Membebaskan Para Katak: Melampaui Lokalisme Gombal, Membingkai Solidaritas Global (Ulasan Memoar Benedict Anderson, A Life Beyond Boundaries)

12592471_10153797888036390_946617473828254776_n.jpgApakah sebuah kotak mampu menjerat sosok Benedict Anderson? Entah mampu atau tidak, kita akan coba dulu bermain (meng)kotak-kotakan. Kotak awal yang kita sepakati sebelum mulai bermain adalah bahwa Benedict Anderson harus dimasukkan dalam kotak:   pakar nasionalisme. Tapi semenjak 2009 permainan kotak-kotakan untuk menjerat kaki-kaki Ben bisa gagal atau paling tidak jadi sebuah permainan yang sia-sia dan tak mengasikkan. Padahal orang bermain tentu untuk mencari keasikan. A Life Beyond Boundaries menunjukkan dengan didaktik dan asik bahwa cowok yang sering menulis surat korespondensi nakal dengan mahasiswa seumur hidup Pipit Rochiyat itu tak suka tempurung apalagi kotak. Jangan coba menjeratnya, sebab kita bisa terjebak dalam permainan yang tak lagi asik. A Life Beyond Boundaries (2016), menegaskan sosok Ben tak bisa dikurung sebagai teoretikus nasionalisme. Lebih dari itu, Benedict Anderson adalah seorang internasionalis.

Continue reading

Sejarah Kecil

(Ulasan buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha, karya Linda Christanty)

Bumi kita hanya titik lebam biru pucat [luka]di tengah alam semesta,
tapi di sana segala dendam, cemburu, dengki, sakit hati, perang, dusta berlangsung dengan gilanya.
–Carl Sagan on Pale Blue Dot: A Vision on the Human Future in Space–

Linda Christanty adalah sebuah perjalanan. Dia adalah potret perempuan penulis yang terlibat. Seorang yang terus berjalan dan mencatat: mengabadikan. Tentang kehilangan, ajakan menanggungnya, bersama permintaan maaf kepada siapa pun yang mengalaminya, dan pesan perdamaian (hlm.66). Begitulah salah satu paragraf di esai Seekor Burung Kecil Biru di Naha yang kemudian menjadi judul buku Linda.

insula-dulcamara-by-paul-klee

(Insula Dulcamara by Paul Klee)

Continue reading

Anthropic Principle: Tentang Kosmos, Manusia, dan Daya Pemahamannya

v1_Cosmos_001_-nyito.jpg

Brandon Carter mengajukan prinsip antropik untuk menangani munculnya berbagai model alam semesta yang secara fisika-matematis sahih, tetapi tidak memungkinkan di ilustrasikan adanya kehidupan dalam model tersebut. Singkatnya,model tepat secara matematis tetapi menjadi kacau ketika kita memasukkan manusia sebagai subjek berkesadaran di dalamnya. Olehnya kehidupan tidak dimungkinkan ada. Prinsip antropik adalah upaya penerimaan atas ada-nya cakrawala a priori dalam kepemahaman atas kosmos.

Melalui artikel “Anthropic Principle in Cosmology” Carter ingin menjelaskan kembali prinsip antropik yang ia usulkan pada 1970an , sebab setelah itu banyak sekali tafsir yang berkembang secara bebas terkait dengan pemahaman atas prinsip antropik sebagai azas metodologis dalam peneyelidikan kosmos. Ada yang menafsirkan prisip “antropik” tidak intrinsikketat dalam kosmos, tetapi hanya relevan pada skala kecil di tingkatan global. Dalam retrospeksinya Carter tidak yakin bahwa terminologi yang ia pilih tepat, tetapi karena sekarang telah diambil secara luas dan terlambat untuk mengubahnya.

Memang istilah “prinsip antropik” menjadi sangat populer karena telah menggambarkan ide-ide (misalnya sifat teleologis alam semesta: seolah dirancang untuk jenis kehidupan “prinsip finalitas”) yang berbeda bahkan bertentangan dengan apa yang dimaksudkan Carter pada awalnya. Pada Juni 2004 dalam sebuah kolokium di Paris, Carter menulis sebuah artikel ,“ANTHROPIC PRINCIPLE IN COSMOLOGY” untuk melakukan koreksi atas berbagai versi penafsiran prinsip antropik yang muncul setelah 1970. Koreksinya hanya kilas soal tujuan awal introduksi prinsip ini pada wacana kosmologi.

Continue reading