Jalan Lain ke Yang-Liyan: Ruang Gelap dan Suara Kertak Gigi

sergius4dlmDalam puisi orang bisa tak peduli, tapi sekaligus peduli. Tak peduli pada apa pun, tetapi sekaligus amat peduli (pada diri sendiri). Orang mungkin akan menyebut ini sebagai selemah-lemahnya kepedulian. Bahasa Jawa punya lema kata yang muatan psikolinguistik-nya lebih bisa menegaskan kondisi itu —tenguk-tenguk, posisi pasif tetapi aktif. Diam sekaligus perhatian, siaga dan berjaga-jaga, kuda-kuda kepeduliannya justru dirawat dari sudut   paling sepi: dirinya sendiri.

Bukan lantas peduli pada diri sendiri lalu seorang menjadi narsistik, asal tidak ada suara (tidak ada ruang untuk suaranya) yang narsistik tersebut bisa jadi suara kejujuran yang sekarang mulai langka. Apalagi setelah ekspansi produksi kebohongan dengan kemasan kepura-puraan dan kepengecutan, yang dipasarkan lewat kehebohan massal, hal itu mengkonfirmasi sekali lagi derajat kesahihan law of demand: “Semakin turun tingkat harga (kejujuran), maka semakin banyak jumlah barang (kebohongan) diminta, dan sebaliknya semakin naik tingkat harga (kejujuran) semakin sedikit jumlah barang  (kebohongan) yang diminta.” Dalam kondisi itu, selemah-lemahnya kepedulian adalah kejujuran pada diri sendiri. Tapi bukankah diri selalu terkait dengan Liyan, Yang-Lain?

Kepedulian kerapkali hanya soal artikulasi. Mengapa orang dengan lantang membela setiap ketidakadilan pada minoritas, tetapi dirinya mayoritas? Penderitaan minoritas sama sekali tak menyentuh hajat paling individual dari dirinya. Lalu apa sebenarnya maksud paling dasar dari artikulasinya?

Tidak ada niat untuk menyebar kecurigaan, hanya sedikit berhati-hati. Sebab persis ketika kepedulian menjadi soal yang bisa diartikulasikan dengan lantang, di sanalah ia bisa terpleset menjadi silat lidah, sekadar artikulasi kosong. Puisi menawarkan ruang dan cara bersuara yang berbeda, ruang untuk orang bisa peduli sekaligus tidak peduli. Ruang merawat kepedulian justru dari sesuatu yang paling dekat; diri sendiri, melayani diri sendiri, atau dalam Sergius Mencari Bacchus, Norman Erikson Pasaribu menyebut gagasan bahagia: saling mengawasi satu sama lain.

Buku kumpulan puisi Norman Erikson Pasaribu Sergius Mencari Bacchus1 membawa tema tak biasa, sensitif, kontroversial dan kerap kali bisa menjadi ladang pamer kepedulian. Kehidupan homoseksual; pencarian identitas, kecemasan dan ketakutan hidup dalam masyarakat homofobik, juga kisah cinta. Beberapa puisi terkesan sebagai pengakuan, tapi justru dari sudut yang sangat pribadi itu sebuah tema sosial berat bisa diolah dari dan lewat kepedulian yang pada mulanya adalah urusan hajat individual.  Dengan cara itu kumpulan puisi Norman tidak berhenti sebagai jargon, luapan emosi, atau liputan sosial-politik yang dapat dengan mudah kita temukan dalam berita-berita di media massa. Selalu ada ruang tenang dalam puisi.

Norman Erikson Pasaribu dikenal sebagai cerpenis. Namanya mencuat ketika karyanya Sepasang Sosok yang Menunggu masuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2012. Pada Desember 2015 Norman muncul sebagai pemenang Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) lewat naskah berjudul Sergius Mencari Bacchus yang kemudian diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia 2016. Sebelumnya, pada 2014 Norman menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu (2014) Di dalamnya terdapat dua puluh cerita pendek bertema cinta dengan sudut pandang berbeda-beda. Beberapa ada yang menonjolkan segi LGBT: Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal, Pria Murakami, Garpu, Novelis Terkutuk dan lain-lain. Dari riwayat penerbitan terllihat, Norman cukup konsisten mengangkat kehidupan LGBT.

Ruang Gelap dan Suara Kertak Gigi

Kisah yang memilukan sesekali terasa, lamat-lamat: tragis, menekan, tapi juga bahagia dan jenaka. Semuanya dituturkan dengan bahasa sehari-hari. Semisal dalam ‘Ia dan Pohon’, seorang tiba-tiba saja berdialog dengan sebatang pohon di depan kantornya, dan meminta maaf kepada pohon tersebut:

/Siang itu ia meminta maaf kepada satu-satunya pohon di tepi jalan lahan parkir kantornya/ yang memayungi mobilnya dari terik/. Dalam puisi ini tiba-tiba pohon bisa berkata-kata, mengungkapkan penyesalannya: /Pohon itu menyesali tak sempatnya ia mengatakan ia mencintai kawannya itu/ ia ingin membawa kawannya itu ke gereja/dan di depan altar mereka bisa dipersatukan di hadapan tuhan yang bercabang tiga/.

Ada kisah cinta antara dua batang pohon, cinta yang jelas tidak mungkin dipercayai manusia. Seperti perkataan Toni dalam ‘Aubade’: /aku hanya menyukai laki-laki/, ibunya menganggap perasaan Toni sejenis penyakit, macam diare, harus disembuhkan. Ada yang berkuasa menentukan rasa kasih macam apa yang sah. Ada yang berkuasa menentukan bukan hanya cara manusia hidup, tapi juga cara pohon hidup.

Mengapa sebatang pohon mengungkapkan penyesalannya? Sebab, kini pasangannya telah dicabut-pindahkan oleh manusia, alasannya /terlalu dekat dengan bangunan/  dan sebatang pohon itu belum sempat mengungkapkan perasaannya. Sepertinya seorang pria mengalami kisah yang sama dengan sebatang pohon itu, sebab: /Pria itu pun memeluk pohon itu, dan pohon itu memeluknya/. Hanya saja pria itu tidak memiliki ruang untuk menceritakan kisah cintanya, dia pun akhirnya berdialog dengan sebatang pohon.

Di puisi ini terlihat begitu memilukannya kehidupan liyan, yang sama rasa soal kasih tapi berbeda artikulasi soal cinta. Dia harus berdialog dengan sebatang pohon, dan ternyata pohon itu juga nasibnya hampir sama dengan pria itu. Atau pria itu, yang liyan memang ibarat sebatang pohon, harus diam. Nasibnya ditentukan penuh oleh manusia –yang berkuasa– untuk menanam, memindahkannya kapan pun di mana pun, sesuka hatinya.

Dunia yang terang, hanya untuk manusia yang “umum”, yang bisa mengartikulasikan kisah cintanya dengan lantang. Sementara, bagi orang yang “berbeda”, dia hanya kebagian tempat gelap, sisa-sisa kehidupan, di ruang itu pun dia harus bersuara lirih, berbisik-bisik.

Dalam puisi pembuka berjudul ‘Puisi’ bait terakhir terasa seperti manifesto yang membingkai keseluruhan tuturan dalam Sergius Mencari Bacchus: /Waktunya menceritakan yang habis dalam gelap –menunjukkan apa yang tersisa/. Sebuah bait penegasan tentang kehidupan liyan sebagai kehidupan dalam ruang gelap. Kehidupan yang hanya remah-remah pinggiran roti tawar yang selalu dibuang. Remah-remah yang tersisa dari gulungan kehebohan gejala, keumuman yang kerap kali tak menghasilkan apa-apa selain gejala itu sendiri. Dari ruang gelap itu masih ada sisa, bisa jadi sebuah kebenaran, sebab dalam kehebohan orang sering melakukan kesalahan, sementara kebenaran justru terselip dalam diam.

Dalam ‘Erratum’ seorang mempertanyakan nasibnya, /di mana seorang lelaki bisa dijodohkan dengan keponakan ibunya/ di mana putra pertama selalu adalah segala/.Pertanyaan yang tentu timbul bukan sebab rasa ingin tahu yang purba, tapi juga bagaimana lingkungan sosial menggiring seseorang untuk memilah-memilih apa yang harus dipertanyakan (homoseksualitas) dan apa yang  tidak harus dipertanyakan (heteroseks).

Seorang mempertanyakan dirinya bukan semata karena rasa ingin tahu, tapi “beban sosial” yang memaksanya memahami ulang dirinya: perasaan berdosa, dikutuk, atau sejenisnya. Dalam ‘Erratum’ ia juga mengenang cinta pertamanya; teman masa SMP, sisa ciuman pertamanya saat mereka membolos pelajaran olahraga. Seorang lelaki dalam ‘Erratum’ juga sedang mensyukuri buku pertamanya yang terbit, tapi kemudian /duduk bersila/ dan makan bersama/ ia bilang kepada keluarganya tak akan berakhir dengan seorang gadis/.

Kini, setelah pengakuan kepada keluarganya, /ia meratap di bawah tiang listrik/ panik saat gerimis pertama jatuh ke rambutnya/ ketika mendapati keganjilan dalam teks hidupnya/ dan berharap sebentar lagi penerbit mengeluarkan secarik kertas koreksi/ menambahkan baris-baris yang hilang/ ketika mendapati ia adalah segala sekaligus bukan apa-apa/. Di sudut lain, beberapa orang bisa jadi sedang berteriak soal berbagai hal menyangkut kaum minoritas, dan kita menamai itu kepedulian. Bersamaan dengan itu, seseorang kuyup di bawah gerimis, tak henti mengutuk diri dan sedang menyusun rencana bunuh diri paling nyaman. Dalam puisi ini terlihat jelas kehidupan seorang liyan itu jauh lebih sederhana daripada setiap analisis politik paling centil sekalipun untuk penyelamatan minoritas, sebab: /Di awal segalanya kau terbangun di tengah malam, memikirkan kehidupanmu kini yang hanya bon-bon hotel murahan dan sepat mani di tenggorokan/.

Gagasan Bahagia

Dalam ‘Yang Diinginkan yang Mati dari yang Hidup’, (kubilang besok ada ujian semester, dan kau tertawa), narator bertutur tentang percakapan dua orang. Tidak jelas jenis kelamin kedua orang itu, tapi dari /bahwa kau telah berubah/ kau telah sembuh/ kau orang yang baru/, kita bisa tahu dua orang ini adalah pencinta sesama jenis. Dua orang yang sama tetapi gagasan kebahagian mereka berbeda. Seorang yang rajin kuliah, satunya seorang yang terlalu sibuk mencari orang yang tak menyelamu ketika bercerita tentang jam-jam bersama psikiater, dan kebohonganmu pada orangtuamu, barangkali dia ketakutan. /Kau mulai sering titip absen/ Kostmu selalu kosong/Inikah kebahagiaan?/ bisa meninggalkan segalanya demi seseorang/. Mereka berdua berteman dan saling memahami. Dalam beberapa puisi sering sekali naratornya berubah-ubah, atau subjek dalam puisi yang tidak jelas lelaki atau perempuan.

Pertemanan dua orang itu datang dan pergi. Sampai suatu malam seorang yang selalu menyepelekan kuliah itu datang dan masih menggap dirinya sakit, ia menulariku. Saat itu wajahnya pucat, dan kepada temannya itu dia berkata: /dan aku tak mencarimu./ Sampai temannya tahu sebelum Natal dia meninggal, /darah dari nadimu memenuhi lantai kamar mandi orang tuamu/. Di bait berikutnya pun akhirnya kita tahu bukan seorang itu tak mencari temannya, hanya, /aku ketahuan dan ayahku berhenti mengirimkan uang/, kini dia harus mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Pindah kost yang lebih murah, mengajar privat; /kau tahu aku perlu menyelamatkan diriku dahulu/.

Dalam ‘Purgatorio’ dan ‘Inferno’, seorang sedang memahami kerumitan hidupnya  yang bagai labirin, tapi juga hendak menyepelekan hidup, atau lingkungan kehidupannya. /Ayahnya yakin ini adalah hukuman baginya, tetapi ia tetap mencintai lelaki itu, setelah semua terjadi padanya/. Tidak berhenti dia mengutuk diri, tapi dia juga tahu Tuhan akan menyadari ia tidak bersalah. Sebuah perdamaian religius. Tawar-menawar dengan tuhan tergambarkan dengan baik dalam dua puisi ini. Seorang yang dalam agama tiada henti dikutuk, menyisakan sedikit ruang dalam dirinya untuk tuhan yang tak manja sehingga selalu ingin dipahami mahluknya, tapi tuhan yang besar, kuat dan kuasa sebab itu bisa memahami mahluknya.

Bagaimana perjalanan seorang homoseks, memahami dirinya di tengah masyarakat homofobik? Bisakah dia benar menerima dirinya sebagai keutuhan, tanpa peduli apa kata mereka tentang dirinya? Benarkah penerimaan pada diri, lantas mengakhiri semua kecemasan? Ataukah penerimaan dan pemahaman pada diri adalah langkah awal untuk membuka kecemasan dan ketakutan lain?

Dalam ‘Inferno’, pemahaman itu adalah perjalanan menuju tua, /tiba di usia di mana dunia tidak lagi misterius/tak lagi perlu seorang memahamimu/ karena kau telah memahami dirimu sendiri/. Setelah kepurnaan pemahaman itu; penerimaan pada diri juga rasa sesal yang tiada henti itu. Sesudah proses panjang meletihkan, bersamaan dengan angka-angka dalam kalender yang menua, dan lembarannya tersobek.

Setelah semua jerih-payah, ia berharap akan muncul, /dan hidup biasa saja, toh hidup tidak abadi/ kau paham puisi hanya bagus di dalam buku/. Entah orang hendak memahaminya ataukah tidak, kini ia tak lagi peduli. Tak perlu ada ruang untuk membicarakannya, sebab di tempat gelap ini, tak ada apa-apa selain air mata dan kertak gigi.

Sekonyong-konyong dalam ‘Gagasan Bahagia’ ada optimisme. /Meletakkan “Aku” di kepala sebuah kalimat yang melibatkan Tuhan/sehingga ia juga diawali huruf kapital/ menatap wajah Seorang yang ia kasihi, dan menjabat tanganNya/. Puisi ini, dengan utuh membuat optimisme menjadi ironi sebab kekelindanannya dengan ketidakmungkinan, saya sebut saja optimisme ketidakmungkinan. Di awal bait, narator hendak menunjukkan lewat “Aku”, menegaskannya dengan aksara murda dan tanda kutip, melibatkan Tuhan dengan T murda juga. Tapi sebelum itu, dari judulnya kita tahu soal ini adalah sesuatu yang sulit, atau bisa jadi tidak mungkin. Tersebab, semua bait dalam puisi ini diberi judul ‘Gagasan Bahagia’, kebahagiaan hanya sebagai gagasan yang tentu lekat dengan kemungkinan dan ketidakmungkinannya. Tapi justru lewat inovasi literer ini, ironi bisa dipermainkan dengan memukau sekaligus memilukan.

Riwayat Awal-Akhir: a Soft Voice and No Claws

Di beberapa titik kumpulan puisi ini, kita akan menemukan intertekstualitas yang memukau, dari penggunaan figural Santo Sergius, dan Bacchus, sepasang santo dari tradisi Kristiani, yang saling mencintai sebelum keduanya akhirnya mati; sampai intertekstualitas dari ragam budaya non-sastrawi, seperti penyebutan Star Wars, Honda, SWOT, dan istilah-istilah pembukuan dalam ilmu Akuntansi. Semua itu digunakan seolah untuk menunjukkan dengan anggun-bertenaga bahwa aku hanya bisa mencintai laki-laki,tak lantas membuat seorang berhenti menjadi manusia: bisa nonton film, main game, bercinta, menghasut, tertawa, dan bunuh diri.

Kumpulan puisi ini adalah bisikan dari manusia yang lama tidak dianggap manusia. Sebuah bisikan yang hanya menegaskan bahwa dia ada. Gambaran tentang keutuhan yang penuh celah, kesatuan yang juga keterpecahan yang mengasikkan, yang manusiawi justru yang tak amat-amat suci. Tentu inovasi literal macam ini, hanya bisa dilakukan oleh generasi yang mampu berserius dengan satu persoalan, mendalaminya, tapi juga tidak kehilangan hasrat untuk bermain-main, tertawa atau menertawakan lingkungannya yang salah kaprah memahami dirinya.

Kini saatnya menulis ‘Curriculum Vitae’: /menjelang ulang tahun kedua puluh tiga/ tanpa alasan yang ia pahami/ ia merasa ia adalah laki-laki/ dan ia pikir itu bukanlah hal yang buruk/Ia pulang ke rumah orang tuanya/setelah ia bertemu lelaki yang mencintainya/.‘Curriculum Vitae’ itu ditulis tahun 2015, tapi narator juga membuat ia kembali mengenang masa kecilnya, /ketika suatu minggu ayahnya mengajak ia dan adik-adiknya lari pagi dan bermain sepakbola di lapangan bulu tangkis dekat rumah mereka/Ayahnya meneriaki ia “banci” di depan orang-orang/. Dan apa yang dilakukan negara untuk setiap anak-anak yang diteriaki “bencong” oleh lingkugannya. Apa pula pentingnya memikirkan anak kecil, negara itu tuan besar!

Ia menerima dirinya  sebagai sebuah kesalahan, dan percobaan bunuh dirinya yang pertama terjadi sehari sebelum ia masuk SMP.

Kita terlanjur mendefinisikan homoseksualitas sebagai yang liyan. Lalu tidakkah kita perlu memahami bahwa keberlainan juga mengandaikan jalan pemahaman yang lain? Andai kita tak terburu mendefiniskan siapa yang “normal” dan “tidak normal”, tentu indah jika kita bersuara untuknya seperti saat seorang bersuara tentang ketimpangan struktur dengan pembuktian statistik, misalnya. Tapi sesuatunya kini telah menjadi lain. Sialnya, beberapa dari kita tetap ingin menjadi seorang yang peduli, dengan analisis yang gagah, dengan suara yang lantang. Sementara tak menyesali seperti saat orang-orang menonton Prayers for Bobby, /ketika tokoh utama meratapi bunuh diri putranya/Panji tertawa dan bilang Toni nangis!,/kalian ikut tertawa sambil diam-diam dalam gelap melap air mata sendiri./

Dan kita percaya kematian Bobby hanya akan terjadi pada Bobby, itupun hanya ada dalam layar film.

Yogyakarta 16-18 Mei 2016
Untuk T.B. dan Keberanian dan Ketakutan

Tulisan ini sebelumnya tayang di : https://www.jakartabeat.net/resensi/buku/konten/jalan-lain-ke-yang-liyan-ruang-gelap-dan-suara-kertak-gigi?lang=id

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s