Membebaskan Para Katak: Melampaui Lokalisme Gombal, Membingkai Solidaritas Global (Ulasan Memoar Benedict Anderson, A Life Beyond Boundaries)

12592471_10153797888036390_946617473828254776_n.jpgApakah sebuah kotak mampu menjerat sosok Benedict Anderson? Entah mampu atau tidak, kita akan coba dulu bermain (meng)kotak-kotakan. Kotak awal yang kita sepakati sebelum mulai bermain adalah bahwa Benedict Anderson harus dimasukkan dalam kotak:   pakar nasionalisme. Tapi semenjak 2009 permainan kotak-kotakan untuk menjerat kaki-kaki Ben bisa gagal atau paling tidak jadi sebuah permainan yang sia-sia dan tak mengasikkan. Padahal orang bermain tentu untuk mencari keasikan. A Life Beyond Boundaries menunjukkan dengan didaktik dan asik bahwa cowok yang sering menulis surat korespondensi nakal dengan mahasiswa seumur hidup Pipit Rochiyat itu tak suka tempurung apalagi kotak. Jangan coba menjeratnya, sebab kita bisa terjebak dalam permainan yang tak lagi asik. A Life Beyond Boundaries (2016), menegaskan sosok Ben tak bisa dikurung sebagai teoretikus nasionalisme. Lebih dari itu, Benedict Anderson adalah seorang internasionalis.

Continue reading

NASIB FEBRUARI SETELAH HUJAN DI SEBUAH CAFE PINGGIR KOTA

6925429769_27aae4d9bf_z.jpg

Kau tak begitu menyukai Februari. Di sepanjang angka-angka harinya, masih menyembunyikan tahun baru. Rasanya Januari begitu panjang, lekat pada keganjilan, 28 Februari. Di tubuhnya angka serasa tidak sampai terbaca, ganjil dan tak genap.

Februari bisa hilang di sebuah cafe pinggir kota. Keramaian dan jejal jalanan seperti disaring, dan di sini hanya ada ampas-ampas. Orang-orang yang bercanda dengan ataupun tanpa ketawa.

Setelah hujan di cafe pinggir kota mungkin kau akan menyesali Februari. Tidak begitu sunyi, atau sunyi telah sedikit tercemar hiruk-pikuk kota. Sunyi yang sampurna tak pernah bear-benar bersih, hening; dia menyimpan suara. Kau memesan susu putih, sedikit sirup, tanpa gula.

Ramuan terbaik untuk menunggu adalah sebatang rokok. Sampai akhirnya terganggu seorang pengemis yang tiba tiba mengulurkan tanggan di depanmu.

Tidak ada tempat bersembunyi. Hanya di cafe pinggir kota dunia tertapis, keramain bisa dipilih dalam beberapa fariasi. Sedikit suara tertawa atau jejak langkah orang yang tak kau kenal tapi melempar senyuman. Begini rasanya Februari dalam bayang-bayang Januari yang berputar-putar dalam kepala.

Menginggat dengus nafas terakhir ketika kau mencumbu seorang yang baru kau kenal beberapa jam yang lalu. Tanpa berpikir panjang tentunya, dan kau tahu ini Februari.

Belajar membenci percumbuan yang tak sakral. Belajar mengigit bibir sendiri, dan tahu tidak ada kegilaan macam ini akan terulang lagi.

Mungkin kau butuh mengatur segalanya dari awal. Iya dari awal. Sebelum kau mengacaukan dirimu sendiri dan tak menyesali kekacauan itu. Sejenis kerusakan yang tetap kau sebut tata.

Kekacauan adalah tata yang notasinya asing. Kau masih saja membela diri. Di cafe pinggir kota ini setelah hujan, kau belajar memberi nama untuk keasingan.

Apa yang dirindukan oleh seorang yang duduk di cafe pinggir kota? Mungkin sesuatu yang tertib, atau kekacauan yang menyenangkan. Entah apapun itu; di sini kau bisa menjadi apa saja, dan bisa tak menjadi apa saja.

Kau menyanyanggi ibumu, dan kau tak begitu menyukai Februari !!.

8 Jalan Mencapai Kebahagiaan Kudus menurut Allen Ginsberg

allen ginsberg naked.jpg

Hidup digelar dua babak. Keduanya tak berhubungan. Siapa membuka babak pertama: seorang berwajah ceria, mudah bergaul dan jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang kerapkali tak penting. Misinya tinggal merasai sesuatu yang berubah: sambil mengingat adegan-adegan di babak pertama. “Semuanya menjadi sepela saja”, Kata siapa, musti mengenal orang lain lewat cara baru. Kejadian-kejadian dirangkai narasi epik, pokoknya semua harus sepele dan biasa saja. Tidak bisa, cara baru mesti heroik, dan untuk apa semua yang sepele saja ini masih dijalani. Sejak merasai bahagia jingkat-jingkat bersama, sambil menoleh ke botol-botol yang tak boleh kosong, sampai sloki tak terhitung, masih saja ada yang bilang ini sepele saja. Continue reading