Bahasa

Bukan manusia mencipta bahasa, tetapi bahasa mencipta manusia, begitulah kata Heidegger. Bahasa beralih, dari sekadar alat menyampaikan pikiran, atau informasi menjadi syarat memahami keberadaan manusia. Bahasa adalah syarat mutlak pengenalan manusia atas dunia. Laku mengetahui manusia yang kemudian melahirkan ilmu (science) dan filsafat sangat tergantung pada bahasa.

Sampai pada titik ekstrim posisi bahasa tersebut, pernyataan Nietchze mengiang dalam senyap: tidak ada fakta, yang ada hanya penafsiran. Lantas harus bagaimana kita memperlakukan ujaran nietchze tersebut, sebagai faktakah? Atau penafsiran? Semua jawaban akhirnya berakhir pada nihilisme. Tapi untuk sebuah tugas kuliah tentu saya tidak boleh berakhir pada nihilisme.

Continue reading

Advertisements