fullsizeoutput_d0

Setelah menghabiskan teh dengan sedikit terburu-buru perempuan itu tidak jadi masuk kantor. Sebagai pramusaji di sebuah cafe kecil di pinggir kota pekerjaan itu begitu ia nikmati. Sesekali masih bisa melihat beberapa lelaki yang mampir ke kedainya. Menghitung berapa prosentase yang membuatnya mungkin pantas berkenalan dengan seorang laki-laki yang memesan Cappucino
. Hidupnya tinggal soal hitung-menghitung kemungkinan-kemungkinan yang dalam bayangannya akan membuat segalanya lebih baik.

Yang ini mungkin…ah yang itu tidak mungkin…ahhh yang dipojok sana lebih menarik…ah tapi itu tidak mungkin. Isi kepalanya dari waktu ke waktu kusut, berbelit-belit.

Seorang menghampirinya tapi ia masih sibuk dengan seorang lagi di ujung sana yang tak menghampirinya, atau kecil sekali prosentase untuk menghampirinya. Dan dalam kisah ini perempuan itu bukan tokoh utama, jadi kita biarkan saja ia sibuk dengan taksiran, dan hitungan yang mungkin ia buat sendiri, atau memang hidupnya tinggal soal hitung-menghitung. Membayangkan angka-angka bisa begitu sempurna sementara ia hanya pramusaji di sebuah cafe pinggir kota, dan di sini ia bukan tokoh utama

Continue reading

Advertisements