Non-Spesifik: Tentang “Aku” yang Tak Bisa Terkatakan, Telah Dikatakan oleh yang Bukan Aku

 

for blog - non-spesifik ilustraSeperti biasanya, saya tidak punya rutinitas membeli buku puisi, juga bukan pengemar “berat” puisi. Non-Spesifik saya beli karena sebelumnya saya telah mengikuti tulisan-tulisan Anya di website pribadinya. Yang jelas, sekali waktu ketika jenuh dengan banyak hal, saya membaca puisi, atau membaca laman wordpress beberapa penulis yang saya ikuti. Non-Spesifik datang pada saya dalam alur seperti itu. Menyela rutinitas menjemukan kehidupan urban, mengajak menikmati sekitar, merasai getir yang biasanya sengaja dilupakan dalam setiap perjalanan.

Non-Spesifik bisa bicara banyak hal. Setelah membaca beberapa kali saya pikir buku Gratiagusti Chanaya Rompas ini bukan buku kumpulan puisi dalam pengertian konvensional. Anya seolah ingin menjadikan setiap peristiwa sebagai pengalaman puitik. Kegelisahan akan banyak hal. Keinginan untuk menuliskan banyak hal; yang bisa dikatakan, maupun yang tak bisa dikatakan. Jika penyair perempuan Toeti Heraty punya frasa amuk badai antara insan, Non-Spesifik bisa menambahi dengan amuk badai dalam insan.

Terbagi dalam tiga episode, Non-Spesifik membuka episode I dengan: deru yang risau, menganggu tidurmu, atau apalah itu yang kini menghuni kolong ranjangmu. Episode I adalah jaringan rumit yang tertenun dari banyak peristiwa dalam kepala Anya; amuk badai dalam insan. Anya tidak hanya memancingmu masuk dalam kolong gelap di bawah tempat tidurnya, tapi juga masuk dalam kolong tempat tidur orang-orang disekitarnya; amuk badai antara insan.

***

Continue reading

Advertisements

Jalan Lain ke Yang-Liyan: Ruang Gelap dan Suara Kertak Gigi

sergius4dlmDalam puisi orang bisa tak peduli, tapi sekaligus peduli. Tak peduli pada apa pun, tetapi sekaligus amat peduli (pada diri sendiri). Orang mungkin akan menyebut ini sebagai selemah-lemahnya kepedulian. Bahasa Jawa punya lema kata yang muatan psikolinguistik-nya lebih bisa menegaskan kondisi itu —tenguk-tenguk, posisi pasif tetapi aktif. Diam sekaligus perhatian, siaga dan berjaga-jaga, kuda-kuda kepeduliannya justru dirawat dari sudut   paling sepi: dirinya sendiri.

Continue reading

fullsizeoutput_d0

Setelah menghabiskan teh dengan sedikit terburu-buru perempuan itu tidak jadi masuk kantor. Sebagai pramusaji di sebuah cafe kecil di pinggir kota pekerjaan itu begitu ia nikmati. Sesekali masih bisa melihat beberapa lelaki yang mampir ke kedainya. Menghitung berapa prosentase yang membuatnya mungkin pantas berkenalan dengan seorang laki-laki yang memesan Cappucino
. Hidupnya tinggal soal hitung-menghitung kemungkinan-kemungkinan yang dalam bayangannya akan membuat segalanya lebih baik.

Yang ini mungkin…ah yang itu tidak mungkin…ahhh yang dipojok sana lebih menarik…ah tapi itu tidak mungkin. Isi kepalanya dari waktu ke waktu kusut, berbelit-belit.

Seorang menghampirinya tapi ia masih sibuk dengan seorang lagi di ujung sana yang tak menghampirinya, atau kecil sekali prosentase untuk menghampirinya. Dan dalam kisah ini perempuan itu bukan tokoh utama, jadi kita biarkan saja ia sibuk dengan taksiran, dan hitungan yang mungkin ia buat sendiri, atau memang hidupnya tinggal soal hitung-menghitung. Membayangkan angka-angka bisa begitu sempurna sementara ia hanya pramusaji di sebuah cafe pinggir kota, dan di sini ia bukan tokoh utama

Continue reading