Dirimu dalam sebuah drama atau drama dalam dirimu

Lusa di kantor arsip kamu menemukan transkrip dialog Lucien Carr, Allen Ginsberg, Jack Kerouac:

tumblr_o079ayDSAB1u75b1po1_500.jpg

Kamu menginggat beberapa bagiannya dengan baik. Malam ini kamu merasa capek. Belum selesai semua agenda; mengembalikan minat becamu. Siang hari kamu mau menanam Pohon anggrek: layu, memecahkan genteng, memasukkannya pada mangkuk. Sore hari ingin tidur tapi harus datang diskusi. soal moralitas menyebalkan, sebab kamu menginggat dengan baik perkara Allen.

Pergi menemui seorang teman sedang jatuh cinta. Kalut sepertinya. Lalu bagaimana dengan kamu: memesan kopi. Tidak ada masa depan

yang bisa dipesan

cari ongkos untuk membayar

Kembali berdiskusi soal  moralitas: Bagaimana tadi diksusinya?

kembali hening

ah di luar turun hujan, tidak terlalu deras, 

___tapi hujan bisa membuat orang takut__

suaranya

menyentuh ujung-ujung daun; tanpa bunyi

tapi

ketika

air          jatuh

mengenai badan seng,

di bawahnya (20.30 wib) dua orang bernegosiasi soal identitas

moralitas, pantas-tak pantas, baik tak baik, normal tak normal

Biarkan itu jadi urusan sutradara

Dua orang pemain tidak pernah membaça skenario,

adakah yang lebih dramatis ketimbang kau dipilihkan menjadi A diikuti A adalah residu B?

A adalah…….

A hanyalah……..

A seharusnya, sebaiknya………

tidak ada negosiasi, tidak ada pilihan…

kamu kembali ke kampus, mengedit jurnal

dan tahu, drama seharusnya improvisasi, kebebasan

kata seorang peneliti seperti ini #:

                                           Pelaku                              Kata-kata                            Tindakan

1. Perempuan: “Ini kertas-kertasnya.” Meletakkan kertas-kertas.
2. (jeda 2 detik) Perempuan tetap berdiri.
3. Laki-Laki: “Terimakasih.” Melihat ke arah Perempuan.
4. “Aku benar-benar mengapresiasi kamu melakukan bagian itu untukku.”
5. Laki-laki kedua, “Laki-Laki II,” mendekat dari sisi kiri, juga membawa “kertas”, dan berhenti di sebelah Perempuan.
6. Laki-Laki 2: “Ini kertas-kertasnya.” Meletakkan kertas-kertanya.
7. Laki-Laki: “Terimakasih banyak.” Masih melihat keduanya.
8. “Kalian berdua benar-benar hebat.”

(jeda 2 detik)

9. “Aku akan berhenti mencatat sekarang.” Menutup buku yang berada di meja.
10. Perempuan: “OK.”
11. Laki-Laki II: “Sip.”

(jeda 1 detik)

12. “Aku akan mengambil beberapa kertas lagi.”
13. Laki-Laki: “Baiklah.”

(jeda1 detik)

Dia berdiri.
14. “Terimakasi banyak, aku mengapresiasinya.”
15. Laki-Laki II: “Santai.”

(jeda 1 detik)

16. “Kita Ikhlas.”
17. Saat mengatakan hal tersebut, Laki-Laki II menyentuh lengan Perempuan; Perempuan mengangkat tangan lainnya untuk mengenggam tangan Laki-Laki II; mereka saling berpegangan.
18. Laki-Laki: “Terimakasih sudah menemani.”
19. Laki-Laki II: “Selalu.”

Kamu capek dan tahu, improvisasi hanya ada dalam tindakan

Lihatlah: Laki-laki, Perempuan, adakah improvosasi:

tembok dua hal tidak bisa diruntuhkan

Kamu harus segera pulang. Membasuh kaki, merapikan posisi, dan tertidur

memasuki wilayah paling gelap di pangung drama ini:

dirimu sendiri

 

—-Yogyakarta  menjelang pagi 14 mei 16

 

 

 

Keterangan:

#Tabulasi di atas  adalah transkrip gambaran keadaan 2,5 menit pertama dari sebuah teater yang dipentaskan Jazz Freddy. Hal yang perlu dicatat, para aktor tidak menggunakan alat bantu (kalaupun ada sangat minimal), mereka hanya melakukan gerak peniruan, Ini merupakan percobaan empiris Keith Sawyer, dambil dari tulisan Banin Diar Sukmono

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s