Gaya Sentrifugal

Untuk Lucien Caar, dan Jack Kerouac

IMG_4404

Hidup, mati, lahir kembali
Kau begitu percaya hidup terdaur dalam gerak melingkar
Semuanya cepat menjadi putih
Seperti bekas luka; kering dan kelupas

“ Apa yang kau cari, selain mengikuti jejakmu sendir”

Melihat, merasakan, semuanya membekas
Tubuh-tubuh suci mengalir dalam darahmu

Kau tak bercinta dengan para peri
Kau juga bukan malaikat yang tahan tusukan duri

“Hidup hanya begini-begini, kau boleh pergi”

Rumah adalah pagi yang tak disekat suara bayi
Melepas
Memberi

Sesobek foto tiga orang yang selalu muda

“Tanah ini bukan dongeng” kata Ginsy
Membagi
Menyatu

“Kita akan jadi hantu di tubuh-tubuh itu” katamu
“Aku akan menulis puisi-puisi agar terlahir kembali”

Kita sama dungu soal bagaimana cinta harus dibagi
“ Aku hanya ingin mati, suci, dan terlahir kembali”

Puisi tiba-tiba hanya putih
Hanya putih

Advertisements

Nationalism, Ethnicity and Non-Westren Societies (terjemahan preface Kevin Anderson pada edisi kedua Marx and Margin)

Enam tahun sejak buku ini terbit, penerimaan dari khalayak di berbagai penjuru tempat sepertinya menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama penulisan buku ini mungkin telah tercapai. Untuk memberikan gambaran tentang sosok Karl Marx sebagai pemikir yang tidak hanya mengkhususkan teorinya tentang kapitalisme dan kehidupan masyarakat Barat modern. Akan tetapi, juga pemikir yang mencurahkan perhatian mendalamnya pada persoalan kehidupan masyarakat non-Barat beserta corak produksi pra-kapitalis di dalamnya yang bersifat mandiri dan tidak bisa dideterminasi di bawah hegemoni perkembangan kehidupan masyarakat Barat. Berdasarkan pemahaman atas tujuan seperti itu, buku ini juga sebuah upaya untuk memberikan argumentasi tanding atas tesis bahwa Marx adalah pemikir yang terjebak pada kerangka dan sudut pandang sempit zamannya –pertengahan abad 19-, sehingga kecenderungan pemikirannya bercorak Eurosentris. Olehnya, tidak dapat berbicara banyak tentang persoalan-persoalan kontemporer yang timbul setelah zamannya, misalnya: ketidakadilan gender, problem ras, dan kolonialisme. Saya melihat bahwa argumentasi seperti itu tidak hanya bisa kita baca dalam misalnya karya Orientalism Edward Said, tetapi juga bentuk karya yang secara spesifik lebih filosofis, seperti karya Michael Foucault. Tentang hal tersebut tulis Foucault: “Marxism exists in nineteenth-century thought like a fish in water; that is, it is unable to breathe anywhere else” ([1970] 1966, p. 262).

Continue reading

Jalan Lain ke Yang-Liyan: Ruang Gelap dan Suara Kertak Gigi

sergius4dlmDalam puisi orang bisa tak peduli, tapi sekaligus peduli. Tak peduli pada apa pun, tetapi sekaligus amat peduli (pada diri sendiri). Orang mungkin akan menyebut ini sebagai selemah-lemahnya kepedulian. Bahasa Jawa punya lema kata yang muatan psikolinguistik-nya lebih bisa menegaskan kondisi itu —tenguk-tenguk, posisi pasif tetapi aktif. Diam sekaligus perhatian, siaga dan berjaga-jaga, kuda-kuda kepeduliannya justru dirawat dari sudut   paling sepi: dirinya sendiri.

Continue reading