Isi Kepala

Akhir-akhir ini saya jarang menulis di buku harian. Ini pertanda buruk. Saya lupa mengumpat, mengutuki orang-orang yang saya benci atau memuji orang-orang yang saya kasihi. Menghabiskan waktu-waktu dalam kamar, sejarah hanya bantal, selimut dan boneka anjing yang mulai kucel.

Ada cara lain, tidak harus menulis untuk meng anjing-anjingkan kenyataan: minum anggur atau alkohol kelas murahan bisa menjadi cara yang menyehatkan. Asal tidak merusak hidup orang lain, semuanya sah-sah saja. Dosa ada jika, dan hanya jika, hak dan kenyamaan hidup orang lain saya lumat tanpa rasa, seperti nguntal pil.

Saya punya banyak keinginan. Tapi saya tak tahu pasti satu pun di antara yang banyak itu. Hanya berjalan di tengah keramaian dan sesekali berhenti untuk bertanya pada seorang bocah kecil di pinggir jalan: “ Untuk menuju A saya harus ke kanan atau ke kiri?” Oya saya tidak tahu kanan-kiri. Bocah kecil itu menginggatkan pada saya bahwa untuk menghafal jadwal kuliah saja saya terbata-bata, apalagi untuk tahu jalan menuju A.

Continue reading