Jalan Lain ke Yang-Liyan: Ruang Gelap dan Suara Kertak Gigi

sergius4dlmDalam puisi orang bisa tak peduli, tapi sekaligus peduli. Tak peduli pada apa pun, tetapi sekaligus amat peduli (pada diri sendiri). Orang mungkin akan menyebut ini sebagai selemah-lemahnya kepedulian. Bahasa Jawa punya lema kata yang muatan psikolinguistik-nya lebih bisa menegaskan kondisi itu —tenguk-tenguk, posisi pasif tetapi aktif. Diam sekaligus perhatian, siaga dan berjaga-jaga, kuda-kuda kepeduliannya justru dirawat dari sudut   paling sepi: dirinya sendiri.

Continue reading

NASIB FEBRUARI SETELAH HUJAN DI SEBUAH CAFE PINGGIR KOTA

6925429769_27aae4d9bf_z.jpg

Kau tak begitu menyukai Februari. Di sepanjang angka-angka harinya, masih menyembunyikan tahun baru. Rasanya Januari begitu panjang, lekat pada keganjilan, 28 Februari. Di tubuhnya angka serasa tidak sampai terbaca, ganjil dan tak genap.

Februari bisa hilang di sebuah cafe pinggir kota. Keramaian dan jejal jalanan seperti disaring, dan di sini hanya ada ampas-ampas. Orang-orang yang bercanda dengan ataupun tanpa ketawa.

Setelah hujan di cafe pinggir kota mungkin kau akan menyesali Februari. Tidak begitu sunyi, atau sunyi telah sedikit tercemar hiruk-pikuk kota. Sunyi yang sampurna tak pernah bear-benar bersih, hening; dia menyimpan suara. Kau memesan susu putih, sedikit sirup, tanpa gula.

Ramuan terbaik untuk menunggu adalah sebatang rokok. Sampai akhirnya terganggu seorang pengemis yang tiba tiba mengulurkan tanggan di depanmu.

Tidak ada tempat bersembunyi. Hanya di cafe pinggir kota dunia tertapis, keramain bisa dipilih dalam beberapa fariasi. Sedikit suara tertawa atau jejak langkah orang yang tak kau kenal tapi melempar senyuman. Begini rasanya Februari dalam bayang-bayang Januari yang berputar-putar dalam kepala.

Menginggat dengus nafas terakhir ketika kau mencumbu seorang yang baru kau kenal beberapa jam yang lalu. Tanpa berpikir panjang tentunya, dan kau tahu ini Februari.

Belajar membenci percumbuan yang tak sakral. Belajar mengigit bibir sendiri, dan tahu tidak ada kegilaan macam ini akan terulang lagi.

Mungkin kau butuh mengatur segalanya dari awal. Iya dari awal. Sebelum kau mengacaukan dirimu sendiri dan tak menyesali kekacauan itu. Sejenis kerusakan yang tetap kau sebut tata.

Kekacauan adalah tata yang notasinya asing. Kau masih saja membela diri. Di cafe pinggir kota ini setelah hujan, kau belajar memberi nama untuk keasingan.

Apa yang dirindukan oleh seorang yang duduk di cafe pinggir kota? Mungkin sesuatu yang tertib, atau kekacauan yang menyenangkan. Entah apapun itu; di sini kau bisa menjadi apa saja, dan bisa tak menjadi apa saja.

Kau menyanyanggi ibumu, dan kau tak begitu menyukai Februari !!.

Dirimu dalam sebuah drama atau drama dalam dirimu

Lusa di kantor arsip kamu menemukan transkrip dialog Lucien Carr, Allen Ginsberg, Jack Kerouac:

tumblr_o079ayDSAB1u75b1po1_500.jpg

Kamu menginggat beberapa bagiannya dengan baik. Malam ini kamu merasa capek. Belum selesai semua agenda; mengembalikan minat becamu. Siang hari kamu mau menanam Pohon anggrek: layu, memecahkan genteng, memasukkannya pada mangkuk. Sore hari ingin tidur tapi harus datang diskusi. soal moralitas menyebalkan, sebab kamu menginggat dengan baik perkara Allen.

Continue reading