Non-Spesifik: Tentang “Aku” yang Tak Bisa Terkatakan, Telah Dikatakan oleh yang Bukan Aku

 

for blog - non-spesifik ilustraSeperti biasanya, saya tidak punya rutinitas membeli buku puisi, juga bukan pengemar “berat” puisi. Non-Spesifik saya beli karena sebelumnya saya telah mengikuti tulisan-tulisan Anya di website pribadinya. Yang jelas, sekali waktu ketika jenuh dengan banyak hal, saya membaca puisi, atau membaca laman wordpress beberapa penulis yang saya ikuti. Non-Spesifik datang pada saya dalam alur seperti itu. Menyela rutinitas menjemukan kehidupan urban, mengajak menikmati sekitar, merasai getir yang biasanya sengaja dilupakan dalam setiap perjalanan.

Non-Spesifik bisa bicara banyak hal. Setelah membaca beberapa kali saya pikir buku Gratiagusti Chanaya Rompas ini bukan buku kumpulan puisi dalam pengertian konvensional. Anya seolah ingin menjadikan setiap peristiwa sebagai pengalaman puitik. Kegelisahan akan banyak hal. Keinginan untuk menuliskan banyak hal; yang bisa dikatakan, maupun yang tak bisa dikatakan. Jika penyair perempuan Toeti Heraty punya frasa amuk badai antara insan, Non-Spesifik bisa menambahi dengan amuk badai dalam insan.

Terbagi dalam tiga episode, Non-Spesifik membuka episode I dengan: deru yang risau, menganggu tidurmu, atau apalah itu yang kini menghuni kolong ranjangmu. Episode I adalah jaringan rumit yang tertenun dari banyak peristiwa dalam kepala Anya; amuk badai dalam insan. Anya tidak hanya memancingmu masuk dalam kolong gelap di bawah tempat tidurnya, tapi juga masuk dalam kolong tempat tidur orang-orang disekitarnya; amuk badai antara insan.

***

Continue reading

Advertisements

Ia ingin sekali menebak apa yang ada: tersisa, terkenang dalam tubuh seorang perempuan tua yang duduk membungkuk di depannya. Kulit kriput dan rangka pungung yang bahkan tak bisa tegak menyangga badannya. Adakah lipatan-lipatan usia yang mengurat kulitnya menyisakan sesuatu dari masa lalu untuk dipikirkannya. Misalnya, tentang pengalaman pertama bersetubuh atau tentang kematian-kematian yang beberapa kali mampir di kelopak matanya. Atau tentang apapun itu yang masih tersisa dari tubuh lemahnya.

Ia tau tubuhnya akan sampai pada usia yang tak bisa dikendalikannya lagi. Ia tak akan lagi direpotkan dengan keinginan memilih celana dengan potongan kain terbaik, atau kemeja dengan lipatan lengan yang bisa merekayasa otot-ototnya yang mengelambir karena tak pernah berolaraga agar terlihat padat memikat.

Ia ingin mengenali degan benar tubuhnya.

Tubuh perempuan tua itu membuatnya mecemooh ingatannya sendiri tentang suatu waktu ketika seseorang mengajarinya cara memilih kemeja yang bisa menyembunyikan lipatan-lipatan lemaknya. Tubuh perempuan itu membuatnya membenci bahwa tubuhnya pernah berusaha untuk terlihat segar selepas berhari-hari tidak tidur. Ia dan tubuhnya pernah ingin sekali mengilangkan noda-noda hitam bekas jerawat: memakai masker penutup muka sebab asap kenalpot mobil yang mengenai mukanya akan menumpuk menjadi kotoran tempat tumbuh subur jerawat-jerawatnya.

Di lapis epidermis kulit tubuhnya noda-noda emosional pernah terperangkap dan mungkin kini telah menyatu dengan daging, otot dan kelenjar-kelenjarnya. Kalau ia terluka ia ingin mengamati apakah benang-benang fibrin yang terbuat dari protein serat-serat yang tidak larut dalam plasma pada proses penggumpalan atau pembekuan darahnya adalah jaringan sel-sel yang benar-benar baru, sehingga noda-noda emosionalnya dari masa lalu bisa ditutup dan hidup seakan bisa dimulai dari awal lagi.

Ia tak ingin memori berubah menjadi jaringan-jaringan biologis yang mengangit tubuhnya. Ia ingin memori hanya soal kadar kewarasan, dan ia belajar; usia akan menurunkan kewarasannya dan ia bisa lupa. bisa lupa.

Gaya Sentrifugal

Untuk Lucien Caar, dan Jack Kerouac

IMG_4404

Hidup, mati, lahir kembali
Kau begitu percaya hidup terdaur dalam gerak melingkar
Semuanya cepat menjadi putih
Seperti bekas luka; kering dan kelupas

“ Apa yang kau cari, selain mengikuti jejakmu sendir”

Melihat, merasakan, semuanya membekas
Tubuh-tubuh suci mengalir dalam darahmu

Kau tak bercinta dengan para peri
Kau juga bukan malaikat yang tahan tusukan duri

“Hidup hanya begini-begini, kau boleh pergi”

Rumah adalah pagi yang tak disekat suara bayi
Melepas
Memberi

Sesobek foto tiga orang yang selalu muda

“Tanah ini bukan dongeng” kata Ginsy
Membagi
Menyatu

“Kita akan jadi hantu di tubuh-tubuh itu” katamu
“Aku akan menulis puisi-puisi agar terlahir kembali”

Kita sama dungu soal bagaimana cinta harus dibagi
“ Aku hanya ingin mati, suci, dan terlahir kembali”

Puisi tiba-tiba hanya putih
Hanya putih