisme) di Korea Utara yang tidak memiliki efisiensi dalam menjalankan hegemoninya, kesulitan dan kewalahan juga mengendalikan setiap berita dan informasi yang masuk ke negaranya. Pada akhirnya pun mereka harus mengunakan langkah-langkah yang biasa ditempuh oleh kekuasaan tiran. Sebuah bentuk tiran-diktator yang hidup dan bersembunyi dibalik dunia modern. Apakah anda akan menyebut pemimpin kekuasaan tiran-diktator itu sebagai “ Raja yang seorang Filsuf, Philosopher King” seperti kata Platon, atau “Dhammaraja” seperti kata Buddha, terserah anda, yang jelas rejim itu adalah bentuk yang amat ketinggalan dan menjijikkan untuk zaman ini. Sulit bagi mereka untuk tetap eksis di dunia modern sebagai bentuk negara ideal,  tanpa mengunakan  tindak kekerasan atau represi. Kekerasan dan represi adalah jalan sah satu-satunya bagi eksistensi bentuk kekuasaan tiran-diktator.

 Tapi bukankah, setiap bentuk kekerasan dan represi akan menyebabkan citra “Philosopher King” atau “Dhammaraja” itu luntur dan lama-lama menghilang.

Sekarang, kita pilih yang mana?

*Catatan kaki penerjemah:
Beberapa waktu lalu saya menerjemahkan esai Nidhi Eoseewong di atas adalah hasil terjemahannya, entah kenapa saya ingin saja menerjemahkan esai ini, penerjemahan saya lakukan dengan bebas (susunan kebahasaan) tapi tetap merujuk ketat pada isi dan maksud esai. Saya sedang belajar melakukan hal-hal pribadi yang menyenangkan untuk membuat saya lupa hal-hal traumatik yang kerap amat menyita energi. boleh dikritik tentu!!. Esai ini pertama kali dimuat di Matichon newspaper  25 September 2014  http://www.matichon.co.th/news_detail.php?newsid=1411628002  Esai asli dalam bahasa Thailand, saya menerjemahkan esai ini mengacu pada terjemahan bahasa inggris Tyrell Haberkorn di http://www.prachatai.org/english/node/5303.

[1] Prof. DR. Nidhi Eoseewong adalah sejarahwan dan pengamat politik mengajar di Universitas Chiang Mei Thailand, sohor dalam kepakaran soal studi sosial, sejarah, ekonomi, politik di kawasan Asia Tengara, karya studinya tentang Indonesia berjudul Fiction as History: A Study of Pre-war Indonesian Novels and Novelists 1920–1942 (Published by University Microfilms International, 1976. Mendapat penghargaan Fukuoka Asian Culture Prize. http://www.city.fukuoka.lg.jp/fu-a/en/culture_prizes/detail/47.html

[2] Park Yeonmi adalah gadis Korea Utara yang menjadi aktivis hak asasi manusia, dia berusaha kabur dari Korea Utara, perjalanannya keluar dari negaranya dipublikasikan dalam In Order to Live: A North Korean Girl’s Journey to Freedom terbit September 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s