Membebaskan Para Katak: Melampaui Lokalisme Gombal, Membingkai Solidaritas Global (Ulasan Memoar Benedict Anderson, A Life Beyond Boundaries)

12592471_10153797888036390_946617473828254776_n.jpgApakah sebuah kotak mampu menjerat sosok Benedict Anderson? Entah mampu atau tidak, kita akan coba dulu bermain (meng)kotak-kotakan. Kotak awal yang kita sepakati sebelum mulai bermain adalah bahwa Benedict Anderson harus dimasukkan dalam kotak:   pakar nasionalisme. Tapi semenjak 2009 permainan kotak-kotakan untuk menjerat kaki-kaki Ben bisa gagal atau paling tidak jadi sebuah permainan yang sia-sia dan tak mengasikkan. Padahal orang bermain tentu untuk mencari keasikan. A Life Beyond Boundaries menunjukkan dengan didaktik dan asik bahwa cowok yang sering menulis surat korespondensi nakal dengan mahasiswa seumur hidup Pipit Rochiyat itu tak suka tempurung apalagi kotak. Jangan coba menjeratnya, sebab kita bisa terjebak dalam permainan yang tak lagi asik. A Life Beyond Boundaries (2016), menegaskan sosok Ben tak bisa dikurung sebagai teoretikus nasionalisme. Lebih dari itu, Benedict Anderson adalah seorang internasionalis.

Bermula dari dorongan Nona Endo Chiho seorang editor dari Jepang, bahwa perjalanan keilmuan dan kehidupan Benedict Anderson perlu diabadikan dalam sebentuk autobiografi. Tujuan awalnya untuk memberi wawasan kepada mahasiswa di Jepang tentang kehidupan Ilmuwan Anglo-Saxon. Ben awalnya meragu, sebab Ia tidak bisa bahasa Jepang. Akhirnya, berkat bantuan dan bujukan murid sekaligus kawannya Kato Tsuyoshi untuk berkolaborasi; menerjemahkan tulisan Ben kebahasa Jepang, Ben pun menulis autobiografi yang terbit pertama dalam bahasa Jepang (2009). Edisi terjemahan bahasa Indonesia Hidup di Luar Tempurung, dialihbahasa dari edisi Inggris yang dikerjakan Ben pada 2015 dan terbit 2016.

Terjemahan Indonesia dikerjakan Rony Agustinus dengan apik. Seturut cara Ben memilih kata ketika menulis dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata father, mother, tidak dialihbahasa bapak, ibu, tetapi nyokap, bokap. Pronomina bahasa sehari-hari anak gaul Jakarta-Betawi yang sering digunakan Ben muncul bergantian. Rony seperti menangkap keprihatinan Ben soal pentingnya penguasaan beragam bahasa juga penerjemahan yang presisi. Di jantung komitmen pada solidaritas antar manusia adalah usaha memahami tata hidup manusia dalam purwa rupa konjungtur sejarah.

Bahasa menyedikan jembatan bukan hanya bagi pemahaman akan cara komunikasi manusia. Akan tetapi, serempak juga membawa pemahaman tentang sejarah dan budaya yang mengendap dalam tata pikir, cara rasa merasa manusia atas dunianya. Kemanusiaan adalah arena global bagi tukar pikir dan tukar rasa, saling mendengar untuk memahami. Tersebab, lawan terbesar bagi upaya-upaya solidaritas global adalah kelaliman kekuasaan. Ben menegaskan hal itu dengan menyitir ujaran ilmuwan politik imigran Karl Deutsch “berkuasa artinya tidak perlu mendegarkan !”. Kegemaran Ben pada bahasa dan terlebih sastra bisa jadi adalah bentuk ketulusan untuk belajar “mendengarkan”.

Melampaui Lokalisme Gombal

Sebagai autobiografi Hidup di Luar Tempurung, tak hanya berisi catatan perjalanan personal. Lantas senyap dari persoalan yang selama ini menarik simpati dan ketekunan keilmuan Ben. Meneroka kehidupan ilmuwan Anglo-Saxon tidak cukup menarik. Terlalu khusyuk berpegang pada objektivitas, dan formalitas. Tapi orang lekas tahu Ben adalah kasus kusus. Walaupun secara formal jabatan akademisnya di Cornell tetapi sejak lahir di Cunming, Tiongkok Ben hidup berpindah-pindah negara. Mencecap berbagai cara hidup manusia.

Puncak karir akademisnya justru dirajut dari perjalanannya di kawasan Asia Tenggara, kawasan yang kemudian mensohorkan kepakarannya. Sebuah kawasan yang kaya akan narasi-narasi hidup yang beragam, kompleks dan sulit disatukan. Pada mulanya Asia Tenggara adalah istimewa. Sepanjang perjalanan sejarah kompleksitas budaya, agama, bahasa, etnisitasnya tidak pernah berhasil ditaklukkan dalam keseragaman sistem kekuasaan raja-monarkhi. Nantinya ketika kolonialisme masuk ke kawasan Asia Tenggara pun dalam keseluruhannya juga gagal menyeragamkan kompleksitasnya. Alih-alih melakukan itu, bangsa Barat yang menjajah Asia Tenggara pun beragam. Sebagai seorang yang sohor dalam kepakaran kajian wilayah Asia Tenggara, apa yang membuat Benedict Anderson istimewa, selain bahwa ia hidup dalam berbagai keragaman budaya manusia?

Keistimewaanya terletak pada kenyataan bahwa: dalam diri Ben, sepanjang perjalanan keilmuannya, simpatinya terhadap perjuangan anti-kolonial, dan nasib mereka yang dilemahkan tidak pernah luntur. Ben pada bagian Prakata menegaskan bahwa autobiografinya menangani dua persoalan. Pertama, pentingnya terjemahan bagi masyarakat. Kedua, bahayanya sifat kedaerahan yang arogan, dan melupakan bahwa nasionalisme yang serius bertaut dengan internasionalisme. Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination (2005) terbit setelah rentang waktu 22 tahun, dari terbitnya Imagined Communities (1983). Dalam proses panjang itu Hidup di Luar Tempurung mencatatkan bahwa simpatik Ben tetap sama. Ia tetap bersetia pada kejadian di lapangan Cambridge, saat usia Ben masih 20 tahun.

Kala itu Anderson masih cowok ingusan. Mahasiswa tingkat awal jurusan sastra klasik di Cambridge, seorang yang sukar bergaul. Pelahap berbagai jenis buku yang pemalu, sampai-sampai tak tau cara mengobrol dengan cewek-cewek. Di lapangan atletik universitas Anderson ingusan melihat demonstran kulit coklat memprotes persekongkolan Inggris-Israel, untuk menyerang Mesir akibat upaya Nasser menasionalisasi terusan Suez. Tapi tiba-tiba segerombolan mahasiswa Inggris berbadan kekar menyanyikan God Save the Quen dan menyerang. Ben mencoba memberi bantuan, tapi anak muda 20 tahun itu kacamatanya direnggut, diremuk di kubangan lumpur. “Ini pertama kali saya berhadapan langsung dengan imperialisme dan rasisme”. Menginggat peristiwa itu kata Ben “ belum pernah saya semarah itu seumur hidup”.

Kemarahan Ben di kampus Cambridge itu awal kebangkitan sikap politik. Peristiwa yang membentuk diri dan komitmen keilmuannya. Kemarahan itu tersisa dan menyediakan cukup alasan mengapa pada akhirnya Ben tertarik belajar Marxisme dan nasionalisme anti-kolonial bangsa-bangsa non-Eropa. Anderson ingusan tumbuh dalam eraman kemarahan yang mendidiknya menjadi penentang segala sikap otoritarian, ketundukan dinastik-hierarkis yang mengkotak-kotak dan menghambakan sesama manusia.

 

Lulus dari Cambridge, Ben memutuskan pindah ke Amerika, sebab lama dirumah saja sebagai sarjana tanpa pekerjaan ternyata membuat ibunya gelisah terus. Menerima tawaran dari temannya untuk mengantikan mengajar di Cornell sebagai dosen muda sambil melanjutkan belajar studi wilayah Asia Tenggara di bawah bimbingan guru yang membentuk sikap politiknya G.McT Kahin. Kini Anderson menjadi mahasiswa kajian Asia Tenggara, bidang yang seolah sama sekali tak linear dengan fokus awalnya.

Januari 1962 tiba di Indonesia sebagai mahasiswa doktoral di usia 26 tahun. Pertama kali sampai Indonesia, tinggal di sebuah rumah kost. Belum juga merapikan semua barang bawaan pintu sudah diketuk tamu tak diundang. Ternyata Onghokham, waktu itu masih mahasiswa S1 sejarah UI di usia 29 tahun sebab pernah bosan dan terusir dari fakultas hukum. Dari Ong lah Ben bertemu sarjana-sarjana Indonesia, Soejatmoko, Rosihan, Soe Hok Gie, dll. Gie hadir sebagai anak Tionghoa Betawi yang Ben kagumi. Ben sering terjebak dan melihat pertengakaran dan umpat-umpatannya Gie lawan Ong yang masih Jawa junkies, dengan dompet masih kempes. “ Gie kowe borju”, “ Ong koe feodal”, barangkali waktu itu Ben geleng-geleng liat cowok-cowok hokkian ini saling melempar umpatan.

Ben memakai sarung kala hari pertama di Indonesia. Mengalami gagar budaya saat kehujanan bersama Onghokham. Tak bisa pulang dan harus menginap di asrama cowok-cowok temen Ong dan digigiti nyamuk. Anderson ketakutan sebab tak ijin ibu kostnya untuk keluar sampai malam, bahkan menginap. Tapi dari itu ia akhirnya tahu bahwa anak cowok lebih istimewa, sebab di Indonesia mereka bisa pergi sampai larut malam tanpa ijin orang tua. Budaya yang sama sekali lain dengan kebiasaannya di Eropa.

Pertama kali jadi korban keisengan Onghokham dan anak-anak GMNI yang menyelipkan cabe di makanan yang disiapkan untuk Ben. Selanjutnya Si Bule 26 tahun asik mengikuti selera jalan-jalannya Ong. Diajak ketemu orang gila, lurah tua, bupati kesepian, pangeran dekaden, seniman pongah, pemain ludruk, dukun-dukun angker, makan di warung-warung Tionghoa kelas kroco, sabil kata Ong mencari Wayang Beber yang masih hidup dan bisa bergerak sendiri. Indonesia akhirnya menjadi tempat yang memikat bule polyglot yang sampai mati berpaspor Irlandia.

Lewat Imagined Communities Ben bertanya bagaimana nasionalisme mampu merekat-kaitkan warga dalam perbedaan rentang spasial dan kebudayaan dalam satu negara modern. Dimasa Ia dicekal dari Indonesia, pindah mempelajari Siam yang tak pernah dijajah. Kata Ben ini pengusiran yang cukup menguntungkan, sampai-sampai di salah satu bagian Hidup di Luar Tempurung ia merasa harus sedikit berterima kasih pada Soeharto dan antek-antek Orba yang mencekalnya. Sebab itu membuatnya memiliki fokus kian beragam, mendorongnya untuk berpikir keras tentang Asia Tenggara yang lebih luas. Jika ia tak dicekal dari Indonesia dan terdampar di Siam Imagined Communities mungkin tak akan lahir. Selanjutnya ketika Ben terasing dari tempat yang ia cintai.

Setelah dari Siam kemudian merambah mempelajari Filipina sebab terpesona sosok novelis berselera global, bapak nasionalisme filipina Joze Rizal. Bolak-balik Siam- Filipina dan mengamati Indonesia dari jauh lewat korespondensi dengan teman-temannya. Kini pertanyaan Ben kian memberat, lebih dari saat ia menulis Imagined Communities. Bagaimana, dan dalam proses seperti apa nasionalisme anti-kolonial bangsa non-Eropa dikondisikan oleh proses saling silang global melampaui batas nasional dan kolonial?

Pertanyaan itu diajukan Ben sebab perkembangan nasionalisme kontemporer semakin menjauh dari semangat awalnya yang anti-dinasti, berdaya jangkau global. Nasionalisme kontemporer semakin berwatak lokal dan instrumentalis sebab perkawinannya dengan negara modern yang secara esensial masih berwatak kolonial dengan aspirasi aparaturnya yang hanya ingin mengisi pundi-pundi di bawah sepatunya tuan-tuan lokal bermuka kolonial. Artikulasi gamblangnya: nasionalisme hanya menjadi alat negara dan institusi turunannya untuk meneguhkan dominasi: militer, media, sekolah dan universitas, serta badan-badan keagamaan. Nasionalisme kontemporer melupakan kesalingterbuhungan global. Koneksi lintas bangsa koloni yang memungkinkan solidaritas lintas bangsa. Ben menyindir kecenderungan di atas dengan pribahasa fatalistik yang ada dalam bahasa Thai dan Indonesia. Bagai katak dalam tempurung,frog under the coconut shell” .

Pribahasa yang mengambarkan seekor katak, sepanjang hidupnya tinggal di bawah separuh tempurung kelapa. Duduk diam, dan tak lama sang katak mulai merasa bahwa tempurung kelapa meliputi seluruh alam semesta. Sang katak berpikiran sempit, lokal, dan terkucil. Keseluruhan narasi dalam buku ini dibingkai dalam semangat untuk memecahkan tempurung. Semangat untuk terus belajar, juga rasa marah terhadap segala sikap sempit, superior, merasa diri telah purna dan cukup.

Membebaskan Para Katak

Hidup di Luar Tempurung, membantu kita memahami berbagai pendekatan yang menopang aktivitas keilmuan Benedict Anderson. Pentingnya metode komparasi, analisis diskursif, melintang batas-batas disiplin ilmu. Memulai cara baru memahami kenyataan bukan dengan tata nalar nomotetik (sebab-akibat) dalam pagar disipliner yang dipancang kuat. Nalar nomotetik memang bisa menjelaskan beberapa contoh gejala. Tetapi tata nalar ini kikir terhadap keragaman proses sejarah, pengalaman manusia, dan tak menerima bentuk-bentuk alternatif.

Pada bagian akhir Ben, mengiring pembaca untuk mempertimbangan adanya “kebetulan” dalam setiap proses sejarah. Seraya menyindir akademisi yang terlalu berkomitmen terhadap “konsep”, “struktur kelembagaan”, “tradisi”, “ideologi”, “tren demografi”, “penyebab dan dampak-dampak”. Lema “kebetulan” memang bisa luput dari buku-buku ilmiah. Tapi, “kebetulan” selamanya tidak bisa dienyahkan dari kehidupan manusia, dan upaya ilmuwan memahami kehidupan manusia. Kebetulan juga tidak datang begitu saja. Kebetulan seharusnya merangsang orang berbuat.

Pesan Anderson tua pada para sarjana muda, adalah pentingnya menegaskan semangat petualangan yang menkondisikan segala kemungkinan mencuat, mencoba hal-hal baru. Apa yang Ben sebut sebagai “strategi diskursif” lebih dari sebuah metodologi, tetapi laku epistemik-etik untuk memahami bahwa ilmu sebagai seuatu yang disipliner selalu terbatas dalam dirinya sendiri. Tuturan saintifik yang hendak menjangkau kenyataan sebagai “sejarah” kehidupan manusia yang disiplin, homogen ataupun linear-mekanistik hanya akan membuat ilmuwan mengalami apa yang Ben sebut “rabun jauh”. Satu penyakit mata yang timbul dari racikan gampangan: kepercayaan berlebihan pada objektifitas ilmiah yang dipadu dengan rasa pembelaan pada lokalisme-nasionalistik sampai taraf sekonyol-konyolnya.

Kenyataan tak pernah disiplin, tapi cenderung acak, repetitif, timbul tengelam, diakronis. Sarjana muda haruslah mampu meracik tata tutur baru yang paling tidak mempertipis skat disiplin tuturan saintifik, jika tidak mampu melampauinya. Lewat cara diskursif paling tidak sifat reduksionistik dalam tuturan saintifik bisa diperkecil kadarnya secara metodologis. Di akhir segalanya menjadi sarjana, berilmu, tidak lain adalah komitmen etik untuk selalu mendengarkan, belajar melihat rupa-rupa “bahasa manusia”. Menuturkannya kembali bukan semata sebagai ancangan prediktif yang sewenang-wenang, tetapi upaya melihat celah-celah sempit yang mungkin dibuat manusia.

Suatu celah untuk membuka sedikit demi sedikit tempurung kelapa. Sang katak harus tahu Martini hanya satu jenis minuman a la Anglo-Amerika. Di belahan tempurung lain cowok-cowok calon sarjana sedang nikmat menenggak ciu. Upaya diskursis komparatif akhirnya memancing kedua belah pihak untuk bertanya “ hai kamu apa ndak tertarik ke tempatku mencoba ciu, hei kamu lihatlah cara kami meracik martini”. Singkatnya suatu ajakan pada siapa pun untuk keluar tempurung. Hal itu menurut Ben, amat krusial bagi kehidupan kesarjaanaan yang kreatif. Tidak ada yang lebih membuat seorang berhenti berfikir kreatif ketimbang panduan antara egoisme kebangsaan dan rabun jauh disiplin ilmu. Tegasnya, racikan antara lokalisme yang berpancang pada ilusi-ilusi “keilmiahan” disiplin ilmu. Ketika dua hal itu teramu maka tiada lain selain sang katak semakin berpuas diri dalam tempurungnya.

Autobiografi ini menguratkan, bukan hanya kehidupan personal, tapi juga sikap politik dan komitmen keilmuan yang menubuh dalam diri Ben. Dirinya adalah totalitas pembelaan bagi setiap manusia yang dilemahkan akibat represi tata sosial, politik maupun kebudayaan. Suatu pembelaan sebagai aktivitas pembebasan bukan hanya dari berbagai bentuk ketidakadilan tata sosial-politik ,tapi juga dari diri sendiri. Seperti kata Pogo si tupai kecil, hewan lemah yang polos tapi cerdas, berani, lucu dan cukup waras: “ kita telah bertemu musuh, dan itu ternyata adalah kita sendiri”

 

*pernah dimuat di Jurnal Cogito vol.3 no.2 2016

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s