Ia ingin sekali menebak apa yang ada: tersisa, terkenang dalam tubuh seorang perempuan tua yang duduk membungkuk di depannya. Kulit kriput dan rangka pungung yang bahkan tak bisa tegak menyangga badannya. Adakah lipatan-lipatan usia yang mengurat kulitnya menyisakan sesuatu dari masa lalu untuk dipikirkannya. Misalnya, tentang pengalaman pertama bersetubuh atau tentang kematian-kematian yang beberapa kali mampir di kelopak matanya. Atau tentang apapun itu yang masih tersisa dari tubuh lemahnya.

Ia tau tubuhnya akan sampai pada usia yang tak bisa dikendalikannya lagi. Ia tak akan lagi direpotkan dengan keinginan memilih celana dengan potongan kain terbaik, atau kemeja dengan lipatan lengan yang bisa merekayasa otot-ototnya yang mengelambir karena tak pernah berolaraga agar terlihat padat memikat.

Ia ingin mengenali degan benar tubuhnya.

Tubuh perempuan tua itu membuatnya mecemooh ingatannya sendiri tentang suatu waktu ketika seseorang mengajarinya cara memilih kemeja yang bisa menyembunyikan lipatan-lipatan lemaknya. Tubuh perempuan itu membuatnya membenci bahwa tubuhnya pernah berusaha untuk terlihat segar selepas berhari-hari tidak tidur. Ia dan tubuhnya pernah ingin sekali mengilangkan noda-noda hitam bekas jerawat: memakai masker penutup muka sebab asap kenalpot mobil yang mengenai mukanya akan menumpuk menjadi kotoran tempat tumbuh subur jerawat-jerawatnya.

Di lapis epidermis kulit tubuhnya noda-noda emosional pernah terperangkap dan mungkin kini telah menyatu dengan daging, otot dan kelenjar-kelenjarnya. Kalau ia terluka ia ingin mengamati apakah benang-benang fibrin yang terbuat dari protein serat-serat yang tidak larut dalam plasma pada proses penggumpalan atau pembekuan darahnya adalah jaringan sel-sel yang benar-benar baru, sehingga noda-noda emosionalnya dari masa lalu bisa ditutup dan hidup seakan bisa dimulai dari awal lagi.

Ia tak ingin memori berubah menjadi jaringan-jaringan biologis yang mengangit tubuhnya. Ia ingin memori hanya soal kadar kewarasan, dan ia belajar; usia akan menurunkan kewarasannya dan ia bisa lupa. bisa lupa.

Gaya Sentrifugal

Untuk Lucien Caar, dan Jack Kerouac

IMG_4404

Hidup, mati, lahir kembali
Kau begitu percaya hidup terdaur dalam gerak melingkar
Semuanya cepat menjadi putih
Seperti bekas luka; kering dan kelupas

“ Apa yang kau cari, selain mengikuti jejakmu sendir”

Melihat, merasakan, semuanya membekas
Tubuh-tubuh suci mengalir dalam darahmu

Kau tak bercinta dengan para peri
Kau juga bukan malaikat yang tahan tusukan duri

“Hidup hanya begini-begini, kau boleh pergi”

Rumah adalah pagi yang tak disekat suara bayi
Melepas
Memberi

Sesobek foto tiga orang yang selalu muda

“Tanah ini bukan dongeng” kata Ginsy
Membagi
Menyatu

“Kita akan jadi hantu di tubuh-tubuh itu” katamu
“Aku akan menulis puisi-puisi agar terlahir kembali”

Kita sama dungu soal bagaimana cinta harus dibagi
“ Aku hanya ingin mati, suci, dan terlahir kembali”

Puisi tiba-tiba hanya putih
Hanya putih

Nationalism, Ethnicity and Non-Westren Societies (terjemahan preface Kevin Anderson pada edisi kedua Marx and Margin)

Enam tahun sejak buku ini terbit, penerimaan dari khalayak di berbagai penjuru tempat sepertinya menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama penulisan buku ini mungkin telah tercapai. Untuk memberikan gambaran tentang sosok Karl Marx sebagai pemikir yang tidak hanya mengkhususkan teorinya tentang kapitalisme dan kehidupan masyarakat Barat modern. Akan tetapi, juga pemikir yang mencurahkan perhatian mendalamnya pada persoalan kehidupan masyarakat non-Barat beserta corak produksi pra-kapitalis di dalamnya yang bersifat mandiri dan tidak bisa dideterminasi di bawah hegemoni perkembangan kehidupan masyarakat Barat. Berdasarkan pemahaman atas tujuan seperti itu, buku ini juga sebuah upaya untuk memberikan argumentasi tanding atas tesis bahwa Marx adalah pemikir yang terjebak pada kerangka dan sudut pandang sempit zamannya –pertengahan abad 19-, sehingga kecenderungan pemikirannya bercorak Eurosentris. Olehnya, tidak dapat berbicara banyak tentang persoalan-persoalan kontemporer yang timbul setelah zamannya, misalnya: ketidakadilan gender, problem ras, dan kolonialisme. Saya melihat bahwa argumentasi seperti itu tidak hanya bisa kita baca dalam misalnya karya Orientalism Edward Said, tetapi juga bentuk karya yang secara spesifik lebih filosofis, seperti karya Michael Foucault. Tentang hal tersebut tulis Foucault: “Marxism exists in nineteenth-century thought like a fish in water; that is, it is unable to breathe anywhere else” ([1970] 1966, p. 262).

Continue reading