Bahasa

Bukan manusia mencipta bahasa, tetapi bahasa mencipta manusia, begitulah kata Heidegger. Bahasa beralih, dari sekadar alat menyampaikan pikiran, atau informasi menjadi syarat memahami keberadaan manusia. Bahasa adalah syarat mutlak pengenalan manusia atas dunia. Laku mengetahui manusia yang kemudian melahirkan ilmu (science) dan filsafat sangat tergantung pada bahasa.

Sampai pada titik ekstrim posisi bahasa tersebut, pernyataan Nietchze mengiang dalam senyap: tidak ada fakta, yang ada hanya penafsiran. Lantas harus bagaimana kita memperlakukan ujaran nietchze tersebut, sebagai faktakah? Atau penafsiran? Semua jawaban akhirnya berakhir pada nihilisme. Tapi untuk sebuah tugas kuliah tentu saya tidak boleh berakhir pada nihilisme.

Jika hendak mengikuti perjalanan sejarah, tentu pertanyaan bagaimana ragam bahasa filsafat? Atau kita rubah pada pertanyaan yang lebih teknis: tindak tutur literal seperti apakah yang filosofis? Bukan pertanyaan mudah. Dan saya tidak berhasrat memberikan satu jawab purna, sebab konon filsafat tidak pernah purna.

Tantangan filsafat setelah linguistik turn (palingan kebahasaan) dan Manifesto Lingkaran Wina (1926) “Konsepsi Ilmiah Tentang Dunia” adalah bagaimana filsafat mampu berdialog dengan ilmu (khususnya empiris-eksakta). Filsafat harus sesuai dengan perkembangan ilmu, (eksakta) untuk tujuan itu filsafat harus meninggalkan metafisika dalam pengertian tradisionalnya sebagai penyelidikan satu maujud non fisik, yang berarti sebuah laku spekulatif untuk menjelaskan muasal segala fenomena. Penolakan pada metafisika tradisional menandai pula satu keharusan berfilsafat yang memiliki komitmen pada analisis, kejernihan konseptual, juga keketatan argumen, sebuah komitmen yang tak melulu filosofis tetapi juga kebahasaan.

Positivisme yang menjadi mode filosofis setelah perang dunia kedua menghendaki filsuf berbahasa layaknya seorang ilmuwan. Lazimnya bahasa keilmuan (science) itu ringkas, bernas, jelas, lugas, nirmajas, nirambiguitas, objektif, pasif-statis dan denotatif serta tersurat. Kejelasan dan kelugasan dimungkinkan hilang dalam pengunaan bahasa metafora. Dan sialnya banyak filsuf yang bermain-main dengan metafor untuk mengambarkan pengalaman manusia.

Tapi kita juga akhirnya tahu, bahasa bukan melulu soal bentuk formal, dalam bahasa diam-diam ada ambisi politik, kekejian, dan penistaan manusia. Bahasa barangkali seperti sejarah yang menolak untuk statis, ia berubah dan diubah.

Sejarah bergerak, dari zaman iman ke zaman nalar dan kini bergeser pada zaman penafsiran: zaman bahasa. Soal-soal filsafat kemudian di era kontemporer di daku hanya menyangkut soal analisis bahasa yang berarti juga laku menafsirkan bahasa. Bahasa mengantikan epistemologi yang bermaksud menjamin keabsahan pendakuan pengetahuan manusia.

Ragam bahasa filsafat bukan soal bagaimana satu standar kebahasaan disepakati. Tapi, bagaimana filsafat mampu mendengar rupa-rupa suara dunia. Pancaragam pengalaman manusia tentu tak pernah bisa diformalkan dalam satu bahasa, kecuali kita memang diam-diam bersepakat untuk menjadi otoriter. Ada bagian-bagian dunia yang selama ini diam. Filsafat jika bersetia pada tujuan purbanya sebagai laku mengais kebijaksanaan, tentu ia harus mampu menampung banyak suara, mampu mendengar yang selama ini dibisukan.

Filsafat bukan ilmu (science) yang terikat dengan kaidah nalar metodologis ketat, dan kerap kali amat kikir untuk mendengar semua pengalaman manusia. Sebab bukan ilmu (dalam batas-batas ontologis-epistemologisnya) filsafat harus keluar dari zona ke(ny)amanan-nya linguis-positivis.

Saya teringat satu term baru yang diungkapkan esais Michael Baldwin: Heteroglosia. Heteroglosia sebuah perayaan atas keragaman bahasa, dengan sedikit puitis Baldwin menyebutnya sebagai bahasa yang menampung banyak suara. Bahasa yang kaya, yang menyediakan tempat bagi bukan hanya bahagia, tapi juga luka dan penderitaan manusia.

Filsafat barangkali harus berbau amis, kotor dan menjijikkan sebab di pojok-pojok dunia ada manusia-manusia yang di injak-injak oleh sesamanya. Jika metodologi ilmu tak mau mendekat pada mereka yang tak mampu untuk berbahasa runtut, sebab; sekadar bersuara saja sulit. Barangkali filsafat harus mulai mendekati mereka, merunduk dan membuka telingga.

Itupun jika filsafat mau tetap bersetia dengan pengalaman manusia, bersetia pada dunia material, bukan hanya bersetia pada tata bahasa. Jika tidak, tentu saya harus maklum, sebab filsafat (filsuf) selalu ingin membangun dunia-nya sendiri. Sebuah dunia baru, mungkin sebuah kamar yang tenang dengan meja dan tumpukan buku. Di sanalah seorang filsuf duduk merenungi tumpukan buku, dia tengah menyusun dunia-nya dari kata-kata. Sementara di sudut lain dunia, di mana filsuf tidak ada seorang anak mati dihakimi warga sebab katanya dia seorang gay.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s