Adegan dan degdeg-an pada rutinitas menyeduh kopi

jangan menyeduh kopi terlalu manis
biasakan tidur tepat waktu
menghafal setiap gerik
cara duduk, meniup permukaan gelas
menyentuhkan sendok pada bibir
cara menginggatkan untuk bangun tidur

ketika detik, detak tanpa hentak
aku menghapal dengan runut gerakanmu
kesepakatan
persetujuan
tidak ada skenario
ketika lonceng berdentang, dan beberapa burung gereja tersentak
waktu dicatat dalam cara paling tersembunyi
waktu dihabiskan dalam pahit paling membosankan
tapi kita kecanduan bukan?

kau akan menjadi lembing tajam, menancap bola mataku dan hanya kebutaan yang kita tunggu; sepakat?
semut-semut ini kecil sekali, kau bilang sekali tepok dengan telapak tangan semut itu terkaget atau mati, aku bilang dia kutu yang kebetulan terlihat. beberapa telah berhasil masuk dalam kopi yang kuseduh, atau beberapa berhasil lari dan menguntit dari balik helai-helai rambut yang tercecer di lantai.
apakah arwah semut-semut yang mati itu akan jadi hantu; sepakat?

kau bilang kau hanya percaya kopi tanpa gula terasa pahit. aku bilang itu rasa, semua tahu, dan tak butuh kepercayaan, kesepakatan, apalagi affair politik.
jangan lupa mencuci piring, membersihkan gelas, menaruh handuk pada tempatnya, mencoba sepatu baru, atau menyusun daftar kuliah. untuk itu kita butuh kesepakatan bukan?

koran pagi: berita seorang ibu mati dibunuh kakeknya, suami memasukkan batang palu ke kemaluan istrinya, : bukankah mereka telah bersepakat untuk merasakan sesuatu?

apa tidak lebih baik kita meyusun kesepakatan?
mengapa bulan mesti bundar? kenapa semut-semut harus dibunuh ketika masuk kamar? apa yang paling menjijikkan selain berita politik? siapa dosen yang sebaiknya berumur pendek? haruskah ada belaskasihan untuk kucing yang merangsek masuk kamar?

sepakat?
apakah tidak lebih baik kita memberi nama untuk perasaan-perasaan ? atau aku saja yang akan memberi nama, kau tinggal menyepakatinya saja; setuju?
kau bilang: apa kau masih percaya pada perasaan-perasaan……..

tuhan terus melempar dadu
tuhan tidak bermain dadu
sayang, kita sedang asik bermain layang-layang
dan
tak bersusah memberi nama bagi angin yang memutus benang di menit ke 15

——-Yogya-2 okt 16
untuk:d———

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s