Kesedihan Kontemporer

fullsizeoutput_d0

Setelah menghabiskan teh dengan sedikit terburu-buru perempuan itu tidak jadi masuk kantor. Sebagai pramusaji di sebuah cafe kecil di pinggir kota pekerjaan itu begitu ia nikmati. Sesekali masih bisa melihat beberapa lelaki yang mampir ke kedainya. Menghitung berapa prosentase yang membuatnya mungkin pantas berkenalan dengan seorang laki-laki yang memesan Cappucino
. Hidupnya tinggal soal hitung-menghitung kemungkinan-kemungkinan yang dalam bayangannya akan membuat segalanya lebih baik.

Yang ini mungkin…ah yang itu tidak mungkin…ahhh yang dipojok sana lebih menarik…ah tapi itu tidak mungkin. Isi kepalanya dari waktu ke waktu kusut, berbelit-belit.

Seorang menghampirinya tapi ia masih sibuk dengan seorang lagi di ujung sana yang tak menghampirinya, atau kecil sekali prosentase untuk menghampirinya. Dan dalam kisah ini perempuan itu bukan tokoh utama, jadi kita biarkan saja ia sibuk dengan taksiran, dan hitungan yang mungkin ia buat sendiri, atau memang hidupnya tinggal soal hitung-menghitung. Membayangkan angka-angka bisa begitu sempurna sementara ia hanya pramusaji di sebuah cafe pinggir kota, dan di sini ia bukan tokoh utama

Aku pernah bilang cara mati paling baik adalah menenggelamkan diri di sungai. Ini cara Virginia Woolf untuk lepas dari sengkarut dalam pikirannya. Berpisah dengan Leonard yang kelewat mencintainya. Menulis surat terakhir untuk Leo, lelaki yang baginya tak kunjung memahami posisinya. Aku jatuh cinta pada surat yang ditulis Virginia Woolf pada Leo orang yang berkali-kali menyelamatkan nyawanya. Tapi entah kenapa aku juga jatuh cinta pada cara Virginia memilih kematiannya…..Bukankah kematian yang agung adalah saat kita tahu waktu dan cara terbaik untuknya…

Membalut tubuh dengan parka panjang berwarna cokelat. Memenuhi isi kantong dengan batu yang sudah ditaksir dengan tepat, bahwa 5 atau mungkin 7 butir sekepal tangan akan mampu membuat seorang tenggelam. Tidak langsung tenggelam. Merasai detik demi detik tubuhmu masuk dalam air. Pelan-pelan air meninggi, dan kau mulai sadar entah berapa liter air telah masuk dalam tubuhmu karena kau bersepakat dengan dirimu sendiri untuk tak membiarkan mulutmu terkatup. Kematian datang pelan, berlahan dan kau jadi satu-satunya saksi bagi dirimu sendiri.

Mengapa kau selalu sulit tidur di malam hari? Mengapa kau selalu tidak bisa bangun pagi? Bukankah yang kau dambakan adalah udara segar dan sisa hujan semalam yang masih tertinggal di pucuk-pucuk pagi ketika jendela kamarmu masih tertutup rapat. Di usiamu yang ke 25 kau ingin terbangun seriang Mrs. Dallowy, pergi menyusur jalanan yang masih lengang dan membeli buket bunga untuk perayaan ulang tahun Clarissa. Kau tentu sama sekali tak menyukai ide tentang bunuh diri paling agung.

Suatu saat kekita usiamu sampai dan kau merasa ada sulur-sulur panjang lebat dan berduri yang tumbuh dari kakimu. Membuatmu melangkah saja sulit. Ingatlah semuanya harus diuraikan satu-persatu. Elemen-elemen yang membuat hari-harimu terasa amat membosankan. Kenapa kau membenci dirimu yang masih menunggu seorang datang kepadamu untuk sekadar menanyakan bagaimana cara minum kopi paling baik atau dimana restoran tionghoa di kota ini yang bisa memasak kerang setengah matang dengan saus asam manis yang pas, dan tentu tanpa kecap asin karena kau alergi kecap asin.

fullsizeoutput_d2

Hidup seperti tak pernah cukup. Setelah kelahiran kedua yang kau alami di separuh hidupmu. Kamu pernah mengira bahwa banyak hal akan berjalan dengan mudah. Misalnya kau akan berubah menjadi sosok ceria yang bisa bergaul dengan siapapun, atau paling kecil kau tidak harus lagi jalan dengan kepala merunduk. Mereka tak akan memahamimu dan kau tak mempermasalahkan apapun.

Setelah menahan dingin yang merasuk lewat telapak kakimu. Kau tahu banyak hal belum berubah. Masih ada lembar dan halaman buku yang selalu kau lewatkan ketika kau mebacanya.

Masih inggat 60 butir antipresan yang kau tebus di apotik rumah sakit dekat kampus. Ia bilang waktu itu proses-proses biologis dalam tubuhmu sedang terganggu. Tubuhmu butuh menelan 2 butir antipresan dengan dosis rendah setiap harinya. Kau membeli 60 butir itu dengan sisa uang bulanan yang dikirim ayahmu untuk membeli buku.

Ayahmu mengira kau yang menghabiskan waktu-waktumu dengan membaca tak akan mungkin harus mengalami tremor, badanmu gemetar, dan terjatuh di tempat parkir sebuah apotik dan kau harus pelan-pelan bangun. Menyadari tidak ada siapapun di sampingmu dan kau merasa ini baik-baik saja dan bukan masalah besar. Ini seperti saat kau mabuk dan terjatuh di selasar gedung kampusmu dan kau masih merasa sloki selanjutnya akan membuatmu semakin baik-baik saja.

Sisa alkohol masih lekat dalam tubuhmu. Dan kau terbangun, kau baru menyadari ada sesuatu yang dingin dibantalmu. Tapi saat itu kau hanya ingin kembali menengelamkan mukamu dalam-dalam di atas bantal yang di desain bisa menyerap berbagai jenis cairan. Besok pagi kau boleh lahir kembali…..lalu mati …….tidak di sungai dengan arus deras, tetapi kaku di gorong-gorong dengan tikus dan kecoa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s