Risalah tentang Cocot Ora Melu Kesandung Watu*

Saya baru sadar ini soal politis, sejak semester 6, sepertinya. Jika tidak karena semuanya berubah, dan berbagai hal mulai tidak berjalan dengan mulus, maka saya tidak akan sadar jika ini soal politis. Ini awal kesadaran politis saya. Sebelumnya saya lebih banyak tidak berpikir. Sebab semua berjalan nyaman, bahagia, walau saya belum paham mengapa dua orang bisa bahagia. Tapi ini terlanjur jadi soal politis.

Saya teringat Spivak, “identitas selalu narsistik”. Ketika soal ini saya dapatkankan penjelasan politisnya, lantas kepala saya rasanya terbuka (revelation). Tapi saya juga takut ini akan menjadi narsistik. Saya tidak tahu bagaimana harus berbicara pada beberapa orang terdekat saya. Tapi saya sudah melakukannya. Dan semua memang berubah. Dan saya bahagia.

Beruntung walaupun diam-diam saya selalu cangung . Tapi sejak semester 6 saya mulai bisa menjadi biasa, dan saya sudah berbicara dengan orang disekitar saya. Tapi “identitas selalu narsistik”. Beruntung saya punya sedikit orang dekat yang bisa menjamin bahwa “ tanpa apapun saya tetap manusia”.

Bagaimana jika yang paling dasar dari diri anda adalah soal politis?

Bagaimana jika semua lahir-tumbuh sebab yang politis tidak pernah berhenti melakukan (re)produksi ilusif tentang diri anda?

Bagaimana jika bagian paling dasar itu amat kecil, dan anda tidak bisa menuntutnya bersamaan dengan persoalan kejahatan sejarah, pembunuhan, atau naiknya biaya kuliah?

Diri anda amat politis, tapi rujukan politis tentang diri anda minim. Secara umum orang juga menganggap diri anda sebagai kelumprahan residual; bukti tidak ada manusia yang sempurna?

Diri anda (yang politis) bukan bagian penting dari agenda-agenda perubahan yang ditawarkan partai politik, LSM, Kelompok Diskusi, sampai Calon Kepala Desa?

Apa yang bisa anda lakukan? Diam..tapi……

***

Feature-Rohingnya-Indochine-Atin

Masa-masa narsistik itu harus dilewati atau mungkin selamanya akan begitu. Tapi “Can the subaltern speak?” juga tak memberikan satu posisi tegas. Betapa sulitnya menegaskan derita manusia, seperti itu rasa-rasanya menung Gayatri Spivak. Sepanjang teks yang memukau, amat rumit, hampir-hampir tidak ditemukan jawaban lugas atas pertanyaan “ Can The Subaltern Speak?”.

Derita manusia sudah amat lugas untuk dikerangkeng kembali dalam bahasa konseptual. “ orang sering melupakan cerita tentang adik nenek saya yang bunuh diri, orang sering salah paham membaca uraian saya” begitu kata Spivak dalam sebuah wawancara. Spivak berbicara tentang mereka yang dikolong sejarah, yang tidak bisa bersuara. Bukan untuk “menyuarakan” mereka tapi hanya langkah menunjukkan mereka ada, satu sikap yang ia sebut “ Pesimisme intelektual, dan optimisme kemauan”.

Dia hendak berbicara tentang subaltern lewat satu pertanyaan besar yang bagus “ Can The Subaltern Speak?”[1] . Penanya seperti sudah mengetahui jawabanya. Atau itu model pertanyaan yang tidak akan pernah selesai dijawab. Apakah subaltern bisa bersuara tentang dirinya? Tidak ada jawaban tegas dalam teks itu yang menandakan kesangupan. Yang ada hanya sebuah peringatan, justru kepada mereka yang bisa berbicara(bagi saya ini bukan jawaban).

Bahwa mereka yang bisa berbicara, kaum intelek tidak bisa membajak, mendaku suaranya sebagai suara yang mewakili kelompok subaltern. Sebab subaltern tidak bersuara dalam resonansi gelombang yang sama dengan cara intelektual bersuara. Walau begitu, di sana ada energi kuat yang membingkai jerih-payah besar manusia-manusia tertindas (subaltern) untuk tidak menyerah pada sejarah, dengan cara mereka sendiri. Mereka punya bahasa sendiri. Sedangkan Spivak hanya punya ; “pesimisme intelektual dan optimisme kemauan”.

“Can The subaltern speak?” bukti kepiawaian Spivak memilih kalimat, dia tidak langsung dengan arogan mengatakan “ saya juru bicara kaum subaltern”. Dia tahu posisi kelasnya jauh lebih baik daripada kaum yang hendak dituntutnya diberi tempat. Wanita India yang mengaku diri seorang intrenasionalis.

Dia tidak membanggakan dengan berlebihan terkait dengan identitasnya sebagai warga dunia ketiga. Dia lebih beruntung dari manusia perempuan dalam Can the Subaltern Speak? Dia tahu penderitaan tidak mudah disuarakan. Dia tahu sifat sebuah identitas ketika dimaknai berlebihan akan jadi narsistik. Bukankah setiap yang narsistik menyimpan diam-diam kehendak kuasa[2]?

Kata orang setiap kekuasaan selalu menyelipkan penindasan atas mereka yang tidak memiliki daya? Bagaimana kabarnya para wakil kelas proletar kita??? Tidakkah perlu kalian mendefinisikan ulang “kelas” dan posisi kalian, sejarah berkembang kan?

***

Beberapa hari yang lalu seorang teman (Ahmad Nadzir) berseloroh: “halah gus-gus, koe ra tau ngrasakke mlarat wae kok kakean omong. Yo iyo, wong cocot ora melu kesandung watu“,.

 Terjemahan bebasnya: (kamu tidak pernah merasakan miskin-semiskin-miskinya, kok banyak bicara, ya benar mulut memang tidak pernah ikut tersandung batu).

 Kata “Halah” tidak saya temukan padanan tepatnya dalam bahasa Indonesia. Kata itu adalah bahasa Jawa pingiran, biasa digunakan untuk mengekspresikan kekalahan tapi dengan sikap yang tidak frontal dan cenderung menyepelekan. Kalah tapi tidak merasa kalah, menyerah tapi juga tidak menyerah, pasrah tapi juga tidak pasrah. Muatan psikologisnya sangat rumit, sulit benar mendapat padanan kata yang bermuatan psikologis sama dengan kata itu.

 Penjelasan kontekstualnya: kakean omong, banyak bicara, konteksnya orang yang berbicara terlampau sulit, padahal bicaranya dalam rangka membebaskan orang-orang yang tidak bisa bicara dari penderitaan hidupnya. Bicara muluk, terlampau bercita-cita besar, padahal bicaranya dihadapan dan untuk mereka yang tidak punya cita-cita besar. Sekadar saja hidup untuk hari esok.

Saya ingin mengaris bawahi satu kalimat yang bagi saya amat penting: wong cocot ora melu kesandung watu, mulut memang tidak pernah ikut tersandung batu. Ketika teman saya mengatakan itu, seperti biasa nada bicaranya yang keras, cenderung pecah, selalu bertekanan, walau kadang berisik dan membosankan. Seperti Gayatri Spivak yang selalu berbicara penuh tekanan, bersemangat, dan memukau. Hanya saja suara Spivak cukup bagus, daripada suara seorang teman itu.

Entah sadar atau tidak (saya duga tidak sadar), bagi saya kata-kata teman tadi berhasil mensarikan inti teks panjang Gayatri Spivak “Can the Subaltern Speak?” Lewat satu ramuan kalimat berbahasa Jawa Ngoko (kasar) yang amat pas. koe ra tau ngrasakke mlarat wae kok kakean omong. Yo iyo, wong cocot ora melu kesandung watu“,.

Orang yang hendak berbicara membutuhkan mulut, cocot. Tapi bicara penderitaan kesandunng watu, bisakah dilakukan oleh mulut yang jelas tidak pernah tersandung, ora melu kesandung watu?.

 Mulut organ utama untuk bicara, ia tidak mungkin digunakan untuk berjalan, sementara yang merasakan penderitaan adalah kaki yang menopang hidup, kaki yang berjalan dan bisa tersandung batu. Tapi mulut ingin bicara mewakili kaki yang tersandung batu, padahal Haqqul yaqin tidak ada mulut yang bisa tersandung batu. Kecuali ditemukan inovasi mulut untuk berjalan. Lalu bagaimana?

***

Kaki yang tersandung batu tidak pernah bisa bicara, kaki bukan mulut yang gampang mengeluarkan kata. Di sini pada kata wong cocot ora melu kesandung watu. Mulut memang tidak pernah ikut tersandung batu. Kita temukan pengunaan metafora yang cerdas, rumit dan memilukan. Orang selalu ingin bicara mewakili kaki yang tersandung batu. Ada mulut, cocot, ada tersandung batu, kesandung watu.

Antara mulut dan kaki, dua organ ini jaraknya cukup jauh. Secara langsung keduanya juga tidak saling terhubung. Mulut yang berbicara lebih mengandalkan isi kepala (kognisi). Mulut yang mengeluarkan kata niscaya tidak tergantung pada kaki.

Walaupun kakimu penuh koreng, kapalan, lumpuh, atau sekadar borok-en, kamu tetap bisa bicara. Begitu juga sebaliknya, walaupun mulutmu sariawan, njeber seperti bikang, atau terpaksa dipangkas akibat terlalu mronggos, kamu tetap bisa berjalan.

Tapi lebih dari itu dalam kata wong cocot ora melu kesandung watu, Mulut, cocot adalah metafora untuk kita yang bisa bicara (intelektual, orang yang punya waktu selo untuk membaca). Lebih tegas lagi, kita yang berbicara dengan mendaku diri mewakili mereka yang kakinya tersandung batu. Kesandung watu, metafora untuk penderitaan hidup/kelompok tertindas, yang kerapkali didaku akan diutarakan kita yang bisa bicara.

Tapi lantas orang tahu, antara mulut yang berbicara dan kaki yang tersandung batu bukan hanya terpisah sejauh jarak organ dalam satu tubuh. Keduanya terpisah dalam dua tubuh yang berbeda. Mereka yang kakinya tersandung batu, tidak sempat bicara untuk kakinya. Lebih baik mencari cara menyembuhkan kaki yang tersandung agar bisa berjalan kembali. Lalu seorang yang kakinya tidak tersandung melihat mereka yang kakinya tersandung, seorang itu ingin bicara mewakili kaki orang-orang yang tersandung batu.

Orang-orang yang tersandung batu, jangankan berbicara untuk kakinya sendiri, lebih baik mencari obat agar kakinya sembuh dan bisa terus berdiri, berjalan dan tidak mati di tempat. Mulut yang bisa bicara bagi orang yang kakinya tersandung batu tidaklah penting, sebab mulut tidak bisa menjamin mereka bisa berjalan. Sebab tanpa berjalan, tanpa mencari obat untuk luka di kakinya, mereka akan mati, dan obat itu tidak ada dalam kata-kata yang keluar dari mulut.

Lalu pertayaan Spivak mengema dalam senyap “ Can the Subaltern speak?”

Bisakah jarak yang terentang jauh antara mulut dan kaki dijembatani oleh rasa iba, empati dan jenis-jenis kesubtilan lainya?

Bisakah mereka yang bisa bicara (komunitas ilmuwan, konsesus ilmu) menerima bahasa dari mereka yang kakinya tersandung batu?.

Bisakah konsesus bahasa keilmuan menerima selorohan: koe ra tau ngrasakke mlarat wae kok kakean omong. Yo iyo, wong cocot ora melu kesandung watu. Kalimat yang tanpa metodologi, nihil logika, hanya potongan-potongan tanpa penjelasan.

Bisakah kita yang bisa berbicara, yang hendak berbicara untuk membebaskan orang yang kakinya terluka akibat tersandung batu, berbicara dengan mudah?

Atau jika tidak bisa. Ajukan saja tawaran ekstrim: “ ilmu untuk ilmu” bicara untuk bicara. Atau ilmu untuk kepentingan saya !. Saya rasa itu lebih baik dan lebih berarti untuk kita (termasuk saya) sebab tentang diri kita (saya).

Atau jika tidak bisa:

Palak saja. Kita perlu berkunjung ke warung nasi campur di Demangan. Makan bareng, bercanda, terbahak-bahak, setelah itu kita beli lima botol anggur merah, kita minum bersama.

Antara mereka yang yang bisa bicara dan yang kakinya tersandung batu, akan menyatu lewat makanan, senang-senang, tanpa ilmu pengetahuan. Perut kenyang, bahagia, dan lupa. Soal besok mereka yang kakinya terluka akan tenggelam dalam penderitaanya lagi, itu urusan lain, biar mereka pikir sendiri esok hari. Yang penting kita sejenak lupa, dan kembali jadi manusia.

Can the Subaltern Speak?,

Iso po koe ngomong palaran uripe wong-wong kae?

wong cocot ora melu kesandung watu.

mouth that speaks no suffering an injured foot

__Bangun Pagi, kaliurang 4 Mei 2016___

Danang T.P

*Penghormatan untuk Ahmad Nadzir

[1] Can the Subaltern Speak? Speculations on Widow-Sacrifice” (Dapatkah Subaltern Berbicara? Spekulasi-spekulasi tentang Bunuh Diri Janda). Lih,   http://postcolonial.net/@/DigitalLibrary/_entries/40/file-pdf.pdf Kata subaltern diadopsi dari Antonio Gramsci, oleh sejarawan India pascakolonial Ranajit Guha untuk dasar melakukan kritik atas historiografi elitis-kolonial pasca kemerdekaan India, yang tidak memberi tempat bagi kelompok-kelompok minoritas. Narasi sejarah pascakolonial didominasi oleh kategori dikotomis buruh-majikan, kolonial-antikolonial. Guha merubah itu menjadi “elite-subaltern”. Perubahan itu menunjukkan bahwa penindasan dalam suasana pascakolonial bisa terjadi bukan hanya oleh aktor luar, tapi juga oleh orang dalam. Mereka yang mengatasnamakan pembela kaum tertindas bisa jadi adalah penindas itu sendiri, dalam bentuk dan konfigurasi yang baru. Gayatri Spivak melakukan pelebaran gagasan pada konteks relasi intelektual dengan kelompok minoritas/subaltern, dan ketidakmungkinan mewakili suara subaltern.

[2] Untuk soal ini tanya pada Empu Risalatul Hukmi atau Lih, http://lsfcogito.org/filsafat-dan-jalan-memutar/. Tapi tulisan ini saya buat bukan dalam rangka ikut ribut-ribut dengan apa yang ada dalam tulisan Risal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s