Emosi, Kolonisasi, dan Sirkulasi Warna Kulit Lintas Benua

66025_4553570429962_987491947_n.jpg

Menjadi putih seolah impian setiap orang yang kini dengan mudah dapat tercapai sebab menjamurnya produk perawatan kecantikan. Fenomena tersebut bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Keinginan menjadi putih mempunyai jejak historis yang panjang, dari masa prakolonial, kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga hari ini. Buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (Marjin Kiri, Juli 2017) karya L. Ayu Saraswati menyajikan pelacakan historis-genealogis atas beredarnya imaji tentang warna kulit putih, yang serempak diikuti keinginan untuk mengubah warna kulit.

1*0EYsxOnPzezbsJd9D3IUdA.jpegBertolak dari pengandaian bahwa; narasi sejarah diuntai melalui rasa. Narasi sejarah kolonialisme dan perbudakan bisa memicu amarah kita; kisah-kisah kebebasan dan kemerdekaan dapat membangkitkan keberanian dan harapan kita.  Bertolak dari asumsi tersebut, Ayu (hlm.24) kemudian mengajukan pertanyaan: bagaimanakah afek ikut membentuk sejarah? Pertanyaan itu menjadi dasar analisisnya melacak proses sirkulasi warna kulit, ras, dan kecantikan.

Pelacakan historis Ayu atas persebaran rasa/afek/keinginan menjadi putih bertolak dari Indonesia, kemudian bertaut dengan bagian dunia lain: Amerika, Jepang, India, dan Eropa. Pada titik ini Indonesia dilihat sebagai kawasan geografis transnasional yang ditandai dengan proses persilangan gagasan dan imaji lintas kawasan geo-politik. Bermula sejak masa prakolonial, lewat bentuk adopsi kisah-kisah Mahabarata dari India, kemudian masa kolonisasi yang menegaskan mencairnya batas-batas geo-politik lewat globalisasi perdana yang berlangsung hingga hari ini.

Indonesia dalam kontestasi historis transnasional tidak lagi ditempatkan sebagai kawasan geo-politik yang terbatas dan mandiri. Indonesia menjadi tempat pertemuan, pertarungan, dan pembentukan imajinasi historis tentang putih yang bersifat lintas benua. Pelacakan historis atas putih yang dilakukan Ayu dalam buku ini bergantung pada konsep rasa/emosi/suasana hati dalam masyarakat Jawa prakolonial. Masyarakat Jawa prakolonial mengadopsi konsep rasa dalam tradisi Hindu India (Mahabarata), dan kemudian memberi peran sentral pada rasa dalam proses produksi pengetahuan; melalui indra maupun kemampuan mengindra apa yang tidak terlihat.

Melalui konsep rasa, Ayu menawarkan pembacaan ulang sejarah Jawa prakolonial dan sejarah sirkulasi imaji putih di Indonesia transnasional. Lewat cara itu, peristiwa historis objektif tidak hanya dipahami sebagaimana yang nampak dan dituliskan sebagai teks. Akan tetapi suatu pembacaan ulang atas teks yang berusaha mengungkap afeksi, rona emosi, dan sentimen yang ada di balik fakta-fakta historis (hlm.26-43).

Bermula dari kedatangan orang Belanda, imajinasi akan citra warna kulit bertaut erat dengan sentimen rasial pembagian masyarakat Indonesia berdasar ras Pribumi, Timur Asing dan Eropa dengan pembatasan hak-hak politiknya masing-masing. Putih pada masa penjajahan Belanda bukan hanya tentang ideal warna kulit.  Akan tetapi, juga tentang proses hegemoni emosional (penundukan) kelas tertentu, berdasar gender tertentu untuk kepentingan elite penguasa kolonial. Konsep hegemoni emosional tersebut, membantu menjelaskan sikap perempuan Belanda yang tidak diperbolehkan memperlihatkan secara terang-terangan emosi mereka, untuk membedakannya dengan kaum pribumi pembantu mereka. Kolonialisme Belanda kini bisa dipahami amat bergantung pada bagaimana perempuan Belanda berkulit putih menunjukkan prestise mereka tidak hanya lewat penanda material dan kultural. Akan tetapi, juga laku emosional dan psikologis yang terus membayangi kelas pribumi yang posisi rasialnya di bawah mereka (hlm.62-87).

Ketika Jepang kemudian menggeser posisi Belanda di Indonesia, Jepang menawarkan imajinasi putih yang lain dari putih Eropa ala Belanda. Kedatangan Jepang ke Indonesia harus dipahami dalam konteks posisi politik internasionalnya yang hendak menjadi pemimpin bagi bangsa-bangsa Asia. Lewat pemahaman tersebut putih ala Jepang adalah satu upaya mengangkat dominasi rasial bangsa Asia di tengah hegemoni kolonial Eropa (hlm.87-99). Konteks historis dan politis kedatangan Jepang sekali lagi menegaskan; putih bukan hanya soal warna kulit tetapi juga hegemoni politis.

Menarik melihat cara Ayu melacak proses peredaran imaji warna kulit masa kolonial dengan mencermati iklan-iklan produk pemutih kulit yang terbit di koran-koran masa itu. Melalui cara tersebut “menjadi putih” sebagai dorongan rasa/rona emosi berusaha dicari bentuk materialnya dalam koran. Analisis Ayu atas iklan-iklan pada masa kolonial Jepang dan Belanda menegaskan bahwa menjadi putih adalah klaim yang sifatnya universal, diperebutkan beragam bangsa (hlm.97). Hal tersebut menegaskan bahwa putih adalah warna dominan yang dikehendaki orang-orang lintas bangsa, tentu dengan berbagai macam penafsiran yang berbeda tentang putih yang lekat dengan imajinasi superioritas rasial.

Pada masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi putih Indonesia bertaut dengan imajinasi tentang kemerdekaan dan proses lepas dari hegemoni kolonial.  Indonesia mencari rujukan tentang putih asli Indonesia yang berakibat pada proses hegemoni ulang atas orang-orang peranakan Tionghoa yang memiliki warna kulit lebih terang. Pada titik ini, kebertautan antara nasionalisme dan usaha merumuskan putih di Indonesia pascakolonial sarat dengan bentuk-bentuk hegemonik penataan atas ruang identitas nasional yang berbasis gender dan warna kulit. Pertautan tersebut menjadi penanda komitmen seseorang atas konteks geo-politik nasional-spasial. Narasi nasionalisme kini berfungsi sebagai aparatus yang menertibkan keberagaman warna kulit di Indonesia pascakolonial. Pengecualian perempuan Indonesia Timur yang berkulit gelap mengungkapkan betapa imajinasi nasional tentang putih amat terbatas sebagai representasi ideal Indonesia (hlm.131-134).

Pada Bab 4 Ayu melacak sirkulasi putih kosmopolitan dalam majalah Kosmopolitan (Cosmopolitan) edisi Amerika dan Indonesia. Pelacakan tersebut memperlihatkan bagaimana korporasi transnasional memberikan andil untuk sirkulasi imajinatif tentang putih dari Amerika ke Indonesia. Putih kosmopolitan yang tercermin dalam konten majalah Kosmopolitan menyediakan imajinasi pergaulan transnasional yang kosmopolit. Orang bisa mengakses kosmopolitanisme lewat warna kulit putih, begitu juga sebaliknya, kosmopolitanisme menyediakan akses untuk orang mengalami putih pada masa transnasional. Bab ini dengan jelas menandai satu perkembangan memahami konteks mencairnya batas-batas geografis akibat sirkulasi imajinasi putih yang dimungkinkan oleh inovasi produk iklan dalam majalah (teknologi cetak).

Buku ini tidak hanya mengajak kita menjelajahi putih lewat bukti-bukti teks historisnya. Akan tetapi, juga melihat bagaimana wacana warna kulit begitu mengakar dan memiliki implikasi nyata dalam praktik pemutihan warna kulit yang dijalani seseorang. Pada Bab 5 Ayu melakukan wawancara pada beberapa perempuan yang menjalani praktik pemutihan warna kulit. Wawancara tersebut untuk menunjukkan bahwa wacana putih transnasional yang telah dijabarkan konteks historisnya pada bab-bab sebelumnya terkait dengan proses terstrukturkannya perasaan malu di kalangan perempuan Indonesia.

Perasaan malu yang mendorong seseorang menjalankan praktik pemutihan kulit tersebut menegaskan bahwa pengelolaan afek berdasarkan gender adalah kunci untuk memahami keputusan perempuan mempraktikkan pemutihan kulit. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada perempuan Indonesia dari berbagai kelas sosial, Ayu menunjukkan bahwa, di satu sisi keinginan memiliki warna kulit putih melampaui batas-batas kelas ekonomi. Sementara di sisi lain, praktik tersebut berfungsi sebagai sarana mobilitas sosial dan artikulasi bahwa seseorang bukan kelas rendahan. Singkatnya, mengubah warna kulit menjadi pilihan singkat untuk mengekspresikan dan mewujudkan mobilitas kelas ketika jalur lain tidak tersedia.

Secara teoretis buku ini mengajak para ilmuwan mempertimbangkan dimensi emosional sebagai variabel penting yang berperan dalam memahami peristiwa tertentu. Ayu menegaskan bagaimana fenomena objektif itu ditopang oleh imaji/emosi yang amat menentukan dalam satu kurun historis tertentu. Emosi/imaji/afek selama ini dalam kerangka penelitian selalu dianggap sumir untuk diungkapkan karena obsesi atas objektivitas yang nihil dari sentimen subjektif.

Secara lebih khusus, gagasan emotionscape yang diungkapkan Ayu sebagai kerangka teoretis untuk menjelaskan sirkulasi imaji/emosi transnasional melengkapi dan membawa lebih jauh gagasan antropolog Arjun Appadurai tentang proses sirkulasi global lintas batas benua dalam lima lajur (scape): ethno, media, techno, finance, ideo. Pada saat orang, gambar, dan gagasan beredar secara transnasional, emosi yang diletakkan pada subjek/objek ini juga ikut berkelana bersama mereka dan mengubah emotionscapes ruang-ruang transnasional. Akhirnya, menjadi jelas bahwa gagasan Ayu tentang emotionscapes dalam buku ini menunjukkan sumbangsihnya dalam ranah teoretis kajian kebudayaan dan globalisasi.

 

Judul   : Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional

Penulis : L. Ayu Saraswati

Penerjemah : Ninus D. Andarnuswari

Penerbit & Tahun Terbit : Marjin Kiri, Juli 2017

Jumlah Halaman: 254

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s