8 Jalan Mencapai Kebahagiaan Kudus menurut Allen Ginsberg

allen ginsberg naked.jpg

Hidup digelar dua babak. Keduanya tak berhubungan. Siapa membuka babak pertama: seorang berwajah ceria, mudah bergaul dan jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali tak penting. Misinya tinggal merasai sesuatu yang berubah: sambil mengingat adegan-adegan di babak pertama. “Semuanya menjadi sepela saja”, Kata siapa, musti mengenal orang lain lewat cara baru. Kejadian-kejadian dirangkai narasi epik, pokoknya semua harus sepele dan biasa saja. Tidak bisa, cara baru mesti heroik, dan untuk apa semua yang sepele saja ini masih dijalani. Sejak merasai bahagia jingkat-jingkat bersama, sambil menoleh ke botol-botol yang tak boleh kosong, sampai sloki tak terhitung, masih saja ada yang bilang ini sepele saja.

Terlanjur masuk babak kedua dan merasai kembali adalah percaya. Yakin. Teguh. Tak goyah, tak gentar walau beberapa kali tergetar. Pada kebohongan semuanya dulu biasa saja. “ Apa berbohong pada siapa? “ tidak ada yang melapor untuk kerugian-kerugian, kecurangan, apa yang tidak pernah terjadi. Musti seperti apa A…B….C…..D . Berjalan di trotoar. Mengamati lampu-lampu kota. Pergi ke altar dan eli..eli lama sabakthani, inggat juga fa bi ay ala irabb ikuma tukadziban: masihkah kau berani berdusta untuk semua nikmat tuhan? Nikmat. Dusta. Kebohongan, dan tuhan, apa yang diingini? tidak usah pergi mengaju tanya pada para mufassir. Hanya tuhan harus dipercaya, begitu juga firman selanjutnya: ada kenikmatan dibalik kebohongan. Bisa mengenal siapapun tanpa mendesak-desak soal apa yang sejati. “Tapi itu kebohongan” sejak kapan mulai diusik pertanyaan-pertanyaan konyol dan tidak tahu ada kenikmatan di balik kebohongan . Catat itu sebagai hikmah dari babak pertama, dan sekarang babak kedua tinggal kalang kabut, tungang-langang, karut-marut.

Tidak ada berjalan di atas trotoar. Mengamati lampu-lampu kota. Berkenalan dengan orang baru dan tak sibuk dengan kelicikan tanda tanya dalam kepala. Bisa sepele saja. Babak kedua lamat-lamat mau pecaya. Yakin merasai getar tapi kini juga gentar. Mau percaya saja pada kata-kata yang ditulis dalam derak-derai kereta bawah tanah di New York 17 oktober 1975 dari tulisan tangan seorang pencemas yang berbahagia: Allen Ginsberg ” Gospel Noble Truth” :

(berikut terjemahan seenaknya  atas tulisan Ginsy, yang saya lakukan beberapa waktu lalu. prosa pendek bebas di atas adalah catatan saya untuk beberapa momen yang terasa ketika membaca kumpulan puisi Ginsy khusunya pada puisi yang diterjemah di bawah ini. Oh yaa…puisi ini juga diadopsi dalam sebuah lagu yang pernah dinyayikan sendiri oleh Allen Ginsberg ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=l3ekB7dS2TE)

kirn600span.jpg

Terlahir di dunia
Maka kau ambil anugrah duka
Segalanya berubah, bergerak
kau ambil saja tak usah dirasa

try to be gay
ketidaktahuan, tak peduli     menyenangkan
kamu harus memutar blues
memakan roti bolu

kau telah memilih berada di suatu jalan
pilihanmu adalah jalan yang mulia
kau kini berada dalam roda besar,         berjalan
ada 8 cara kau bisa terus berputar, melayang,

Lihatlah panorama
masuklah pada horizon lanskapnya
Bercakaplah dengan awan
lakukan, dan bercakaplah saja

Duduk segeralah duduk
Hirup udara ketika kau ingin bernafas
berbaringlah kau ingin terlelap
ayunkan kaki ketika ingin pergi berjalan

Bicara ketika ingin bicara
Teteskan air mata ketika ingin menangis
berbaringlah kau ingin terlelap
kau boleh mati ketika kau ingin mati

Bukalah matamu ketika kau ingin melihat
dengarlah apa yang ingin kau dengar
rasai apa yang ingin kau rasakan kemarilah
cium apa yang ingin kau cium

sentuh apa yang ingin kau sentuh
pikirkan apa yang ingin kau pikir
lepaskan saja, lepaskan semuanya                      pelan
Bumi, surga, neraka

Semuanya berjalan layaknya sinar matahari
cahaya bagimu di surga
lihatlah apa yang kau lakukan
datang, berjalan, timbul-tengelam

kau boleh mati ketika ingin mati
kau boleh mati ketika ingin mati
berbaringlah                              kau akan lelap
kematian datang ketika kau ingin mati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s