Sejarah Kecil

(Ulasan buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha, karya Linda Christanty)

Bumi kita hanya titik lebam biru pucat [luka]di tengah alam semesta,
tapi di sana segala dendam, cemburu, dengki, sakit hati, perang, dusta berlangsung dengan gilanya.
–Carl Sagan on Pale Blue Dot: A Vision on the Human Future in Space–

Linda Christanty adalah sebuah perjalanan. Dia adalah potret perempuan penulis yang terlibat. Seorang yang terus berjalan dan mencatat: mengabadikan. Tentang kehilangan, ajakan menanggungnya, bersama permintaan maaf kepada siapa pun yang mengalaminya, dan pesan perdamaian (hlm.66). Begitulah salah satu paragraf di esai Seekor Burung Kecil Biru di Naha yang kemudian menjadi judul buku Linda.

insula-dulcamara-by-paul-klee

(Insula Dulcamara by Paul Klee)

Paragraf tersebut diilhami dari puisi Yoko Ono, Forgive Us ketika Linda membaca surat kabar The International Herald Tribune, musim dingin 14 November 2006 di Akasaka, Tokyo. Paragraf tersebut bagi saya adalah benang merah 13 tulisan Linda di buku kumpulan esainya Seekor Burung Kecil Biru di Naha Konflik, Trgaedi, Rekonsiliasi (KPG,2015). Kesetiaan Linda pada fakta pergulatan kehidupan manusia dan kemanusiaan, kembali ditegaskan lewat buku ini.

Saya amat menikmati membaca esai jurnalistik ini, maupun esai dalam artian umum. Bagi saya buku diktat filsafat yang ketat, penuh janji, sistematis, kering, kadang amat membosankan. Penulis uraian filsafat kadang lupa, pembacanya –mahasiswa filsafat- adalah manusia biasa pada umumnya. Manusia dengan mata kecil: tak mampu berjam-jam terus membelalak atau melotot , mata kecil yang kadang lebih sering redup dan ternyata juga bisa meneteskan air mata. Tapi mau bagaimana lagi? Selama skripsi masih berurusan dengan latar belakang dan rumusan masalah, selama itu juga kita harus tetap berpikir tentang objek material dan formal di sela-sela mulai macetnya jalan kaliurang.

Di tengah banjir berita tentang huru-hara para elit politik sampai artis yang melancong ke luar negeri, Linda datang dengan kabar menyentak. Nada bertuturnya halus, penuh kesabaran, setiap peristiwa ditulis dengan detail memukau. Setelah kumpulan esai yang disarikan dari perjalanan jurnalistiknya, Dari Jawa Menuju Atjeh (KPG, 2010). Linda kembali datang dengan kabar yang lain. Kabar tentang orang “kecil”. Orang kecil dengan peristiwa kecil namun membawa persoalan besar: pergulatan manusia dan kemanusiaannya yang selama ini sengaja dilupakan.

“Ingatan manusia terbatas” (hlm.24). Begitulah kata ibu Linda dalam esai Rumah Bagi Mereka yang Tua. Memulai dari cerita tentang kondisi keluarga Linda: Ibunya ditinggal anak-anaknya merantau. Kemudian beranjak pada model ikatan keluarga orang-orang di Amerika, hingga persoalan nasib orang-orang jompo di kota-kota besar. Buku ini memberi kesadaran keterbatasan ingatan, maka mencatat adalah mengabadikan, sejarah kemanusiaan tidak boleh hilang bersama lupa. Sejarah kemanusiaan adalah rajutan benang-benang emosi, bahagia, duka dan air mata yang saling berpaut-kelindan, mencatatnya adalah sebentuk perlawanan halus pada setiap (mereka) yang hendak melupakan sejarah.

Apa yang dilakukan Linda lewat buku ini adalah ikhtisar penulisan sejarah kecil, La Petite Histoire. Sebuah penegasan bahwa sejarah adalah milik setiap manusia. Sejarah seperti juga Kosmos yang tak pernah memlilih manusia seperti apa yang bisa hadir-hidup di dalamnya. Sejarah S (besar) memang tak pernah memilih, tapi sejarah s (kecil) adalah hasil konstruksi manusia yang selalu dibayangi pertanyaan: siapa yang paling layak ditulis dalam sejarah? Siapa yang harus dikenang? Kita memang hidup dalam Sejarah, tetapi kehidupan kita, cara berpikir, merasa, memilih tindakan amat ditentukan oleh sejarah. Apa yang kita hormati, apa yang paling membuat kita sulit tertidur, apa yang membuat kita amat membenci sesuatu, adalah hasil dari berbagai macam konstruksi sejarah yang dijejalkan dalam pikiran.

sejarah adalah penanda konseptual, sebuah hasil laku metodologis pengetahuan-keilmuan. Ia terikat (internal) dengan kaidah penalaran, model narasi dan tetekbengek aturan keilmuan. sejarah gayut pula dengan keberpihakan (eksternal) politik, sentimen pribadi, purbasangka sejarawan. Sebab itu, kita tidak pernah mengetahui siapa yang mengumpulkan ribuan massa di lapangan Ikada sebelum proklamasi 1945. Kita tidak pernah tahu posisi Nurhaida saat konflik di Aceh memanas. Tuntutan metodologis dan keberpihakan sejawaran pada penguasa kerap kali hanya membuat kita mengenal keberhasilan SBY, kegagahan Soekarno, kedegilan PKI dll. Dan kerap kali laku kehidupan sehari-hari kita dibimbing oleh itu semua.

Sejarah adalah pancaragam kompleksits pengalaman manusia, kita semua hidup di dalamnya. Celakanya, dalam setiap Sejarah yang dituliskan selalu ada yang lolos. Metodologi bukan satu piranti yang membuat kita memiliki God aye view, selalu ada yang lolos dari narasi konseptual. Dia yang di luar konsep tidak bisa serta merta dimasukkan dalam narasi konseptual. Pada titik ini kita seolah terlempar dalam silang sengkarut ketegangan pengetahuan dan pengalaman. Antara ilmu dan keseharian, antara sejarah dan Sejarah. sejarah pada akhirnya adalah juga ketegangan abadi antara yang di luar dan di dalam cakrawalanya. Antara langit dan bumi, antara yang terbatas dan kehendak melampaui batas. sejarah adalah pengetahuan dalam arti pemahaman (vestehen) sejarah dalam rentang itu harus mengakui ketidakmampuanya membahasakan semua pengalaman keterlibatan saat penyelidikan Sejarah berlangsung. sejarah bahkan tidak mampu membuat acuan ke masa lalu, jika ternyata tidak ada sumber empiris bagi operasi konseptualnya. Akhirnya, kita pun dapat bertanya seberapa dekat-kah pemahaman sejarah kita dengan Sejarah?

Menulis sejarah kecil (yang dilakukan Linda) adalah arena lain bagi setiap yang lolos dari jeratan ilmuwan. Sebuah arena eksperimen bebas yang mampu memberi satu kesegaran naratif baru, luwes dan memukau. Sebuah panggung bagi mereka yang selama ini berada di luar panggung. Dalam kesepian, kerinduan, dan kehendak membangun pemahaman baru untuk memperpendek jarak antara Sejarah dan sejarah, antara yang di dalam konsep dan yang di luar, sejarah akan mengemakan kembali intuisi kuno yang membimbing laku keilmuan para filsuf yunani antik: cerita kerinduan manusia akan asal-usul. Dengan kata lain sejarah kecil terbuka, hanya apabila orang bersedia melampaui tataran empiris dan konseptual, yang kerap kali amat kikir terhadap keberagaman pengalaman keterlibatan manusia sebab tuntutan rasionalitas dan objektivitas ilmu pengetahuan.

Sejarah bukan monopoli intelektual orang yang secara formal belajar Ilmu Sejarah, begitu ujaran Kuntowijoyo yang saya inggat. Di luar para intelektual universitas yang memang berkepentingan mempelajari Sejarah, ada penguasa, pemimpin politik yang sadar begitu kuatnya daya sejarah untuk menegas-kukuhkan status quo. Mengarahkan ingatan kolektif rakyat untuk tujuan mobilisasi massa. Kita teringgat bagaimana kebencian pada Partai Komunis Indonesia ditumbuhkan sampai bertahun-tahun oleh Orde Baru. Melalui buku-buku sejarah, film dan berbagai akivitas sosial-politik, ingatan kolektif kita diarahan untuk membenci hal-ikhwal yang sebenarnya tidak kita fahami dengan baik. Akhirnya sejarah menjadi alat yang paling halus untuk menyalurkan ambisi-ambisi akan kekuasaan.

Ketika intelektual yang secara resmi belajar ilmu sejarah menjadi alat untuk legitimasi kekuasaan. Maka setiap orang yang tahu betapa pentingnya sejarah, mempunyai hak yang sama untuk menulis sejarah. Membebaskan historiografi dari segala kerancauan narasi yang sarat kepentingan politik mayoritas. Linda adalah satu di antara sudah mulai banyak para akademisi di luar disiplin formal ilmu sejarah yang mulai sadar sejarah bukan milik penguasa, Sejarah harus dituliskan dari dan untuk mereka yang tak pernah masuk dalam narasi konseptual.

Esai-esai dalam buku ini membuat kita lagi-lagi tidak bisa mengelak, demokrasi dan kemerdekaan tidak menjamin setiap manusia menaruh rasa hormat pada kemanusiaan. Kekerasan dan pembantain 1965, mahasiswa aktivis yang hilang saat reformasi, konflik politik yang berimbas luas di Aceh, politisasi agama dan etnis berujung kekerasan di Maluku, hingga sejarah pulau Bangka Belitung. Kesemuanya itu dituturkan Linda dengan bahasa tulis yang lancar, anggun, penuh sentuhan detail sastrawi, dan tentu semuanya berangkat dari fakta dan riset historis kuat. Kemampuan menulis yang tidak diragukan, ditambah kecermatan melihat peristiwa membuat manusia-manusia dalam esai Linda tergali luar dalam.

“Rok saya sampai begini”, kata Nurhaida, memperagakan roknya yang melorot di masa itu (hlm.5) Nurhaida, perempuan korban konflik di Aceh, dibayang-bayangi trauma psikis karena melihat kekejaman militer menyiksa warga, hingga badanya kurus kering. Detail gerak-gerik luar setiap sosok, ditulis Linda dengan rapi. Detail gerak-gerik luar itu disatukan dalam sebuah narasi yang membantu kita masuk merasakan kedalaman inti kemanusiaan setiap sosok dalam esai Linda.

Entah model pendekatan seperti apa yang digunakan Linda saat wawancara. Salut, ketika Linda berhasil membuat seorang transgender, Wanda Kalalo menceritakan perjalanan hidupnya, bahkan sampai pengalaman seksnya yang pertama kali (hlm.17). Sungguh bukan hal mudah, membuat transgender yang di negeri ini masih mengalami diskriminasi habis-habisan, mau menceritakan perjalanan hidupnya.

Tidak hanya peristiwa dalam negeri, kita juga diajak menyusuri tempat-tempat yang jauh. Mulai dari suasana gelar musik di kota-kota Amerika Selatan, militerisme gerakan mahasiswa dan kehancuran partai komunis di Thailand, globalisasi dalam makanan dan nasib peremuan lajang di Jepang, perayaan Asyura, akar konflik di India, hingga Petinggi Nazi Rudolf Hezz. Seorang yang dingin dan kejam, tetapi memutuskan untuk bunuh diri dalam penjara karena tak tahan menjalani masa hukuman akibat kejahatan kemanusiaan (hlm82-83).

Sebagai penulis Linda seolah-olah benar-benar bersudut pandang netral. Kepentinganya hanya satu melawan penindasan, sikap fasis, kekerasan dan segala rupa laku manusia yang melukai. Nyawa esai-esai Linda adalah penghormatan kepada setiap manusia cukup karena kemanusiaanya. Kekejaman serta penjajahan terhadap bangsa apapun tidak boleh lagi terjadi hari ini (hlm. 69).

Buku ini mengajak kita terus mengingat dan kembali belajar: hubungan antar manusia sangat dinamis dan penuh pengecualian. Dalam setiap esai, kita bisa membaca bagaimana manusia menjalani kehidupan yang penuh kompleksitas: tidak hitam-putih. Sementara dalam laku keseharian, kita saksikan semakin banyak individu maupun kelompok masyarakat yang melihat kehidupan manusia dan kemanusiaannya sebagai pasangan antagonistik A vs non-A, suci vs hina. Setiap individu maupun kelompok sering mendaku diri paling benar dan suci. Kehidupan dijalani penuh kebencian, urusan kemanusian digeser oleh motif-motif politik dan ekonomi. Agamawan beralih moralis, pengalaman religius diciutkan ke kode prilaku merujuk logika antagonistik. Inilah saat setiap program moral berubah menjadi tirani sosial. Akibatnya, menjadi sahih laku intimidasi, dikriminasi, bahkan kekerasan terhadap mereka yang memiliki pilihan berbeda.

Semua narasi historis dalam esai ini tidak mungkin kita ketahui dalam buku-buku formal soal sejarah. Oleh sebab itu, sejarah kecil adalah satu bukti kesenjangan antara sejarah dan Sejarah. Sebelah kakinya menapak dalam dataran ilmu pengetahuan, sedangkan kaki yang lain ada dalam ruang-ruang pengalaman-keterlibatan yang tak tertuturkan. Esai linda mengajak kita menyusuri sejarah pergulatan pengalaman manusia yang penuh konflik, tragedi, tapi ada yang tidak lelah membuka pintu rekonsiliasi.

Orang bisa melihat uraian Linda sebagai alternatif (sejarah kecil) tentang mereka yang tak pernah berada di atas pangung. Tapi sialnya alternatif itu juga tidak menjamin ke-swasembada-an narasi atas pengalaman. Tapi, paling tidak kita dapat memperpendek ketegangan jarak antara Sejarah dan sejarah. Sebab dalam pengalaman keterlibatan historis orang kadang memang tidak bisa berkata apa-apa. Jika uraian sejarah para ilmuawan kerap kali amat kering, seolah irama musik klasik yang harus taat pada baris-baris partitur notasi, pemotongan birama dan lain-lain. Maka esai Linda bisa kita bayangkan sebagai Jazz, yang lebih mengandalkan improvisasi musikal, memelintir partitur, keluar dari pemotongan birama dan irama 4/4, yang lebih mendasarkan diri pada kemampuan merasa seorang musisi dalam mendobrak aturan formal, sebab kayakinanya pada satu kemampuan memangkap denyut bunyi dalam setiap pengalaman bermusik.

Kecanggihan narasi sastrawi dalam buku ini pada akhirnya penuh juga dengan keterbatasan. Pengunaan metafor,pengungkapan detail peristiwa, percakapan dan lain-lain adalah satu alternatif untuk membahasakan sesuatu yang di luar konsep. Metafora “ burung kecil biru” paling tidak membantu kita memahami posisi orang-orang hilang saat rezim militer Soharto dan nasib jugun ianfu. Metafora dan model penulisan sastrawi memiliki daya sugestif kuat untuk membantu kita membayangkan seolah berada dalam satu peristiwa di masa lalu yang menjadi pusat peceritaan sejarah. Metafora adalah bahasa yang bertransformasi untuk menghasilkan makna baru bagi setiap yang diandaikan sebagai rujukannya.

Barangkali sebab itu para mistikus mengatakan, seringkali pertemuan dengan Realitas sebagai pengalaman keterlibatan sering berupa laku hening. Seperti senyap di antara detak jarum jam, seperti daun jatuh yang gagal kita dengar bunyinya. Upaya mengetahui Sejarah dan menuliskannya adalah usaha untuk mendengar senyap di antara detak jarum jam. Sejarah kecil adalah soal menulis bunyi-bunyi yang gagal di dengar banyak orang. Suara yang kerapkali lolos dari keketatan metodologis ilmu pengetahuan. Tapi masalahnya, kita tidak berada dalam senyap ruang sejarah. Sementara amat sedikit orang mampu mencapai pengalaman mistik, sebab kepalang tangung mengira bahwa untuk mencapainya ia harus menjauhi dunia, bersemedi di ruang sunyi tanpa satu keterlibatan dalam sejarah.

Sejarah yang ditulis tanpa keterlibatan adalah sejarah tanpa manusia. Barangkali narasi yang dihasilkannya hanya mampu memuaskan aspek keketatan metodologi, tapi gagal merangsang imajinasi naratif pembaca untuk membayangkan dan merasakan pergulatan psikis subjek yang ditulis. sejarah seperti itu hanya behenti sebagai cerita di atas kertas, dia tidak memiliki daya untuk mengendap dalam pikiran pembacanya. Dia tidak merangsang satu kesadaran baru yang melahirkan tindakan.

Sementara praktik penulisan sejarah kecil dalam buku ini mengajak mengasah rasa merasa akan kedalaman sekaligus kerumitan kehidupan manusia. Kita yang hidup tenang dan penuh kenyamanan diajak membayangkan suasana kehidupan orang-orang yang penuh dengan pergulatan, ketidakadilan dan diskriminasi. Mungkin hanya melalui jalan membayangkan kita bisa merasakan sedikit beban psikis akibat tekanan sosial seorang Wanda yang transgender. Tapi, Linda dan buku ini tentu tidak menginginkan kita mengalami kemanusiaan hanya dengan membayangkan. Seperti esai-esai dalam buku ini yang ditulis berdasarkan laku keterlibatan jurnalistik Linda, begitu juga kemanusiaan adalah keterlibatan. Sampai detik ini belum ditemukan mesin yang mampu membuat kita berada dalam ruang hampa Sejarah, ruang tanpa keterlibatan, bukankah begitu?

Kaliurang, Akhir April 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s