Buruh dan Cinta yang Dibunuh (Tentang Nasib Perempuan Lesbi Mantan Buruh Migran di Hongkong, Sekembalinya dari Victoria Park)

Ia tertunduk karena salah, gentar, patuh mengecam diri

Dan akhirnya boleh juga, ia dimanja sekali-kali

__Toeti Heraty N, Sajak : Manifesto__

fullsizeoutput_d0

Lebaran tahun 2015 ia pertama kali melihat kembali kampung halamannya. 4   ia menjadi buruh di Hongkong, dan tidak akan pulang sebelum adiknya lulus pendidikan tinggi.

“Aku tidak akan kembali lagi ke Hongkong, semua hal yang berhubungan dengan Hongkong harus dihapus” begitu katanya dengan bahasa Jawa kasar (ngoko).

Continue reading

Jalan Lain ke Yang-Liyan: Ruang Gelap dan Suara Kertak Gigi

sergius4dlmDalam puisi orang bisa tak peduli, tapi sekaligus peduli. Tak peduli pada apa pun, tetapi sekaligus amat peduli (pada diri sendiri). Orang mungkin akan menyebut ini sebagai selemah-lemahnya kepedulian. Bahasa Jawa punya lema kata yang muatan psikolinguistik-nya lebih bisa menegaskan kondisi itu —tenguk-tenguk, posisi pasif tetapi aktif. Diam sekaligus perhatian, siaga dan berjaga-jaga, kuda-kuda kepeduliannya justru dirawat dari sudut   paling sepi: dirinya sendiri.

Continue reading

Kesedihan Kontemporer

fullsizeoutput_d0

Setelah menghabiskan teh dengan sedikit terburu-buru perempuan itu tidak jadi masuk kantor. Sebagai pramusaji di sebuah cafe kecil di pinggir kota pekerjaan itu begitu ia nikmati. Sesekali masih bisa melihat beberapa lelaki yang mampir ke kedainya. Menghitung berapa prosentase yang membuatnya mungkin pantas berkenalan dengan seorang laki-laki yang memesan Cappucino
. Hidupnya tinggal soal hitung-menghitung kemungkinan-kemungkinan yang dalam bayangannya akan membuat segalanya lebih baik.

Yang ini mungkin…ah yang itu tidak mungkin…ahhh yang dipojok sana lebih menarik…ah tapi itu tidak mungkin. Isi kepalanya dari waktu ke waktu kusut, berbelit-belit.

Seorang menghampirinya tapi ia masih sibuk dengan seorang lagi di ujung sana yang tak menghampirinya, atau kecil sekali prosentase untuk menghampirinya. Dan dalam kisah ini perempuan itu bukan tokoh utama, jadi kita biarkan saja ia sibuk dengan taksiran, dan hitungan yang mungkin ia buat sendiri, atau memang hidupnya tinggal soal hitung-menghitung. Membayangkan angka-angka bisa begitu sempurna sementara ia hanya pramusaji di sebuah cafe pinggir kota, dan di sini ia bukan tokoh utama

Continue reading