Yang Tersisa dari Mimpi dan yang Diharapkan Seorang untuk Tak Diingat Lagi

Kamu terbangun dan ingin menulis sebuah teror

tepatnya, menulis untuk meneror

berapa nyawa yang harus dibunuh?

berapa ketakutan tersebar?

kamu tahu hidup lebih menakutkan daripada tulisan

hidup lebih menteror daripada baris-baris kalimat yang mengetarkan

 

– toh pada akhirnya hidup juga tidak abadi-

kamu temukan kalimat ini dalam  sebuah sajak tipis

-toh pada akhirnya kita akan mati-

kamu temukan kalimat itu di ujung mulut seorang bocah

di dalam keduanya hidup hanya omong kosong

 

kematian hanya dongeng

di dalam dirimu: ketakutan terus mendesak

kematian

sebelum akhir, menjelang azan subuh

seorang bertanya:

“ ada pesan apa untuk kucing-kucing di beranda rumahmu”

 

______Yogyakarta—–

untuk MZH atas semuanya

Advertisements

Buruh dan Cinta yang Dibunuh (Tentang Nasib Perempuan Lesbi Mantan Buruh Migran di Hongkong, Sekembalinya dari Victoria Park)

Ia tertunduk karena salah, gentar, patuh mengecam diri

Dan akhirnya boleh juga, ia dimanja sekali-kali

__Toeti Heraty N, Sajak : Manifesto__

Lebaran tahun lalu, kali pertama dia melihat kembali kampung halamannya, setelah 4 tahun menjadi buruh di Hongkong. “Aku tidak akan kembali lagi ke Hongkong, semua hal yang berhubungan dengan Hongkong harus dihapus” begitu katanya dengan bahasa Jawa kasar (ngoko).

Saya tiduran di sampingnya, sambil dengan cermat mendengarkan semua ceritanya. Mulai dari soal kebencian pada ayahnya, kesulitan ekonomi yang memaksanya menjadi buruh selepas lulus Aliyah (SMA). Kebiasaan-kebiasaanya selema empat tahun mukim bersama majikannya di sebuah apartemen mewah tepat di pinggir Victoria Park. Kisah cintanya yang rumit, hingga kebanggannya bisa membiayai adiknya kuliah, hingga lulus pada 2015 lalu.

Malam semakin larut. Di ruang tengah rumah saya, hanya ada kami berdua. Anggota keluarga yang lain telah lelap semua.

“ Ini kali pertama aku bisa menceritakan semua rahasia dan beban ku selama ini” katanya, sambil mencopot kain jilbab yang menutupi kepala. Maklum, udara ruang tengah rumah saya malam itu cukup membuat tubuh berkeringat. Satu kipas angin dan dua jendela ternyata tak cukup mengusir udara malam yang panas. “ aku juga tidak menyangka tiba-tiba kamu akan cerita sesuatu mbak” jawab saya datar.

Saya sudah tidak bisa mengingat kembali kapan terakhir kali saya bertemu keponakan saya itu. Sejak SMP saya tinggal di kost, sebab jarak antara rumah dan sekolah yang teramat jauh. Hanya sesekali setiap akhir pekan saya pulang ke rumah. Saat itu, keponakan saya juga telah pindah ke kota Malang tepat ketika saya masuk SMP.

Lebih dari 6 tahun kami tidak pernah bertemu. Lebaran tahun lalu ketika saya dalam perjalanan pulang dari Yogya ke Kediri, sebuah pesan singkat masuk: “Mas kapan balik Kediri?” Sebuah nomor baru, belum tercatat di kontak HP. Saya juga tidak ada pulsa waktu itu. Saya tidak membalas pesan singkat itu.

“Aku tidak paham, kenapa setelah pulang ke Indonesia aku kok merasa harus mencari Mas Danang, dan menceritakan semuanya” Jawabnya, ketika saya tanya “ Ada apa kok sepertinya penting sekali, mau cerita saja kok harus nunggu tengah malam, saat semua orang sudah tertidur”.

Continue reading