Buruh dan Cinta yang Dibunuh (Tentang Nasib Perempuan Lesbi Mantan Buruh Migran di Hongkong, Sekembalinya dari Victoria Park)

Ia tertunduk karena salah, gentar, patuh mengecam diri

Dan akhirnya boleh juga, ia dimanja sekali-kali

__Toeti Heraty N, Sajak : Manifesto__

fullsizeoutput_d0

Lebaran tahun 2015 ia pertama kali melihat kembali kampung halamannya. 4   ia menjadi buruh di Hongkong, dan tidak akan pulang sebelum adiknya lulus pendidikan tinggi.

“Aku tidak akan kembali lagi ke Hongkong, semua hal yang berhubungan dengan Hongkong harus dihapus” begitu katanya dengan bahasa Jawa kasar (ngoko).

Malam itu tepat lebaran hari ke tiga tahun 2015, saya berbaring di sampingnya, mendengarkan semua ceritanya. Mulai soal kebencian pada ayahnya, kesulitan ekonomi yang memaksanya menjadi buruh setelah lulus Aliyah (SMA), kehidupannya selema empat tahun mukim bersama majikannya di apartemen mewah tepat di pinggir Victoria Park, kisah cintanya, hingga rasa bangga bisa membiayai adiknya kuliah, hingga lulus pada 2015 lalu. Ia bercerita dengan lancar dan kronologis. Semua seperti telah ia susun rapi dalam kepalanya, episode ke episode.

Malam semakin larut. Di ruang tengah rumah saya, hanya ada kami berdua. Anggota keluarga yang lain telah lelap semua. Kami seperti sepasang saudara yang baru saling mengenal. Ia mengisahkan semua tentang dirinya, hal-hal yang tidak saya ketahui.

“ Ini kali pertama aku bisa menceritakan semua rahasia dan beban ku selama ini” katanya, sambil mencopot kain jilbab yang menutupi kepala. Maklum, udara ruang tengah rumah saya malam itu cukup membuat tubuh berkeringat. Satu kipas angin dan dua jendela ternyata tak cukup mengusir udara malam yang panas. “ aku juga tidak menyangka tiba-tiba kamu akan cerita sesuatu mbak” jawab saya datar.

Saya sudah lupa kapan terakhir kali saya bertemu keponakan saya ini. Sejak SMP saya pindah ke kota dan menyewa kamar kost pertama saya di usia 13 tahun.   Jarak antara desa kami dan sekolah saya cukup jauh. Sesekali setiap akhir pekan saya pulang ke rumah. Saat itu, keponakan saya juga telah pindah ke kota Malang tepat ketika saya masuk SMP.

Lebih dari 6 tahun kami tidak pernah bertemu. Lebaran tahun 2015, ketika saya dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Kediri, sebuah pesan singkat masuk: “Mas kapan balik Kediri?” Sebuah nomor baru, belum tercatat di kontak HP. Saya juga tidak ada pulsa waktu itu. Saya tidak membalas pesan singkat itu.

“Aku tidak paham, kenapa setelah pulang ke Indonesia aku kok merasa harus mencari Mas Danang, dan menceritakan semuanya” Jawabnya, ketika saya tanya “ Ada apa kok sepertinya penting sekali, mau cerita saja kok harus nunggu tengah malam, saat semua orang sudah tertidur”. Setelah pertanyaan itu saya tidak lagi mengajukan pertanyaan apapun. Ia bercerita dalam bahasa jawa dengan sangat detail. Seperti tidak ada celah untuk bertanya, atau mungkin saya yang kelewat kaget mendengar ceritanya. Entah.

***

“ Aku ini lulusan pesantren mas, tapi selama 4 tahun di Hongkong tidak pernah salat lima waktu”, katanya. Pikir saya waktu itu: ini pasti akan terjadi semacam pengakuan dosa. Tapi saya tetap diam, menyimak sambil sesekali menyulut rokok dan meminum kopi yang dibuatkannya. Kalau hanya soal jarang salat itu hal biasa bagi saya. Orang-orang di sekitar saya juga tidak cukup saleh, jika kesalehan hanya sahih diukur dari rajinya seorang menjalankan salat.

Ia memang kurang beruntung. Sejak kecil hidup bersama neneknya sebab bapak dan ibunya bercerai. Ibunya harus menangung nafkah untuk menghidupi dua anak. Saat dua anaknya menginjak usia 2 tahun, ibunya pergi ke Saudi Arabia, jadi buruh.

Sejak kecil ia tak pernah tahu pasti wajah ayahnya. Baru ketika SMP ia tahu pasti paras ayahnya. Lelaki yang kata ibunya tidak bisa apa-apa kecuali ngaji dan memimpin tahlil. Dari ceritanya saya tahu: ibunya benar-benar membenci mantan suaminya.

“Sejak SMP aku dan adik gak boleh menerima uang atau pemberian apapun dari ayah” begitu katanya menirukan ultimatum ibunya.

“Sejak aku tahu cerita soal ayah dari ibu yang sebulan sekali menelepon, aku mulai diam-diam membenci ayah. Saat itu aku kelas 3 SMP dan adik kelas 1. Kami berdua hidup bareng Mbah dan sebulan sekali ibu menelpon dari Saudi Arabia.”

Simbah juga sering bercerita soal ayah. Katanya dia laki-laki yang tak bertangungjawab. Dari simbah juga aku tahu, ayah telah menikah lagi dan mempunyai anak satu.”

“Setelah lulus SMP aku pindah ke Malang, tinggal bersama paman yang bekerja sebagai supir angkot. Adik tetap tinggal bareng simbah. Simbah saat itu sudah mulai sakit-sakitan dan sebab itu, ibu menitipkan aku di Malang. Di Malang aku hanya sebentar saja tinggal di rumah paman. Satu waktu ibu menyuruhku masuk sebuah pesantren di daerah dekat Kota Batu.”

Singkat cerita, sejak itu ia masuk pesantren. Belajar kitab kuning dan teks-teks fiqih ketika sore hingga malam hari. Pagi hari sekolah di sebuah Madrasan Aliyah (setara SMA). Setiap bulannya ibu mengirimi uang lewat paman, uang itulah sumber satu-satunya untuk jajan, bayar biaya pesantren dan sekolah.

Setelah lulus SMA ia sempat setahun tinggal di rumah pamannya. Membantu mengurusi pekerjaan rumah. Adiknya lulus SMA dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Ibunya juga akan pulang dari Arab Saudi tahun 2016.

Sejak itu dia berpikir “Dari mana biaya kuliah adik kalau ibu pulang dari Arab. Tentu uang tabungan ibu selama menjadi buruh di Arab tidak cukup setelah terkuras untuk biaya sekolahku, membangun rumah, dan juga biaya SMA adik”.

Sejak itu dia berpikir harus mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar untuk membiayai adiknya yang akan masuk perguruan tinggi.

“Aku tak ingin ibu menjual sawah satu-satunya yang dimiliki keluargaku. Sawah itu harus tetap ada. Nanti ketika ibu pulang dari Arab Saudi ada pekerjaan mengurus sawah. Aku harus dapat pekerjaan dengan gaji besar”

Tapi apa yang bisa dikerjakan perempuan lulusan pesantren yang tidak terlalu pandai soal-soal akademis?

“Saat itu pilihanya hanya pergi ke luar negeri, menjadi buruh. Kebetulan teman sepermainanku banyak yang pergi ke Hongkong. Sepertinya mereka berhasil mengumpulkan uang dan membahagiakan keluarganya di rumah”

Satu bulan setelah ibunya sampai di Indonesia, ia telah mengendapkan tekad. “ aku akan pergi ke Hongkong”

“Kalau hanya menjadi buruh, mengurusi pekerjaan rumah, atau merawat nenek jompo, itu soal kecil. Yang penting gaji besar dan adik bisa sekolah. Kasian adik kalau tak bisa sekolah, dia anak yang pintar, dan penurut. Lagian kata adik kuliah di perguruan tinggi S1 itu empat tahun.” Pikirnya “ kalau hanya empat tahun, kalau hanya jadi buruh aku pasti bisa, lagian di Hongkong juga banyak teman-teman dari Kediri”

“Sejak hari itu aku memutuskan akan berangkat ke Hongkong dua bulan lagi”

Saya tidak pernah tahu cerita ini. Kami berdua memang tak cukup dekat. Sepertinya dia berusaha meceritakan semuanya dari awal secara kronologis, agar saya paham runtutan kejadian-kejadianya. Walaupun sampai titik ini saya belum juga tahu apa sebenarnya yang jadi persoalan keponakan saya itu. Tapi saya dengarkan saja cerintanya. Barangkali saya terkesan datar, sebab tak menyela ceritanya atau mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Cara berceritanya stabil: cepat dan lancar. Sesekali saya memintanya mengulangi bagian-bagian yang saya kurang paham. Kadang saya terlalu sibuk menghisap rokok dan menikmati kopi pahit, entah untuk apa.

***

“Aku belum pernah jatuh cinta mas, dan di Hongkong aku merasa kesepian”

Dia menjadi buruh di sebuah keluarga kaya yang tinggal di apartemen tepat di pinggir Victoria Park yang terkenal itu. Sebuah pusat bisnis dengan taman kota, serta apartemen-apartemen mewah di sekelilingnya. “Victoria Park adalah jantung kota Hongkong. Jika akhir pekan buruh-buruh migran dan warga Hongkong menghabiskan waktunya duduk di taman kota ini. Suasananya sangat ramai.”

“Aku biasa berkumpul dengan buruh migran lain setiap minggu sore di salah satu sudut Victoria Park. Kami bersenda gurau, minum bir, dan merokok sepuasnya. Ini juga kali pertama aku minum bir dan merokok, waktu itu aku sudah tidak pernah memakai jilbab lagi.”

Selama di Hongkong setiap bulan ia mengirim uang ke ibunya, untuk biaya adiknya kuliah. Sesekali juga ia menelepon ibu atau sekadar berkabar lewat chat dengan sang adik. Semuanya berjalan lancar. Pekerjaannya sebagai buruh rumah tangga tidak terlalu berat. Hanya merawat nenek sang majikan, dan membersihkan apartemen.

Ia beruntung, majikannya orang yang baik. Hubungannya dengan sang majikan akrab dan terkesan tidak ada hierarki. Dia bercerita sering dibelikan baju dan diajak makan di restoran-restoran mewah bersama keluarga besar majikannya. Sesuatu yang katanya langka didapatkan seorang perempuan buruh migran.

“Jarang seorang buruh pemula mendapatkan majikan yang baik. Di Hongkong seorang buruh migran kerap kali harus berganti-ganti majikan sampai menemukan yang sesuai. Aku sejak pertama kali masuk kerja hingga setahun bekerja di kelurga majikanku, belum pernah diperlakukan kasar atau mendapat hal-hal buruk lainya.”

Majikannya seorang perempuan pensiunan perusahaan swasta yang mulai masuk usia senja. Dua orang anaknya sudah menikah dan tinggal bersama suami mereka. Ibunya tinggal di sebuah apartemen kecil di pinggiran Victoria Park.

“Pekerjaan di Hongkong tidak terlalu berat. Hanya mengurus keperluan perempuan tua yang ingin menikmati masa pensiunannya di tengah-tengah keramaian kota.”

Setahun pertama di Hongkong dia belum banyak mendapat teman sesama buruh migran. Sampai suatu saat seorang teman mengajaknya ikut dalam sebuah perkumpulan buruh migran perempuan dari kawasan Asia Tenggara. Kebanyakan memang dari Indonesia.

“Berkumpul sesama buruh migran menjadi kegiatan akhir pekan yang mengasikkan.”

Dari kegiatan dan perkenalannya dengan sesama buruh migran perempuan, dia akhirnya tahu bagaimana kehidupan para buruh migran. Yang paling penting: dia tahu, dia tidak sendiri di negeri orang.

Dia mulai menikmati minum bir di bar malam. Berkunjung ke tempat-tempat wisata. Makan di rumah makan yang enak. Hingga pesta tiap akhir bulan di sebuah rumah milik seorang buruh migran yang sudah menetap di Hongkong, dan katanya tidak ingin kembali ke Indonesia. Akhirnya Hongkong bukan hanya Victoria Park dengan keramaian yang sulit dipahami. Keriuhan yang kerapkali menyembunyikan suara seorang buruh yang menelan kesepianya lewat grutu dan sumpah serapahnya pada nasib.

Di tengah keriuhan, seorang buruh yang jauh dari tempat asalnya kerapkali hanya merasakan sunyi yang mengigit. Di tengah rutinitasnya berkumpul dengan sesama perempuan buruh migran, ada sesuatu yang mulai dirasanya sebagai kejanggalan.

“Sesama perempuan saling berciuman, mulut lawan mulut. Mereka saling berpelukan. Awalnya aku kira itu biasa saja, hanya untuk mengusir rasa sepi dan meluapkan penderitaan sebagai buruh.”

***

Di suatu malam ia pernah berkunjung ke satu bar di pinggiran kota. Awalnya hanya menuruti ajakan seorang teman. Lagi pula waktu itu sang majikan sedang dibawa anaknya ke rumahnya, jadi di apartemen tidak ada siapa-siapa.

“Aku ikut saja ke bar malam itu, daripada bosan sendirian di apartemen.”

Bar itu riuh sekali. Musik berdentum keras. Suara jeritan kebahagiaan para perempuan mulai memenuhi ruangan. Ada meja panjang tempat beberapa orang duduk dan memesan bir. Lampu disko yang memantulkan beragam warna seolah menguyur mereka yang menari. Mereka seolah mandi cahaya dari lampu itu.

“Setelah dua jam hanya terduduk di depan meja panjang dengan sebotol bir, seorang yang dikenalkan oleh temanku datang dan mengajakku turun ke lantai dansa. Kita berdua menari sampai puas, beberapa kali aku dicium dan pantatku di remas-remas oleh perempuan lawan dansa ku. Aku diam-diam menikmati itu dan terasa memang segala beban dan duka cita juga sejumput kecemasan yang kerapkali datang tiap tengah malam, seolah raib bersama dentuman musik yang semakin keras.”

“Waktu itu aku sudah tidak pernah salat lagi mas. Sepertinya aku juga sudah tidak lancar membaca Al Quran”

“Kejadian di bar itu adalah pertama kali aku bisa merasakan kebahagiaan, dan rasa nyaman tak terkira. Tapi diam-diam aku juga was-was dan mulai menyesali setiap perubahanku dari seorang gadis lulusan pesantren menjadi buruh migran yang setiap akhir pekan meluapkan penat dengan menengak bir dan mengunjungi bar”

Setelah kejadian di bar itu ia merasa hidupnya berbeda dan mulai nyaman di Hongkong. Ia sudah tidak merasa sendiri lagi menangung rupa-rupa kecemasannya. Perempuan yang mengajaknya berjoget di bar waktu itu telah memintanya dengan tulus menjadi pacarnya. Dan ia meneriamnya dengan bahagia. Kini sepasang perempuan buruh migran telah berusaha memadu kasih.

“Kami berdua sering menghabiskan akhir pekan bersama. Sekadar makan di kedai makanan Indonesia di salah satu sudut Victoria Park, atau berjalan-jalan keliling kota. Kadang kita juga sering berdua di apartemen milik majikanku, saat nenek tua itu dibawa anaknya. Beberapa kali aku bercinta dengan dia mas.”

“Dia orang yang baik. Selalu memberiku uang dan mentraktir makan. Dan kami berdua sangat nyambung kalau ngobrol, jadi aku tidak merasa kesepian lagi tiap akhir pekan. Dia Sudah 10 tahun di Hongkong. Asalnya dari daerah Jawa Barat. Dia pernah menanyaiku apakah aku mau menikah dengannya di Hongkong dan tak akan kembali ke Indonesia. Aku tidak pernah menjawabnya.”

Pacar keponakan saya sudah beberapa kali menjalin hubungan dengan perempuan sebagai pasangan lesbi. Sebagai buruh dia sudah cukup mapan. Tiap bulan dia juga masih rutin mengirim uang untuk ibu dan satu orang anaknya di Jawa Barat.

“Pacar lesbiku dulu pernah menikah, tapi ditinggal suaminya entah kemana. Dia jadi buruh di Hongkong karena harus mencukupi keperluan anaknya yang sekarang diasuh oleh ibunya. Dia sudah berpengalaman dalam dunia per-lesbi-an sesama buruh migran. Tapi katanya, baru ketika bertemu aku, dia menemukan perempuan yang berbeda dan sangat dia cintai.”

“Ini pertama kali aku mengenal cinta mas. Atau entah apalah yang jelas aku merasa bahagia, nyaman. Selepas bercinta aku sering diberi uang, atau kalau tidak diberi aku tidak sungkan-sungkan minta saja padanya. Jujur saja, awalnya aku mau bercinta dengan dia sebab uang. Kebiasaannku minum dan membeli rokok jelas menguras gajiku, sementara aku tiap bulan harus mengirim uang untuk biaya kuliah adik dan keperluan sehari-hari ibu di rumah. Tapi tidak dikira lama-lama ternyata aku benar-benar mencintainya, entah kenapa”

Keponakan saya menceritakan mantan pacar lesbinya dengan sangat bersemangat. Saya sebenarnya bingung harus sedih atau bahagia mendengar ceritanya. Atau memang benar: bahagia dan duka tak pernah dipisah dalam skat yang kaku, kerapkali keduanya bercampur. Di tengah orang yang bahagia kadang kita bisa merasa sangat sedih.

“Sejak itu aku sulit mencintai laki-laki mas, aku lesbi. Aku sudah kena alkohol, tidak pernah sholat. Dosoku gedhe banget mas” tegasnya tiba-tiba di sela cerita, seperti berharap aku mengatakan satu, dua buah kalimat untuk menanggapi ceritanya.

Saya sebenarnnya bingung harus berkata apa. Soal dia lesbi saya tidak terlalu kaget seharusnya. Di Yogya ada beberapa teman yang lesbi, maupun gay. Hanya karena ia keponakan saya, dan ia menceritakan semua ini dengan riang, betapa ceritanya seperti telah dia susun runtut. Entah, saya bingung dan tak tahu harus berkata apa, tapi saya bahagia melihat raut wajahnya dan keceriaannya saat bercerita. Malam ini benar sunyi, semua penghuni rumah telah tertidur, jam menunjuk angka 02.00. Hanya ada saya dan kepokan saya.

“Kenapa menceritakan semua ini pada saya, tidak takut apa kalau saya ceritakan semua ini ke bulek?” tanya saya, ketika semua seperti sudah ia luapkan.

“Gak tahu mas, aku percaya saja, yang penting aku bisa cerita.”

Saya diam. Merubah posisi dan merapikan bantal sandaran di lantai. Malam semakin larut dan ruang tengah rumah saya sudah penuh asap rokok.

“Di Hongkong banyak sekali buruh migran perempuan yang lesbi. Di sana gay atau lesbian sudah biasa. Bahkan ada beberapa teman buruh yang menikah sebagai pasangan lesbian dan memutuskan untuk tidak kembali ke Indonesia.”

“Tapi aku ingin pulang dan tak ingin seperti mereka. Walaupun aku sangat mencintai pasanganku, aku ngerti kui doso.

“Aku harus menghapus semuanya, dan memulai lagi dari awal”

“Aku harus balik ke Indonesia hidup di desa selayaknya perempuan, hanya itu satu-satunya jalan agar bisa terputus dari kehidupanku di Hongkong. Awalnya majikanku melarang aku pulang, dan menawarkan akan menikahkanku dengan salah satu cucunya. Dia tidak tahu kalau aku lesbi.”

Dua bulan setelah memutuskan akan balik ke Indonesia ia menghapus semua akses untuk bertemu pasangannya. Dia pindah majikan, ganti nomor ponsel dan tidak lagi berkumpul tiap akhir pekan dengan sesama buruh migran yang lesbi.

“Aku tahu pacarku bersusah payah mencariku. Tiga bulan setelah keputusan itu aku kerja di rumah keluarga tidak terlalu kaya di dekat Macau. Aku juga berpesan kepada majikan lamaku agar tak memberi tahu kepada siapapun soal tempat kerjaku yang baru. Aku ingin pelan-pelan menyiapkan kepulanganku ke Indonesia”

“Cara itu sukses mas” kataya.

Di tempat majikan baru itu dia mulai belajar salat kembali, walaupun cintanya pada sang pacar masih amat bergejolak dan kerapkali dia sudah tidak tahan ingin bertemu kembali.

“Tiga tahun lebih masa bersama kami berdua, itu bukan waktu yang singkat mas.”

“Sekarang aku sudah di kampung halaman, semua akses ke kehidupanku di Hongkong sudah aku hapus. Tapi jujur saja, aku masih sulit mencintai laki-laki, aku tidak merasakan apa-apa kalau dekat dengan laki-laki. Tapi aku pasti bisa dan harus sembuh”

Saya hanya terdiam dan mulai mengantuk, walaupun saya yakin pasti tidak bisa tidur malam ini.

***

Keponakan saya sangat yakin lesbian itu sakit dan harus disembuhkan. Saya tidak bisa menyangkal keyakinannya, walaupun sudah sejak beberapa waktu ruang belajar dan lingkungan saya di Yogya membuat saya belajar banyak tentang orientasi seksual. Bagi saya seks bukan barang padat, seperti cinta ia amat cair. Sepertinya Tuhan memang amat berkuasa sehingga bisa menaruh cinta seenaknya sendiri. Dan hidup juga bukan hanya urusan seks, manusia terlalu kompleks untuk hanya diidentifikasi berdasar orientasi seksualnya, apalagi hanya untuk disudutkan sebab orientasi seksual.

Apa yang keponakan saya alami selama di Hongkong tentu sudah cukup berat untuk seorang yang sejak kecil didera soal-soal memilukan. Kesulitan ekonomi, perceraian, pencarian identitas seksual dan rupa-rupa kesedihan lainya. Saya tidak mungkin berkhotbah di depannya soal keragaman gender, teori Querr, atau betapa bajiangannya moralis-religius kelas menengah yang kerapkali menyudutkan seseorang hanya karena orientasi seksual. Saya hanya diam, dan bahagia atas keputusan apapun yang nanti diambil keponakan saya.

Yang saya salut, dia bercerita dengan senyum tanpa henti dan beberapa kali juga ada canda tawa. Barangkali ketidakberdayaan menghadapi hidup hanya bisa dilawan dengan humor; bercanda atau tertawa. Kesedihan kadang memang tak selalu punya tempat untuk dicatat, hanya akan terus dialami.

Terakhir kali saya mendapat kabar tentang keponakan saya lewat pesan singkat yang dikirim adiknya akhir Januari 2016 lalu:

“ Mas, mbak Dian bulan depan nikah lho, balik Kediri ya.”

Saya tidak membalas pesan itu. Dan saya juga tidak ingin pulang sekadar menghadiri upacara pernikahan keponakan saya itu. Saya bahagia akhirnya keponakan saya telah memilih jalannya sendiri. Tapi saya juga sedih dengan berbagai pengetahuan dari buku-buku tentang gender yang pernah saya baca.

***

Lebaran tahun ini keponakan saya telah melahirkan bayi perempuan yang lucu. Kami berkumpul di rumah orang tua saya. Saya bercerita tentang kuliah saya yang sudah selesai. Di depan saya sepasang lelaki perempuan dengan seorang bayi lucu. Saya melihat senyum keluarga kecil itu. Ada bahagia, duka boleh disimpan, dan betapa nistanya seorang yang berpengetahuan tapi tak mampu berbuat apa-apa di depan persoalan-persoalan terdekatnya sendiri.

Sampai sekarang saya tidak tahu, apakah keponakan saya berhasil membunuh cintanya pada sesama perempuan dengan tanggannya sendiri. Ataukah ada tangan-tangan lain yang lebih berkuasa: moralitas, adat, agama, atau ekonomi. Tangan-tangan yang mensayat urat nadi mereka yang tak pernah diberi kesempatan melihat dunia lebih luas dan menemukan dirinya kembali.

Jika ada tangan-tangan yang telah mempercepat kematian cinta setiap mereka yang orientasi seksualnya dihakimi sebagai salah, penyakit. Maka, atas nama apapun saya tidak boleh bersedih. Sebab agama atau adat ditangan manusia, kerapkali menjadi baju yang indah; tempat segala kemunafikan ditampilkan dalam bentuk paling santun. Sementara ekonomi memperlancarnya dengan terus saja dibahasakan sebagai penumpukan harta sebanyak-banyaknya.

“Jika” di awal kalimat di atas hanya pengandaian. Bisa lekat dengan ketidakpastian, bisa salah. “Maka”, hanya aturan yang harus diikuti agar pikiran terbaca. Selebihnya manusia tidak bisa dikurung dalam deretan “jika”…..”maka”. Hanya seorang kini tahu, Di tengah itu semua, kemanusiaan dan manusia hanya nyanyian lagu kuno dari seorang penyanyi dengan pita suara hampir-hampir putus. Sayup timbul-tengelam, lamat-lamat, reda, redam dan diam.

 

 

untuk Mbak M,

dan seorang yang memesan kematian dengan kepala tegak: Aaron Davis.

 

*Esai ini awalnya saya tulis sebagai kado untuk keponakan saya yang menikah 5 Febuari 2015 lalu, tapi saya ragu memberikannya. Dia tidak ada kesempatan untuk membaca, saya tidak mungkin membuat pilihan hidupnya lebih sulit, hanya sebab bahasa pengetahuan yang berbeda. Dia sudah lama berlatih bahagia, sekarang ketika dia menikah dan belajar bahagia kembali, esai ini tentu akan menganggunya. Tapi, untuk kita yang sempat membaca dan bisa bersuara, esai ini tentu memiliki kepentingan dan tujuan lain.

**Sebelumnya tulisan ini pernah tayang di akun worpress ini dengan judul yang sama: https://danangtp.wordpress.com/2016/06/01/buruh-dan-cinta-yang-dibunuh-tentang-nasib-perempuan-lesbi-mantan-buruh-migran-di-hongkong-sekembalinya-dari-victoria-park/?wref=tp
dalam versi ini saya menambahkan beberapa informasi yang belum ditulis pada publikasi sebelumnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s