Kesedihan Kontemporer

fullsizeoutput_d0

Setelah menghabiskan teh dengan sedikit terburu-buru perempuan itu tidak jadi masuk kantor. Sebagai pramusaji di sebuah cafe kecil di pinggir kota pekerjaan itu begitu ia nikmati. Sesekali masih bisa melihat beberapa lelaki yang mampir ke kedainya. Menghitung berapa prosentase yang membuatnya mungkin pantas berkenalan dengan seorang laki-laki yang memesan Cappucino
. Hidupnya tinggal soal hitung-menghitung kemungkinan-kemungkinan yang dalam bayangannya akan membuat segalanya lebih baik.

Yang ini mungkin…ah yang itu tidak mungkin…ahhh yang dipojok sana lebih menarik…ah tapi itu tidak mungkin. Isi kepalanya dari waktu ke waktu kusut, berbelit-belit.

Seorang menghampirinya tapi ia masih sibuk dengan seorang lagi di ujung sana yang tak menghampirinya, atau kecil sekali prosentase untuk menghampirinya. Dan dalam kisah ini perempuan itu bukan tokoh utama, jadi kita biarkan saja ia sibuk dengan taksiran, dan hitungan yang mungkin ia buat sendiri, atau memang hidupnya tinggal soal hitung-menghitung. Membayangkan angka-angka bisa begitu sempurna sementara ia hanya pramusaji di sebuah cafe pinggir kota, dan di sini ia bukan tokoh utama

Continue reading

NASIB FEBRUARI SETELAH HUJAN DI SEBUAH CAFE PINGGIR KOTA

6925429769_27aae4d9bf_z.jpg

Kau tak begitu menyukai Februari. Di sepanjang angka-angka harinya, masih menyembunyikan tahun baru. Rasanya Januari begitu panjang, lekat pada keganjilan, 28 Februari. Di tubuhnya angka serasa tidak sampai terbaca, ganjil dan tak genap.

Februari bisa hilang di sebuah cafe pinggir kota. Keramaian dan jejal jalanan seperti disaring, dan di sini hanya ada ampas-ampas. Orang-orang yang bercanda dengan ataupun tanpa ketawa.

Setelah hujan di cafe pinggir kota mungkin kau akan menyesali Februari. Tidak begitu sunyi, atau sunyi telah sedikit tercemar hiruk-pikuk kota. Sunyi yang sampurna tak pernah bear-benar bersih, hening; dia menyimpan suara. Kau memesan susu putih, sedikit sirup, tanpa gula.

Ramuan terbaik untuk menunggu adalah sebatang rokok. Sampai akhirnya terganggu seorang pengemis yang tiba tiba mengulurkan tanggan di depanmu.

Tidak ada tempat bersembunyi. Hanya di cafe pinggir kota dunia tertapis, keramain bisa dipilih dalam beberapa fariasi. Sedikit suara tertawa atau jejak langkah orang yang tak kau kenal tapi melempar senyuman. Begini rasanya Februari dalam bayang-bayang Januari yang berputar-putar dalam kepala.

Menginggat dengus nafas terakhir ketika kau mencumbu seorang yang baru kau kenal beberapa jam yang lalu. Tanpa berpikir panjang tentunya, dan kau tahu ini Februari.

Belajar membenci percumbuan yang tak sakral. Belajar mengigit bibir sendiri, dan tahu tidak ada kegilaan macam ini akan terulang lagi.

Mungkin kau butuh mengatur segalanya dari awal. Iya dari awal. Sebelum kau mengacaukan dirimu sendiri dan tak menyesali kekacauan itu. Sejenis kerusakan yang tetap kau sebut tata.

Kekacauan adalah tata yang notasinya asing. Kau masih saja membela diri. Di cafe pinggir kota ini setelah hujan, kau belajar memberi nama untuk keasingan.

Apa yang dirindukan oleh seorang yang duduk di cafe pinggir kota? Mungkin sesuatu yang tertib, atau kekacauan yang menyenangkan. Entah apapun itu; di sini kau bisa menjadi apa saja, dan bisa tak menjadi apa saja.

Kau menyanyanggi ibumu, dan kau tak begitu menyukai Februari !!.

Sejarah Kecil

(Ulasan buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha, karya Linda Christanty)

Bumi kita hanya titik lebam biru pucat [luka]di tengah alam semesta,
tapi di sana segala dendam, cemburu, dengki, sakit hati, perang, dusta berlangsung dengan gilanya.
–Carl Sagan on Pale Blue Dot: A Vision on the Human Future in Space–

Linda Christanty adalah sebuah perjalanan. Dia adalah potret perempuan penulis yang terlibat. Seorang yang terus berjalan dan mencatat: mengabadikan. Tentang kehilangan, ajakan menanggungnya, bersama permintaan maaf kepada siapa pun yang mengalaminya, dan pesan perdamaian (hlm.66). Begitulah salah satu paragraf di esai Seekor Burung Kecil Biru di Naha yang kemudian menjadi judul buku Linda.

insula-dulcamara-by-paul-klee

(Insula Dulcamara by Paul Klee)

Continue reading