Emosi, Kolonisasi, dan Sirkulasi Warna Kulit Lintas Benua

66025_4553570429962_987491947_n.jpg

Menjadi putih seolah impian setiap orang yang kini dengan mudah dapat tercapai sebab menjamurnya produk perawatan kecantikan. Fenomena tersebut bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Keinginan menjadi putih mempunyai jejak historis yang panjang, dari masa prakolonial, kolonial, revolusi kemerdekaan, hingga hari ini. Buku Putih: Warna Kulit, Ras, dan Kecantikan di Indonesia Transnasional (Marjin Kiri, Juli 2017) karya L. Ayu Saraswati menyajikan pelacakan historis-genealogis atas beredarnya imaji tentang warna kulit putih, yang serempak diikuti keinginan untuk mengubah warna kulit.

1*0EYsxOnPzezbsJd9D3IUdA.jpegBertolak dari pengandaian bahwa; narasi sejarah diuntai melalui rasa. Narasi sejarah kolonialisme dan perbudakan bisa memicu amarah kita; kisah-kisah kebebasan dan kemerdekaan dapat membangkitkan keberanian dan harapan kita.  Bertolak dari asumsi tersebut, Ayu (hlm.24) kemudian mengajukan pertanyaan: bagaimanakah afek ikut membentuk sejarah? Pertanyaan itu menjadi dasar analisisnya melacak proses sirkulasi warna kulit, ras, dan kecantikan. Continue reading

Advertisements

Non-Spesifik: Tentang “Aku” yang Tak Bisa Terkatakan, Telah Dikatakan oleh yang Bukan Aku

 

for blog - non-spesifik ilustraSeperti biasanya, saya tidak punya rutinitas membeli buku puisi, juga bukan pengemar “berat” puisi. Non-Spesifik saya beli karena sebelumnya saya telah mengikuti tulisan-tulisan Anya di website pribadinya. Yang jelas, sekali waktu ketika jenuh dengan banyak hal, saya membaca puisi, atau membaca laman wordpress beberapa penulis yang saya ikuti. Non-Spesifik datang pada saya dalam alur seperti itu. Menyela rutinitas menjemukan kehidupan urban, mengajak menikmati sekitar, merasai getir yang biasanya sengaja dilupakan dalam setiap perjalanan.

Non-Spesifik bisa bicara banyak hal. Setelah membaca beberapa kali saya pikir buku Gratiagusti Chanaya Rompas ini bukan buku kumpulan puisi dalam pengertian konvensional. Anya seolah ingin menjadikan setiap peristiwa sebagai pengalaman puitik. Kegelisahan akan banyak hal. Keinginan untuk menuliskan banyak hal; yang bisa dikatakan, maupun yang tak bisa dikatakan. Jika penyair perempuan Toeti Heraty punya frasa amuk badai antara insan, Non-Spesifik bisa menambahi dengan amuk badai dalam insan.

Terbagi dalam tiga episode, Non-Spesifik membuka episode I dengan: deru yang risau, menganggu tidurmu, atau apalah itu yang kini menghuni kolong ranjangmu. Episode I adalah jaringan rumit yang tertenun dari banyak peristiwa dalam kepala Anya; amuk badai dalam insan. Anya tidak hanya memancingmu masuk dalam kolong gelap di bawah tempat tidurnya, tapi juga masuk dalam kolong tempat tidur orang-orang disekitarnya; amuk badai antara insan.

***

Continue reading

Membebaskan Para Katak: Melampaui Lokalisme Gombal, Membingkai Solidaritas Global (Ulasan Memoar Benedict Anderson, A Life Beyond Boundaries)

12592471_10153797888036390_946617473828254776_n.jpgApakah sebuah kotak mampu menjerat sosok Benedict Anderson? Entah mampu atau tidak, kita akan coba dulu bermain (meng)kotak-kotakan. Kotak awal yang kita sepakati sebelum mulai bermain adalah bahwa Benedict Anderson harus dimasukkan dalam kotak:   pakar nasionalisme. Tapi semenjak 2009 permainan kotak-kotakan untuk menjerat kaki-kaki Ben bisa gagal atau paling tidak jadi sebuah permainan yang sia-sia dan tak mengasikkan. Padahal orang bermain tentu untuk mencari keasikan. A Life Beyond Boundaries menunjukkan dengan didaktik dan asik bahwa cowok yang sering menulis surat korespondensi nakal dengan mahasiswa seumur hidup Pipit Rochiyat itu tak suka tempurung apalagi kotak. Jangan coba menjeratnya, sebab kita bisa terjebak dalam permainan yang tak lagi asik. A Life Beyond Boundaries (2016), menegaskan sosok Ben tak bisa dikurung sebagai teoretikus nasionalisme. Lebih dari itu, Benedict Anderson adalah seorang internasionalis.

Continue reading