Memata-matai Karya Seni(man): Spekulasi keliru tentang Yang-Politis dari Seni

*Catatan saya berkat obrol-obrol tentang seni dgn alia swatika, di ARK.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan ikut kelas kecil yang dibuat kuratoris seni rupa kontemporer Alia Swastika. Ini menjadi awal pengalaman saya, mengintip kembali cara seniman bekerja. setelah beberapa waktu mencampakkan saja buku-buku estetika dan orang-orang yang berbicara tentang seni.

Kelas kali itu akan membicarakan konsep relasional estetik (relational aesthetic), seni partisipatoris, seni aktivisme. Gampangnya saya sebut saja seni terabas atau lintas disipilin, atau populernya disebut seni konseptual.

pertanyaan-pertanyaan pemancing yang kami (sekitar 15 orang) bicarakan waktu itu:

  1. bagaimana seni memeberi wadah bagi apa yang dalam diskursus ilmu politik disebut sebagai yang-politis (the political)?
  2. bagaimana seni berelasi dengan konsep-konsep aktivisme dan gerakan sosial?
  3. Apakah mungkin mempertahankan konsepsi estetika klasik, tentang apa itu yang indah, dan sublim, sementara dunia kesenian didera rupa-rupa perubahan besar?
  4. Apa yang musti dilakukan seniman?
  5. benarkah seniman memikul beban besar untuk mencipta perubahan sosial, dan belgedes tujuan-tujuan aktivisme politik lainya?

3 hari berturut-turut, kami mencoba mendiskusikan soal-soal yang kurang lebih seperti yang saya poin-poin kan di atas.

Alia Swastika, tentu tetap kurator yang tumbuh dalam zeitgeist aktivsime 98,  dan seorang mantan mahasiswa fisipol. Terlepas dari penukikannya dan ketekunannya di dunia seni rupa, dia tetap seorang pengagum gagasan-gagasan perubahan sosial dan tindak aktivisme. Itu tidak salah, dan begitulah memang cara zaman membentuk subjek. Dan tidak salah pulalah  ketika saya tak percaya, dan halah mboh… dengan mbelgedes, kemlutuknya..aktivis membayangkan perubahan sosial. Zaman dan lingkungan sosial saya membentu apa yang-politis bagi saya seperti itu, apa: memanjakan diri sendiri, kalo ada efek sosialnya ya itu cuma bonus belaka.

Bagaimana alia,  alia dengan jujur mengakui bahwa bagi dia karya seni rupa haruslah menyuaran yang-politis. dan untuk itu dia telah berkarya, dan setiap orang yang berkarya adalah orang yang -paling tidak bagi saya- wajib dihormati, disayang, dan diternakkan kalau perlu.

Di medan kajian yang sekarang dikenal sebagai relational estetik itulah ideal alia sepertinya mendapatkan tempat persemaian yang pas. Misalnya, bagaimana seni harus berelasi dengan konteks sosial, memancing keterlibatan bukan hanya antara seniman dan audien pasif, seperti dalam konsep-konsep seni konvensional. Tapi bagaimana penonton terlibat dalam penciptaan karya, estetika atau keindahan tercipta ketika dia dibangun dari beberapa konteks kunci 1. komunikasi 2. relasi sosial, ketiga saya lupa..hahahaha…

karena saya sebenarnya tidak terlalu menguasai, atau sebut saja tidak menguasai sama sekali perkembangan literatur2 terbaru bertema kesenian. Yah yang bisa saya lakukan tentu hanya mendengarkan sambil beberapa kali bertanya meminta penjelasan, atau berusaha memancing kembali diskusi itu agar bergerak pada tataran konseptual yang lebih mudah dicerna.

Alia terlalu banyak memaparkan contoh-contoh, atau bercerita tentang perjalanannya ke eropa dan berbagai negara di dunia untuk mengkuratori pameran atau hanya melihat pameran. Sementara saya hanya nge-down di kost. Memang pada awalnya menarik melihat bagaimana cara alia menjelaskan konsep lalu kemudian menukik ke contoh-contoh yang menarik. Tapi lama kelamaan terlalu banyak contoh dan berbagi cerita pencerapan estetiknya di berbagai pameran tingkat dunia. (saya minta maaf untuk ini, tapi jujur sekali-kali boleh lah yaw…)

Apalagi yang menarik?

dari dikusi panjang 3 hari mulai jam 2 selesai jam 6 sore itu saya tentu mengetahui banyak hal baru dari alia maupun teman lain. Diskusinya akrab dan tanpa hierarkhi pengetahuan yang bikin perut mules. Saya kurang bisa mereka beberapa hal dengan detail, selain beberapa momen subjektif yang menyentil  saya.

Misalnya ketika teman samping saya (namanya lysis) membawa kotak pensil bertuliskan LOVE SEX HATE SEXISM, uowww…begitulah sepertinya contoh paling gampang bahwa dalam karya seni selalu ada misi menyuaran subjek yang-politis. Tugas orang yang bukan seniman tentu mematai-matai seni(man). Ketika seni menjadi medium perluasan pengetahuan dan kesadaran (entah politis, atau tidak), tentu kita bisa main-main menjadi pengintai. tugas para pengintai:

  1. memastikan bagaimana yang politis ditampilkan dengan kadar dan dalam satu tarikan logis antara konsep-karya, sehingga mudah dipahami. Jika tak paham, ya begitulah ketidakpahaman itu bagian dari seni, percayalah!!
  2. melihat dorongan politis macam apa yang mendayakan seorang seniman berkarya. daya-daya itu pasti tersisa atau mengartefakkan dirinya dalam karya seniman, kalo selo tugas ini cukup mengasikkan. misalnya Pram seorang kiri, apakah karya seninya kiri? Apakah dan dalam bentuk seperti apa kredo jiwa ketok-nya S.Sudjojono tampil dalam setiap rupaannya?
  3. jalan-jalan main mata dengan karya seni maupun penjaga pameran, tapi kalo bisa dapet seniman keren kaya raya ….

Ada satu lagi yang menarik perhatian saya. tidak semua dari 15 orang yang ada di obrolan kami seniman, dan waktu memperkenalkan diri, saya tercengang mereka yang seniman dengan santai berkata “saya seniman” …kenapa menarik?? sebab saya teringat bagaimana gayatri c spivak membuka pidatonya saat menerima penghargaan kyoto prize. Gayatri bertanya….” harus berbicara sebagai apakah saya? seniman, pemikir, pendidik, feminis, filsuf …atau” tidak ada jawaban.

dan di forum ini setiap seniman dengan gampang berkata ” saya seniman”. Dari dikusi 3 hari itu saya tahu berbagai hal telah berubah-entah dalam konteks asia atau eropa- cerapan estetik misalnya bisa sangat gajelas dan nyeleneh, dan supersubjektif, karya seni apalagi, semua orang sepertinya bisa jadi seniman. Seperti marcel ducham yang menampilkan snow sowwel, begitu saya. Itu karya seni dan itu indah. ahh petani-petani bantul juga bisa menyandarkan cangkulnya di tembok dan itu seni dan itu indah. lantas apa lagi yang tersisa.

yang paling mengendap dari diskusi itu adalah beberapa pertanyaan

siapa seniman? siapa yang harus dimata-matai? yahh semua hal telah jadi politis, makan ,minum ,sex urusan-urusan domestik itu telah disusupi yang-politis. “Mau makan di KFC….. ehh jangan itu kapitalis” lalu apalagi yang perlu dimata-matai dari jejak yang-politis dalam karya seni. Subjek politis lebih cerdas memberi makna setiap karya seni seturut makna politis ideologisnya. Apalagi….

jika ada subjek yang bukan subjek politis, seniman yang bukan seniman politis, tentu manusia macam itu harus segera ditemukan dan jadi objek untuk dimata-matai, tapi adakah?
Wallahu a’lam bisshowab, hanya tuhan dan orang-orang yang bangun pagi yang tahu.

Akhirul kalam…….

 

Advertisements

2 thoughts on “Memata-matai Karya Seni(man): Spekulasi keliru tentang Yang-Politis dari Seni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s