Fragmen yang terlihat-timbul-tengelam-lenyap, setelah hujan : mengapa harus ada kematian?

Aku melihat seorang berjalan selepas hujan.

Bau tanah. Remah-remah daun membusuk. Tanah becek. Selokan. Bau bunga kenangga. Rerimbun pohon. Bunga tanjung menumpuk di sela ranting. Lampu-lampu kota. Sisa air hujan menetes dari ujung atap.

Dan seorang masih mencari. Apa yang tersisa setelah hujan lebat?

Aku melihat seorang berjalan selepas hujan

Dan masih percaya bayangan yang terpantul dari cahaya lampu-lampu kota

Mungkin hanya sisa rintik hujan

Dan seorang masih percaya pada kemungkinan (meski serintik titik sisa hujan)

 

Aku melihat seorang berjalan selepas hujan

Dan menghilang di balik rimbun semak bambu hias

 

Aku melihat dua orang berjalan selepas hujan

“ Jangan ikuti amarahmu,”

“ Tekan suaramu, ini tempat umum”

“ Kau laki-laki !”

“ Kau juga”

 

Aku mendengar seorang dari kejauhan

“ lalu kenapa mereka bertengkar?”

 

Aku membaca dari surat kabar

Dua orang mati dengan kepala berdarah

 

Ada sejenis kemesraan yang lucu, mungkin cinta, tapi lebih mungkin emosi, atau perasaan, atau hanya mungkin

Aku melihat sebuah pamflet di pojok masjid

“ Cara membunuh dua orang yang berjalan selepas hujan”

 

Esok

 

Aku hanya ingin buta dan tak melihat apa-apa

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s